CEO And The Twins

CEO And The Twins
Masih



"Terima kasih Mbak. Istriku dari tadi ngambek terus, jadi aku bingung."


Mata Noura menyorot Ian. Mmh, mulai playing victim. Membuat semua orang percaya akulah yang jahat. Ia menghentikan makannya.


Ian segera menyadari. "Jangan gitu dong Sayang, aku 'kan jadi bingung lagi."


Noura diam seraya cemberut.


"Ya, ya sudah, iya. Aku yang salah. Ayo tolong, dimakan lagi ya satenya?" Ian membujuk dengan mencari wajah istrinya yang sedang menunduk. Ia melingkarkan tangannya pada lengan wanita berkacamata itu. "Ya?"


Perlahan Noura mulai makan. Tiba-tiba Ian menarik tubuh wanita itu dan ....


Cup!


Pria itu mendaratkan kecupan pada pipi istrinya. Pipi wanita itu memerah karena suaminya melakukannya di depan umum.


"Maaf ya, Sayang, tapi jangan ngambek lagi."


Pengunjung warung itu banyak yang tersenyum melihatnya.


Noura kesal, suaminya pintar bersandiwara. Bahkan ia sendiri mulai terpengaruh. Noura ... kuat-kuat ngambeknya.


Seusai makan, pria itu kembali mengajaknya pergi ke sebuah taman, tapi mereka tidak turun. Mereka hanya berada di dalam mobil. Noura tetap tak bicara dan memandang ke arah jendela di samping.


"Noura, lihat ke depan."


Wanita itu mengikuti permintaan suaminya.


Pria itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan ikut memandang ke depan. "Amerika itu jauh. Saat aku merindukan kampung halaman, aku selalu datang ke sini dan melihat langit. Aku melihat langit yang sama, seperti yang aku lihat di Amerika."


Noura menautkan alis dan melirik suaminya. Di mana-mana 'kan langit sama, apa dia mau mengakaliku bicara ya? Mmh, tidak semudah itu, Tuan CEO, karena wanitamu ini sangat pintar.


Noura kembali menatap ke depan. Mau tak mau ia juga merasa kasihan karena suaminya pasti juga rindu pulang ke kampung halamannya.


Ian melirik istrinya sekilas. Ternyata kau pintar juga, tak mudah dibujuk. Ian menghela napas. Lama-lama aku bisa gila, Noura. Rasa cintaku sepertinya lebih besar dari rasa ingin balas dendamku. Noura, kau lebih berbahaya dari balas dendam itu sendiri. Lagi-lagi Ian menghela napas.


-----------+++-----------


Ian memeluk erat, tapi kemudian ia tersadar dan membuka mata. Astaghfirullah alazim, kenapa ia memeluk Noura? Iya benar, Noura istrinya tapi ia sedang ingin membalas dendam pada Vika jadi ia tidak seharusnya memeluk istrinya saat ini.


Perlahan Ian menarik tangannya dari tubuh istrinya sebelum wanita itu terbangun. Ia mulai menyalahkan dirinya dengan mengetuk keningnya. Ah, Ian. Kau bodoh. Kenapa berkali-kali kau jatuh dan cinta lagi pada wanita ini. Tidak bisakah kau sedikit tegas?


Aku tidak bisa. Ia menjawab sendiri pertanyaannya. Aku bisa bertengkar dengan orang yang keras, bahkan memasukkan mereka ke dalam penjara sekalipun, tapi aku tidak bisa dengan orang yang lembek. Noura hatinya sangat halus. Dibentak sedikit saja dia akan menangis dan sejauh ini dia tidak pernah melakukan kesalahan, kejahatan dan dia sangat penurut. Aku bisa gila lama-lama berada di dekatnya. Setiap hari aku makin mencintainya.


Pria itu membalikkan tubuhnya ke samping, resah. Padahal sedari tadi Noura belum tidur karena suaminya tiba-tiba memeluknya. Ia hanya memejamkan mata. Wanita itu menikmatinya hingga sulit tidur. Kini, ia menyadari satu hal. Suaminya pasti mencintainya tapi entah karena apa pria itu berubah pikiran. Ia akan mencoba menjahili pria itu lagi, esok.


Noura pergi tidur dengan senyum lebar.


----------------+++--------------


Pagi itu Ian sudah buru-buru berpakaian tapi ia tak menemukan istrinya di meja makan.


"Nyonya baru pergi Pak, katanya ada rapat pagi-pagi," terang salah satu pembantunya.


Pria itu sangat kesal. Sesampainya di kantor, ia menelepon temannya, Vincent. "Bisa tidak, kamu tidak meeting pagi-pagi sekali. Istriku pergi pagi-pagi sekali dari rumah tanpa pamit padaku."


"Lho, kata siapa? Meeting pagi hanya hari Senin. Sekarang 'kan Selasa, apa kau lupa?"


"Ah, pembalasan kecil rupanya," gumam Ian seraya menggigit punggung tangannya yang terkepal.


"Apa?"


Vincent tertawa lebar. "Oh, come on, Ian(ayolah, Ian). Wanita itu sangat sensitif. Bersabarlah dan mengalahlah kalau kau ingin hidup damai bersama mereka."


"Hah, sulit."


"Aku tahu, tapi lama-kelamaan dia akan menerimamu apa adanya. Kalian akan saling mengerti."


Ian terdiam. Masalahnya bukan itu, tapi ia tak bisa menceritakan masalah ini pada Vincent. Vincent, dia tak kenal Vika karena saat pacaran dengannya, sahabatnya itu pindah ke Bali dan hanya tahu Ian ditinggal pacarnya karena bertemu dengan yang lebih kaya.


"Sudahlah, setahuku Noura tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh di kantor dan sangat fokus bekerja. Mungkin kalian sedang salah paham saja jadi salah satunya melarikan diri karena ingin menyendiri. Kau tahu 'kan maksudku, kalian 'kan sekamar. Jadi biarkan saja.


Mungkin salahmu juga tidak memberinya honeymoon (bulan madu) sehingga hubunganmu dengan istrimu masih belum nyambung. Beri dia waktu, dia pasti kembali padamu. Hei, kamu 'kan baru nikah beberapa hari, jaga itu, Ian," ledek Vincent.


"Iya, iya." Ian menutup teleponnya. Huh, Noura. Kenapa kau terlahir sebagai saudara kembar Vika? Ian menghela napas.


Hari itu, pria itu memaksakan diri pulang tepat waktu, hanya karena ingin bertemu dengan Noura dan bicara padanya. Wanita itu ternyata ada di kamar dan terkejut sebab ia juga baru pulang kerja. Hanya keterkejutan biasa dan setelah itu ia meletakkan tasnya di atas meja nakas.


"Kenapa tadi pagi kau berangkat sendiri tanpa bicara padaku, Noura?"


Wanita itu hanya menoleh dan kembali mengaca di depan cermin.


"Noura, aku bicara padamu apa kamu tidak dengar? Kau seharusnya menungguku tadi pagi karena aku akan mengantarmu ke kantor."


Wanita itu kembali menoleh tapi hanya sebentar. Ia tampak tak peduli dan kemudian melangkah ke pintu.


Saking gemasnya, Ian mencegah istrinya keluar dengan menggebrak pintu dengan keras hingga membuat Noura terkejut. "Aku sedang bicara padamu, Noura!"


Terlihat sudut mata wanita itu tergenang.


Aduh ... air mata itu. Tidak bisakah dia ... Uh! Pria itu gemas. "Maaf." Kalimat itu meluncur sendiri dari mulut pria itu.


Wanita itu mengalihkan wajahnya. Ian takut sekali wanita itu tiba-tiba menangis. "Eh, maksudku, aku 'kan akan mengantarmu, kenapa kamu pergi begitu saja?"


Istrinya masih memberikan punggungnya membuat Ian kehabisan kata-kata. "A-aku akan mengantarmu besok pagi, jadi jangan pergi sendiri tanpa izinku, ok?"


Wanita itu tetap saja diam.


"Ya?"


-----------+++-----------


Esok paginya, Ian kembali ditinggal Noura. Ian tak bisa berkata-kata hingga ia menjemput istrinya pulang kantor. Saat itu Noura ada pekerjaan yang mengharuskan ia lembur.


Ian tidak tahu apakah istrinya masih bekerja di kantor atau tidak karena sulit untuknya menelepon sebab wanita itu tetap tidak mau bicara. Ian mencari tahu dengan mendatangi kantor dan melihat sendiri ternyata istrinya masih bekerja.


"Oh, kamu masih kerja?" Pria itu sudah ada di samping Noura membuat wanita itu terkejut. "Oh, maaf. Kau lembur?"


Wanita itu hanya menatapnya. Saat itu ada Ryan dan 2 orang lagi pegawai wanita yang juga terkejut melihat kedatangan Ian.


"Kau mau kubelikan sesuatu, mungkin? Kau lapar?"


Noura menggeleng dan masih menatap suaminya, heran.


"Oh, maaf. Aku tidak bermaksud mengganggumu. Kau mau kerja ya? Ok, kalau begitu, aku tunggu di luar saja." Pelan-pelan pria itu keluar dari kantor itu.


"Noura, suamimu disuruh tunggu di luar? Kasihan kan, udah capek-capek jemput," kata salah satu teman wanitanya menyesalkan.


"Aku kan gak minta dijemput. Dianya yang tiba-tiba datang menjemput. Kan aku ada kerjaan lembur," ujar Noura sambil mengerjakan tugasnya di laptop.