
Ian, saat keluar dari kantor istrinya, bertemu Vincent.
"Oh, kamu menunggu istrimu?"
"Iya. Aku baru tahu dia lembur."
"Oh, kenapa tidak telepon?"
"Mmh ...." Ian menyatukan tangannya di belakang kepala.
Vincent tersenyum lebar. "Ada yang perlu ditanyakan?"
"Mmh, tidak," jawab Ian akhirnya memutuskan.
"Ok. Terserah padamu saja. Aku akan ke atas. Telepon aku kalau butuh nasehat." Vincent kembali tersenyum lebar, dengan menepuk bahu temannya.
Keduanya sedang menunggu lift. Terdiam sesaat.
"On the second thoughts,(kalau di pikir lagi) ...."
"Vincent ...!" Ian memperingatkan dengan nada tinggi dan mata membulat sempurna. Ia tidak mau rumah tangganya digurui sahabatnya itu.
"Ok, ok, ok." Vincent tertawa dan mengangkat tangan. Bertepatan dengan itu, lift untuk naik ke lantai atas terbuka hingga Vincent langsung masuk ke dalamnya. "See you then! (sampai ketemu lagi!)"
Ian yang ditinggal terlihat uring-uringan. Ia menunggu lift turun sambil menggaruk-garukkan kepalanya. Sesampainya di bawah, ia segera masuk ke dalam mobil dan menunggu di sana.
Mobil Ian terparkir di depan gedung sehingga dengan mudahnya ia tahu kapan Noura pulang.
Dua jam kemudian, Noura turun bersama teman-temannya.
Ian menyambanginya dengan keluar dari mobil. "Noura!"
Noura yang sedang mengobrol dengan teman-temannya terpaksa berhenti dan meninggalkan mereka. Ian langsung menggandeng istrinya dan membawanya ke mobil.
Pria itu bersyukur, walaupun istrinya ngambek tapi masih mau ia gandeng padahal Noura memang menyukainya.
Mereka masuk ke dalam mobil. Noura memakai seatbelt sedang suaminya menghidupkan mesin mobil.
"Kamu belum makan malam 'kan? Ayo, kita makan malam." Ian memasang seatbelt-nya.
"Mmh?" Noura mengerut dahi.
"Apa?"
Wanita itu menggeleng.
"Noura ... kau tidak pernah makan malam ya?"
Kembali wanita itu menggeleng.
"Pantas, badanmu kurus sekali. Kalau tinggal denganku kau harus makan malam."
"Mmh ... mmh ...." Noura merengek sambil menggelengkan kepalanya.
"Harus! Apalagi kamu habis kerja lembur." Ian membawa istrinya ke sebuah restoran Amerika dan memesankan burger dan kentang untuk berdua. "Ayo, habiskan!"
Noura hanya memandangi makanannya tapi tetap tak bicara. Padahal ia sangat ingin protes.
Ayo, Noura, bicaralah. Sudah beberapa hari ini aku tak mendengar suaramu. "Noura, makan," ucap Ian seraya memasukkan kentang ke dalam mulutnya sendiri tapi wanita itu tetap bergeming.
Bibir bawah wanita itu digulung sedang ia juga menghentakkan kaki ke lantai karena kesal.
Ian sebenarnya ingin tertawa. Baru kali ini ia melihat tingkah istrinya yang lucu saat ngambek dan kesal. "Kau mau bicara apa?" tanyanya dengan senyum lebar.
Noura makin mengerucutkan mulutnya dan menunduk.
"Noura ... makan." Ian kembali memerintah seraya mulai memakan burger-nya.
Dalam beberapa menit wanita itu bergeming, bahkan tak juga kunjung bicara.
Ian menghela napas dan menghentikan makannya. "Noura, kenapa kamu begini sih?"
"Wow, wow, kau mau ke mana?" Ian dengan sigap meraih lengan istrinya. "Ada apa hingga kamu sesensitif ini?"
Sensitif? Noura kembali menatap tajam suaminya.
Ian yang hampir tertawa, terpaksa menelan ludahnya melihat tatapan marah istrinya itu. "Eh, duduk dulu ya, Sayang." Ia menarik dengan hati-hati istrinya untuk kembali duduk di kursi.
Wanita itu menurut. Dengan masih merengut, wanita itu duduk. Tumben ia menyebutku 'Sayang'. Pasti ada maunya, sebab sejak menikah, ia belum pernah lagi memanggilku 'Sayang'.
"Kau mau apa?"
Mau apa? Netra wanita itu membulat sempurna.
"Noura, aku 'kan sudah bilang. Sekarang hubungan kita berteman. Tidak bisakah kita akur-akur saja?"
Noura makin keheranan. Mereka sudah menikah dan sekarang suaminya mengatakan hubungan mereka cuma berteman? Hah! Jadi untuk apa mereka menikah dan untuk apa mereka tidur bersama? Ini benar-benar gila! Pria ini sudah gila!
Tanpa terasa air mata mengalir di pipi. Sesak, sungguh sesak statusnya diubah dengan seenak perutnya. Ia tertunduk.
"Nou-Noura ...." Ian salah tingkah. Aduh, kenapa dia menangis lagi sih? Tidak bisakah dia sedikit tegar mengucapkan apa yang dia inginkan tanpa harus mengeluarkan air mata? "Sebenarnya apa sih yang kau inginkan?"
Saat itu, wanita itu sedang berusaha mengumpulkan hatinya yang terserak. Pedih. Ia sudah merasa hancur dan tak mungkin lagi diperbaiki. Sudah terlalu payah untuknya kembali. Lututnya sudah lunglai. Ia merasa tak perlu lagi diperbaiki karena hatinya sudah tak sanggup. Ini sudah final. Ia sudah tak mau berurusan dengan ini sekali lagi. "Aku ingin bercerai."
"Apa?" Ian syok.
Air mata Noura makin berderai. Ia membiarkannya jatuh. Lelaki itu tidak melakukan apapun pada keputusannya. Tidak menolak atau mengiyakan. Bahkan tidak berusaha memberikan kata-kata yang menyejukkan atau bahkan memeluknya. Ia merasa sendirian dan menjadi bahan tontonan suaminya sendiri.
Ian saat itu benar-benar syok. Ia tak tahu harus berbuat apa hingga tiba-tiba istrinya itu berdiri. Dengan cepat pria itu meraih lengan wanita itu lagi. "Kita akan bicarakan ini nanti. Sekarang, kau makan dulu." Mengatakan itu saja, pria itu serasa kehabisan napas. Ia butuh oksigen.
Bukan apa-apa, ia masih syok tapi ia dipaksa untuk mengambil keputusan dengan benar, sementara pernyataan Noura tadi membuatnya seperti baru saja menabrakkan kepalanya pada sebuah truk tronton yang sangat berat. Ia masih belum percaya dengan apa yang didengarnya. Tanpa ia sadari, sudut matanya mulai basah. Ian berusaha mengerjap-ngerjapkan matanya agar air matanya tak jatuh.
Sementara itu, Noura dalam keadaan tertunduk, berusaha menghapus air matanya. Ia berusaha tegar dengan mengambil kentang goreng dari piringnya walau dengan tangan gemetar. Pelan-pelan ia menghabiskan makanannya dalam diam.
Sesekali ia minum karena kembali teringat hal yang menyakitkan itu. Kadang ia harus menepuk sedikit dadanya karena sulitnya ia menelan. Ia masih sakit hati. Terkadang sudut matanya kembali menggenang.
Ian pun tak jauh beda. Ia makan dalam diam tapi otaknya sedang mencerna, apalagi langkah selanjutnya yang harus ia lakukan.
Kedua orang ini makan dengan sangat aneh. Menahan isak dalam diam.
Seusai makan, mereka kembali ke mobil. Keduanya terlihat berwajah hambar hingga sampai ke rumah, tapi saat turun Ian langsung menyambar tangan istrinya dan dengan berjalan cepat ia menariknya hingga ke kamar.
Noura tidak punya kekuatan untuk melawan. Tenaganya sudah habis saat menangis tadi dengan memikirkan pernikahannya yang masih seumur jagung yang kini akan segera berakhir.
Di kamar, Ian langsung mengunci pintu. "Noura aku tidak akan menceraikanmu."
"Apa?"
"Apapun yang terjadi aku tidak akan menceraikanmu!" tegas pria itu.
"Tapi aku sudah tak ingin lagi bersamamu."
"Aku tak peduli!" Pria itu semakin marah.
"Ian, pernikahan macam apa ini?" Noura kembali menitikkan air mata.
"Aku tak peduli! Aku tak peduli!" Suara Ian makin melengking. "Kau mau tidur denganku 'kan? Ayo, kita lakukan sekarang."
"Ian!"
Pria itu menarik istrinya ke tempat tidur dan menjatuhkannya di atas kasur empuk itu.
"Ah!"
____________________________________________
Halo reader, masih terus membaca novel ini 'kan? Jangan lupa beri semangat author dengan like, vote, komen, dan hadiah agar author makin happy. Ini visual Noura yang makin kurus setelah menikah. Salam, ingflora. 💋