
"Noura!"
Wanita itu sudah masuk ke dalam lift, tapi Ian masih sempat menahan pintu lift agar tidak tertutup.
Pria itu menatap ke beberapa pegawainya yang ada di dalam lift. "Maaf, aku butuh privasi." Ia melirik Noura agar mereka mengerti.
Segera, tanpa disuruh dua kali para pegawai mengantri keluar dari lift membuat Noura semakin cemberut, dengan mudahnya Ian mengusir pegawainya.
Pria itu kemudian masuk dan menekan tombol menutup pintu lalu angka yang dituju dan kemudian menatap Noura. Ia melangkah mendekat sementara wanita itu mundur seraya menunduk.
"Noura, kenapa kau tak bilang kalau kau pulang? A-aku 'kan bisa menjemputmu." bujuk pria itu.
"Untuk apa? Agar aku tak melihat adegan tadi?" ledek Noura kesal. Sudut matanya sudah menggenang.
Padahal ia sudah berusaha menguatkan hati saat ingin masuk ke kantor itu, tapi melihat kejadian tadi, ia tak perlu bersusah payah lagi bersandiwara karena toh, hasil akhir yang diinginkan tetap sama, tapi entah kenapa kali ini ia ingin marah.
Kenapa begitu mudahnya suaminya tergoda kembarannya. Apa karena Vika cantik? Ya, tentu saja. Siapa yang tak bisa menolak Vika, gadis tercantik di manapun ia berada. Tidak seperti dirinya yang tampak seperti seorang kutu buku yang bila ada seekor lalat lewat, pastilah tak ingin singgah.
"Noura, kau salah. Aku suamimu, dan sudah seharusnya seorang suami menjemput istrinya pulang 'kan?" Dalam hati Ian bertanya-tanya, kenapa bodyguard-nya tidak memberitahunya? Kenapa Noura bisa lepas dari pengawasan bodyguard-nya?
Noura melengos ke samping.
"Lagipula aku juga baru datang, sama sepertimu, dan aku baru saja bertemu dengan Vika hingga kau datang ke kantorku. Kalau kau tak percaya, kau bisa tanya sekretarisku, Noura."
Wanita itu, yang sudah tak lagi dapat mundur, bergerak ke samping saat suaminya hampir menggapainya. Ia membelakangi suaminya. "Masalahnya, perjalanan jauh yang aku tempuh itu tidak ada gunanya, Bang. Maaf. Aku tetap pada pendirianku semula, aku ingin bercerai." Noura menahan tangis.
"Noura, tunggu. Jangan gegabah. A-apa tidak ada yang bisa dikompromikan? A-aku bisa berubah. Aku bisa berubah sesuai dengan keinginanmu. Coba katakan, Noura, aku harus apa?" Ian berusaha bernegosiasi dengan istrinya agar Noura mengurungkan niatnya tapi ....
"Sudah terlambat."
"Kenapa?"
Pintu lift terbuka. Noura meninggalkan Ian hingga pria itu kembali mengejarnya. Tiba-tiba istrinya itu mendekati seorang pria yang tengah berdiri di dekat situ. Ia melingkarkan tangannya pada lengan kokoh pria itu.
Ian terkejut. Pria itu adalah Ryan.
"Maaf, aku ingin bersamanya, jadi tolong, jangan ganggu aku lagi. Kirimkan saja surat cerainya ke rumah orang tuaku, aku mohon," pinta Noura tanpa menoleh.
Ian hanya melongo melihat Ryan membawa Noura keluar gedung. Ia tak tahu harus bereaksi apa.
Yang Ian tidak tahu, Noura menangis sepanjang perjalanan hingga Ryan harus menepikan mobil dan menenangkan wanita itu. Ia memberikan kotak tisu pada Noura.
Wanita itu mengambil beberapa lembar dan berusaha menghapus air matanya juga membersihkan kacamata yang telah berembun, tapi tangisnya belum reda.
"Apa keputusanmu sudah bulat untuk bercerai?"
"Tentu saja. Tanpa aku berusaha, ia sedang berduaan dengan wanita lain di ruang kerjanya."
"Mungkin itu teman kerjanya?"
"Tidak, sebab aku kenal perempuan itu dan dia memang jahaaat ...." Noura kembali menangis hingga butir-butir air matanya kembali berjatuhan. Ia tidak menyebut itu saudara kembarnya untuk melindunginya tapi tetap saja ia kesal.
"Lalu, apa yang kau tangisi. Kau sepertinya tidak menangis karena ingin bercerai tapi karena melihat suamimu dengan wanita lain. Iya 'kan? Ini sama saja dengan kamu cemburu."
"Tidak, aku tidak cemburuuu." Wanita itu masih saja menangis.
"Tapi Noura, itu tandanya kau masih mencintainya."
"Tidaaak, aku tidak ingin mencintainya karena ia selalu menyakitikuuu." Kembali Noura menangis.
"Apa dia menanggapi wanita itu?"
"Aku tidak tahuuu." Noura menghapus air matanya untuk kesekian kalinya.
Ryan menghela napas pelan. "Noura, apa kau tak coba ingin kembali?"
"Tidaaak, karena dia pasti takkan menerima kondisiku. Kondisi wanita yang cacat sepertiku. Sebelum ia menolakku, yang akan lebih menyakitkan lagi, lebih baik aku pergi sebelum ia tahu apa-apa tentang hal ini."
Noura menatap pria itu dengan mata basah dan membulat sempurna. "Apa kau mau menerima wanita cacat sepertiku?"
"Aku hanya punya cinta yang tulus untukmu. Cinta yang tak pernah berubah meskipun tahu kekuranganmu."
Noura kembali menangis.
---------+++---------
Ian kembali ke ruang kerjanya dengan kesal dan bertambah kesal karena Vika masih berada di sana. "Kenapa kau masih di sini?" ledeknya kesal.
"A-aku bisa jadi istri keduamu, Ian." Wanita itu masih memohon.
"Oh, begitu," ucap Ian pelan. "Dengar baik-baik. Manusia rendah sepertimu takkan pernah mengerti bahwa aku hanya ingin menikah dengan satu orang saja yaitu Noura. Mengerti?!! Nah, bila KAU MASIH TERTARIK DENGAN PRIA BERUANG YANG KAYA RAYA, KAU CARI SAJA DI LUAR SANA karena peluangmu denganku sudah tak ada. Nah, sekarang enyahlah dari hadapanku!!!" Pria itu membuka pintu dengan sedikit membantingnya.
Dengan senyum getir, Vika keluar dari ruangan itu. Ia sedang mengemis cinta tapi bukan cinta yang pada akhirnya diminta. Ia sedang mengemis mimpinya dan mimpi itu menjadikannya hina.
Sepeninggal Vika, Ian mengamuk di ruang kerjanya. Sepertinya beberapa barang di banting ke lantai hingga terdengar sampai ke meja sekretarisnya di luar.
Wanita itu bahkan tak berani masuk karena untuk pertama kalinya bosnya itu mengamuk di ruang kerjanya. Pria yang berkharisma tampan, ramah tapi galak itu belum pernah melakukan itu sebelumnya di kantor itu dan bagi sekretarisnya kejadian itu adalah kejadian yang sangat mengerikan yang pernah ada di sana.
----------+++--------
Pagi itu Ryan mendatangi Noura dikos-kosan barunya yang letaknya tak jauh dari rumah Ryan. Kos-kosan itu milik orang tua pria itu.
"Ryan?" Noura terkejut.
"Ini aku bawakan bubur buat sarapan. Bagaimana kalau kita makan berdua?" Ryan memperlihatkan bawaannya di tangan.
"Kau tidak sarapan di rumah?"
"Oh, orang tuaku 'kan berangkat ke Singapura waktu aku bertemu kamu di bandara."
"Oh, kamu lagi antar orang tua waktu itu?"
"Iya."
Keduanya kemudian duduk di beranda. Mereka sarapan bersama.
"Aku gak ke kantor ya?" terang Noura. "Aku lagi memikirkan melakukan pengobatan di Malaysia."
"Kenapa tidak di Jakarta saja? Sekarang pengobatan juga sudah canggih di sini. Lagipula aku bisa menemanimu." Ryan merapikan letak kacamatanya.
"Aku tidak ingin ketahuan suamiku."
Ryan hanya meliriknya.
------------+++-------------
Ian menutup teleponnya. Ternyata bodyguard-nya sakit selama di Mesir sehingga ia tidak mengetahui ketika Noura berangkat kembali ke Jakarta.
Ia sempat termenung sebentar karena ada satu hal yang ia harus bereskan sebelum ini mengganggu kehidupan pribadinya. Ian keluar dari kantor dan mengambil mobil. Ia memutuskan mendatangi tempat itu secara langsung.
------------+++----------
Pria itu sedang memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di atas meja ketika teleponnya berbunyi di sampingnya.
"Pak, ada tamu bule di sini Pak, mengaku ipar Bapak."
Ian? "Suruh ia masuk." Pria itu segera berdiri.
Pintu dibuka dan Ian masuk.
"Ian? Ada kabar apa ini?"
"Deni, aku ingin bicara padamu."