
Setelah menghabiskan 3 gelas puding, Ian menaiki tangga. Hah, kalau tiap hari ia memasak untukku, aku bisa gemuk, ini. Berat badanku bisa naik. Ian menepuk-nepuk perutnya karena lambungnya terasa dingin sehabis makan puding tadi.
Ian memasuki kamar. Dilihatnya sang istri tengah terbaring tidur di atas tempat tidur. Tanpa suara ia mendatangi sisi yang satunya dan naik ke atas tempat tidur.
Ia baru menyadari istrinya telah melepas jilbab dan kacamatanya. Rambutnya yang panjang bergelombang terurai indah memenuhi bantal. Lama ia menatap wajah itu, terkesima melihat keindahan wanitanya dari dekat dan rasa penasarannya terus menghampiri. Ia mendekati wajah wanita itu dan menyentuhnya di pipi.
Wanita itu bergeming.
Kembali pria itu menyentuh pipinya tapi Noura tak bergerak, malah kini terdengar dengkuran halus dari mulut. "Noura." Setengah berbisik.
Hening.
"Noura," ucap pria itu lagi pelan, memastikan.
Tak ada respon dari tubuh wanita itu.
Ian tersenyum. Pelan tapi pasti ia mendekati wajah wanita itu dan ....
Cup!
Ia mengecup bibir istrinya. Ian kembali tersenyum. "Terima kasih, Sayang. Kau buatkan aku makanan yang aku suka." Menatap sebentar. "Kau sangat manis jadi kucium." Pria itu tersenyum simpul dan kemudian mencium kening istrinya lalu menepikan rambut dekat telinga.
"Tapi sayang, kau kembaran Vika, jadi balas dendamku belumlah usai," ucapnya dengan wajah dingin.
Pria itu kemudian kembali ke tempatnya dan mulai menutupi tubuhnya dengan selimut.
------------+++------------
"Mas."
"Mmh."
Vika melirik suaminya yang masih asyik dengan HP-nya. Ia mengerucutkan mulutnya. "Mas!"
Pria itu terpaksa mengalihkan pandangan pada Vika. "Apa Sayang?"
"Kamu, apa gak bisa buka usaha baru, gitu?"
"Usaha apa?"
"Apa kek, yang bisa cepat kaya."
Deni tersenyum. "Apa kamu mau kerja? Punya bisnis sendiri?"
"Ih, bukan gitu Mas ...." Vika kesal, suaminya tak kunjung mengerti.
"Apa?"
"Ya Mas usaha dong Mas, agar kita lebih kaya," protes wanita cantik itu.
"Lho, kita kan sudah cukup kaya. Apa uang bulananmu kurang, iya?" tanya pria itu lembut.
"Bukan gitu Mas. Aku kalah pamor sama Noura. Dia menikah dengan anak milyuner. Suatu saat bila ayah suaminya itu pensiun, suaminya itu yang akan menggantikan ayahnya mengurus semua perusahaannya."
"lalu?"
Vika memperlihatkan wajah sebalnya. "Noura itu selalu di bawahku, selalu jadi bayang-bayangku. Tidak pernah ada 'kan bayangan yang mendahului matahari, iya 'kan?!!"ucap wanita itu semakin kesal.
"Oh," jawab Deni santai. "Dia 'kan saudaramu, masa harus bersaing hal-hal seperti itu dengan saudaramu sendiri. Kalau bersaing sehat sih tidak apa-apa, tapi kalau soal bisnis aku hanya tahu soal supermarket ini karena aku mendapatkannya juga dari orang tua jadi kalau mau mulai bisnis baru juga harus diperhitungkan lagi dan dipelajari."
"Ya sudah, buat saja! Kenapa harus berbelit-belit sih!"
"Masalahnya untuk usaha baru, aku belum ingin investasi."
Vika mengepalkan tangan di depan wajah saking gemasnya hingga gemetar. "Kenapa tidak dilakukan saja sih, Mas! Kalau begini terus, kita kapan kayanya?"
"Apa kurang yang sudah aku berikan padamu?"
Vika bangun dari tidurnya. "Kalau dibanding dengan yang Noura dapatkan, ya kalah jauh lah Mas! Suaminya itu anak milyuner. MILYUNER!!! Setidaknya, setara dengan mereka, baru cukup."
"Ya tidak lah!" Mulut wanita itu mengerucut, ngambek.
"Ya sudah, nanti aku lihat-lihat lagi, bisnis apa yang cocok untuk dicoba, ok?" Pria itu bangun dan melingkarkan tangan di bahu istrinya lalu menariknya ke pelukan. "Sekarang sudah malam, kita tidur ya?"
Vika menurut. Setidaknya pria itu sudah memadamkan semangat ingin pamer istrinya saat itu. Entah besok.
---------+++--------
Noura pagi sekali sudah bangun dan sholat Shubuh. Ian terbangun, melihat kegiatan istrinya sebentar lalu bangkit dari tempat tidur. Setelah usai berwudhu, ia mendapati istrinya telah pergi. Sepertinya ke dapur. Ian selepas sholat, kembali tidur.
Agak siang, Ian tiba-tiba muncul di dapur dengan pakaian rapi. Semua orang yang ada di dapur menoleh pada bule tampan pemilik rumah itu. "Eh, coba sini, yang mana yang jadi Nyonya rumahnya?" candanya dengan wajah serius.
Semua wanita yang ada di dapur menoleh ke arah Noura. Wanita itu melangkah maju. "Kamu cari aku Ian?" Ia menunjuk wajahnya dengan melongo.
"Ah ya, sini." Pria itu memanggil dengan tangannya.
Noura mendatanginya. Saat mendekat, pria itu menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan. Ia mengusap pelan pipi istrinya yang terkena tepung. Wanita itu terkejut dengan perhatian yang diperlihatkan pria itu. "Tubuhmu kotor sekali, upik abu. Sudah saatnya kau berubah. Kau tak sadar, sebentar lagi keluargamu akan datang? Jadi, mandilah. Berubahlah jadi Cinderella dan sambut mereka."
Para pembantu di sana malah tersenyum mendengar ucapan Ian, bahkan iri pada Noura.
"Tapi pekerjaanku ...." Noura tak bisa memalingkan wajah karena tangan pria itu menahannya.
"Mmh, mmh, mmh, sebentar," ucap pria itu pada istrinya. Ia menoleh pada para pembantunya. "Apa kalian bisa menyelesaikan sisanya tanpa kehadiran Nyonya di sini?" tanyanya serius.
"Oh, bisa Tuan."
"Iya Tuan."
Yang lain mengangguk.
"Jangan lupa rapikan meja makan."
"Iya Tuan."
"Baik Tuan."
"Eh, tunggu dulu ...." Belum selesai Noura bicara Ian sudah menarik lengannya keluar.
Di luar dapur, pria itu berbisik padanya. "Hari ini aku akan memujamu jadi lakukan apa yang kuminta, mengerti!" Pria itu terus mengawal Noura hingga ke kamar.
Mau tak mau Noura mengikuti perintah suaminya. Ia mengambil handuk dan pakaian yang akan dikenakan dan melepas jilbab instannya. Semua itu dalam pengawasan suami.
"Jangan lama-lama ya? Aku tidak mau menyambut keluargamu sendirian."
"Iya," jawab wanita itu sebelum masuk kamar mandi.
Selesai mandi, Noura mulai berdandan. Ia agak jengah karena suaminya memperhatikannya sejak tadi. "Aku dandan di kamar sebelah saja ya?"
"Untuk apa? Di sini saja cukup!" tegas Ian.
Wanita itu mengulung bibir bawahnya. Ia akhirnya menyisir rambut dan mengikat rambut panjangnya ke belakang.
Noura tidak mengetahui bahwa suaminya sangat mengagumi apa yang dilihatnya. Pria itu menikmati setiap gerak tubuh istrinya. "Eh, tunggu!"
Noura yang selesai memasang jilbabnya, terkejut. "Apa?" Ia menoleh.
"Jilbabmu agak miring."
"Masa?" Noura kembali bercermin tapi ia tidak melihat ada yang aneh dengan letak jilbabnya.
Pria itu sudah berdiri di sampingnya. Ia menarik wajah istrinya ke atas. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan jilbabnya hanya ia ingin menyentuh kepala istrinya saja. Ia pura-pura merapikan. "Sudah."
Noura kembali memandang wajahnya di cermin dengan mengerut alis. Apa kacamatanya sudah waktunya diganti? Ia tidak melihat ada masalah dengan dandannya saat itu tapi suaminya bisa melihatnya. Ia merapikan letak kacamatanya.
Terdengar ketukan di pintu. "Tuan, tamu sudah datang."