CEO And The Twins

CEO And The Twins
Ayam



"Tapi malam-malam begini kamu makan di luar, nanti masuk angin. Ah ..." Ian menyugar rambut hingga ke belakang. "Besok, kita beli TV saja buat di kamar. Oh, ya. Juga lemari es kecil biar kamu bisa menyimpan makanan kesukaanmu di sana."


"Mmh!" Wanita itu berdiri, meletakkan wadah makanan di atas meja, dan segera memeluk suaminya. "Makasih, Sayang."


"Mmh, masih ada yang kurang."


"Apa?" Noura menengadah menatap wajah suaminya yang rupawan.


"Kiss me.(cium aku)"


Noura mengerucutkan mulutnya dan sang suami menurunkan kepala mendekati wajah sang istri.


Cup!


Noura tersenyum lebar.


"Sudah nontonnya?"


"Belum."


"Jangan terlalu malam tidurnya ya, Sayang."


"Iya."


Ian kembali mengecup bibir ranum itu. "Ya sudah aku tidur duluan."


-----------+++----------


Pagi hari ternyata Noura mengisinya dengan susu dan hanya itu yang bisa dicerna wanita itu saat pagi.


"Hanya itu?" Ian membulatkan matanya menatap sang istri.


"Iya."


"Tidak lapar?"


"Tidak."


"Ingat, Noura. Saat kau lapar, walaupun kamu sedang meeting atau punya pekerjaan segunung, tetap prioritaskan makan." Ian mengunyah rotinya.


"Siap!" Noura meletakkan jari yang telah dirapatkan di atas dahi.


Ian tersenyum lebar.


---------+++-------


Hari-hari berlalu. Tubuh Noura tak lagi sekurus dulu. Pipinya mulai berisi. Ia mulai membeli pakaian baru karena pakaian lamanya mulai sempit.


Namun hari-hari tak berjalan semulus itu. Di suatu siang, Ian mendapat telepon dari Vincent bahwa istrinya dilarikan ke rumah sakit karena mengeluh sakit dibagian perutnya. Ian panik dan segera menyusul ke rumah sakit.


Ternyata setelah diperiksa, sebenarnya Noura belum boleh hamil karena luka pasca operasi dibagian dalam, belum sembuh benar sehingga luka itu tersentuh rahim yang mulai membesar. Wanita itu disarankan untuk tidak boleh duduk lama. Itu artinya ia harus banyak istirahat dan berhenti bekerja.


Noura menangis dipelukan suaminya. Ia tidak menyangka harus merelakan pekerjaan yang begitu dicintainya demi anak yang dikandungnya.


"Hei, ssst, Honey. Selalu ada pilihan yang tak terelakkan yang kita harus pilih." Ia mengusap kerudung istrinya dan berucap lembut. "Kalau kau ingin bekerja, kau masih bisa masuk kerja atau melamar di perusahaan lain setelah kamu melahirkan nanti. Atau, aku buatkan perusahaan untukmu, Sayang. Ini hanya sementara saja, sampai tubuhmu pulih seperti sedia kala."


Noura masih menangis.


"Sayang." Ian melepas pelukan dan menatap istrinya. "Kamu mau 'kan mengurus anak kita dulu?"


Wanita itu mengangguk.


Ian kembali mendekapnya. "Terima kasih, Sayang. Kau mau memprioritaskan anak kita."


----------+++---------


Namun tetap saja, walau di rumah, Noura tak bisa diam. Ada saja yang dilakukannya yang membuat suaminya pusing kepala.


Ian yang sedang meeting, mendapat telepon dari istrinya. "Honey, ada apa?"


"Bang, aku boleh piara ayam?"


"Ayam? Untuk apa?"


"Punya piaraan lah, Bang," ucap istrinya merengut di ujung sana.


"Tapi kita harus punya kandang. Kita tak punya kandang."


"Kan tinggal beli, Bang."


"Bagaimana kalau kucing? Rasanya kucing tidak rumit dan bisa dibawa masuk ke dalam rumah."


"Kenapa tidak ayam?" Noura sepertinya kesal.


"Karena kamu pasti berpanas-panasan di luar saat mengurusnya. Kucing 'kan bisa selalu di dalam rumah."


"'Kan taman belakang rumah kita teduh, Bang."


"Aku tidak mau ambil resiko kamu pingsan di taman belakang."


Terdiam beberapa saat.


"Noura."


"Iya, Bang."


"Nanti pulang kantor, aku akan menjemputmu. Kau bisa pilih kucing yang kamu suka."


Ian membuktikan ucapannya. Ia menjemput Noura dan membawanya ke Petshop(toko binatang). Noura melihat macam-macam binatang di sana. Ada anjing, kucing, hamster dan juga kelinci.


Ada beberapa macam jenis kucing di sana tapi Noura malah memilih kucing yang terlihat biasa-biasa saja. Belang hitam dan putih. "Yang ini saja, Bang."


Mereka kemudian membeli peralatan lain, kandang, pasir, sampo dan lain sebagainya.


Di rumah, Ian membantu istrinya meletakkan kandang dan pasir di bawah tangga. "Mau kau beri nama apa?"


"Olimpus."


"Olimpus?"


"Biar bisa kupanggil 'Pus'."


Ian tertawa terbahak-bahak.


Esoknya, Noura kembali menelepon suaminya.


"Apa, Sayang?" Ian sedang memeriksa beberapa berkas.


"Boleh aku memelihara ayam?"


Ian menghela napas panjang. Ia menggaruk-garuk alisnya. Sepertinya sifat istrinya yang keras itu susah dipatahkan. Walaupun terlihat ia menuruti keinginan Ian, ia tetap mencita-citakan apa yang menjadi keinginannya dan bila dipendam akan menjadi bom waktu yang suatu saat akan meledak di lain hari. Ia tetap ingin memelihara ayam.


"Kenapa kamu tetap ingin memelihara ayam?"


"Ayam lucu, Bang."


"Kucing juga lucu."


"Ayam seru, Bang."


"Kucing juga seru. Tergantung bagaimana kamu merawat dan bercanda dengannya."


"Bang. Aku mau ayam."


Ian memijit dahinya. Ia terpaksa menyerah. "Baiklah, tapi nanti belinya hari Sabtu saat aku ada di rumah."


Terdengar sorak istrinya di ujung sana. "Iya, Bang. Makasih. Muuah, kiss jauh," ucap Noura memberi ciuman dari jauh untuk suaminya.


"Muuuah, juga." Ian mencoba membalasnya.


------------+++----------


Hari yang dinantikan tiba. Ian terpaksa membeli kandang ayam yang besar karena istrinya membeli sepasang ayam untuk dipelihara.


"Honey, apa kamu mau jadi peternak?"


Wanita itu malah bertelak pinggang dengan senyum lebar. "Apa aku sudah mirip peternak?"


Ian menggeleng-gelengkan kepalanya.


Namun kegembiraan mendapatkan ayam tidak bisa ditutupi dari wajah Noura. Ia begitu senang hingga sering melepas ayamnya di taman belakang dan memberinya makan.


Ian yang duduk di kursi dekat kolam renang bisa merasakan kebahagiaan istrinya yang sibuk mondar-mandir mendekati ayam miliknya seakan kebahagiaan itu tidak bisa digantikan dengan kehadiran kucing mereka.


Walaupun begitu, saat kucing mereka mengejar-ngejar ayam, Noura malah tertawa. Mungkin binatang piaraan ini bisa menggantikan kebosanan Noura di rumah. Sementara, sebelum anak mereka lahir.


"Sayang, aku ke ruang kerja dulu ya? Kamu tidak apa-apa sendiri di sini 'kan?"


Noura melambaikan tangan dari jauh. Pria itu kemudian pergi ke ruang kerjanya.


Di sore hari, Ian kembali ke kamar. Ternyata istrinya tengah tidur di tempat tidur mereka. Wanita itu terbangun saat pria itu masuk ke kamar mereka.


"Oh, Honey, I'm sorry(Sayang, maafkan aku) apa aku membangunkanmu?"


"Bang, temani aku tidur."


"Oh, ok, Sayang. Aku temani." Ian segera masuk ke dalam selimut sehingga istrinya bisa menggeser mendekat. Noura tidur dalam dekapannya.


--------+++--------


Ian terbangun tengah malam dan melihat istrinya sibuk mencari siaran TV sambil menikmati camilan kripiknya. Wanita itu melihat suaminya terbangun dan merasa bersalah. Padahal ia sudah mematikan lampu dan mengecilkan volume suara tapi suaminya tetap terbangun.


"Maaf, Sayang. Apa aku berisik?"


"Oh, tidak." Padahal bunyi gemeletak gigi istrinya saat mengunyah kripik terdengar jelas, tapi pria itu tak mau mempermasalahkan. "Kapan lagi kamu akan periksa ke dokter?"


"Selasa ini."


"Mmh, berarti aku akan ambil cuti hari itu."


"Bang, tidak usah. Aku bisa pergi sama supir."


"Tidak, aku ingin pergi. Aku ingin memastikan kesehatanmu dan bayi kita. Aku akan mengantarmu, Sayang."


Noura sebenarnya merasa bersalah karena kesehatannya membuat suaminya khawatir, tapi mau bilang apa, memang kenyataannya seperti itu dan ia benar-benar harus bergantung pada suaminya. "Maaf aku menyusahkanmu terus," gumamnya sambil menunduk.


"Eh, kata siapa? Suami istri itu memang tempatnya saling bahu membahu bekerja sama agar membuat pasangannya terlihat sempurna."


"Tapi aku sama sekali tidak membantumu."


"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Aku mencintaimu dan kau bersedia mengarungi hidup denganku dan mengandung anak dariku, apakah itu tidak butuh pengorbanan?"


"Kau mengorbankan pekerjaanmu demi aku."


"Kau juga 'kan? Kau bahkan berkorban demi anak kita." Ian menghela napas panjang. "Dengar, ini sebenarnya bukan masalah pengorbanan tapi bukti cinta antara aku dan kamu. Jadi hal seperti ini tidak bisa dihitung dan dinilai. Ini hanya jadi tanda bahwa kamu bahagia bersamaku begitu juga aku bersamamu. Selama kamu merasakan itu aku akan terus berjuang untukmu, Noura. Selamanya."


Noura terharu. Ia bergeser mendekati suaminya sedang Ian menarik istrinya kepelukan. Wanita itu bersandar di dada bidang suaminya.


"Nah, coba. Aku ingin mencicipi kripiknya. Apa ada film bagus? Ayo, kita nonton berdua."


Noura tersenyum lebar dan menyerahkan remote TV itu pada suaminya. Selagi Ian mengecek siaran TV, Noura menyuapi suaminya kripik.


__________________________________________


Masih mengikuti terus novel ini 'kan? Terus beri semangat author dengan vote, like, komen dan hadiah. Ini visual Noura dengan ayamnya. Salam, ingflora. 💋



SaGa Antara Cinta Dan Ego


Author: eveliniq


Kisah seorang gadis biasa yang jatuh cinta pada seorang lelaki bermata elang.


Keduanya berasal dari strata yang berbeda tetapi dengan kekuatan cinta tulus yang ia miliki Sasha berhasil menaklukkan Galaxy cowok bermata elang yang terkenal dingin dan penyendiri.


Galaxy lelaki yang punya trauma masa kecil dengan keluarganya. Selama ini hanya belajar merasakan cinta dan kesetiaan dari seekor anjing kesayangannya berjenis Husky.


Husky bermata biru inilah yang akhirnya bisa mengobati trauma masa lalu Galaxy dan menemukan cinta sejatinya.


Ikuti kisah Sasha dan Galaxy dalam menemukan cinta sejati mereka bersama anjing kesayangan mereka "Grey" Husky bermata biru.