CEO And The Twins

CEO And The Twins
Menembus Kesalahan



"Ah ...." Deni kelelahan dan akhirnya tumbang. Ia menjatuhkan diri di samping istrinya dan kemudian mendekap wanita itu dalam pelukan.


Ada bulir-bulir keringat pada kening keduanya tapi di wajah sang istri terpancar raut puas dan bahagia.


Setengah jam yang lalu, pria itu melarikan mobilnya ke hotel terdekat berdasarkan penelusuran internet dan jadilah dia di sini bersama istrinya menuntaskan hasrat.


"Kamu itu ... suka sekali mengganggu suami yang sedang fokus bekerja," gerutu pria itu.


Vika tertawa kecil dan mempermainkan ujung rambutnya. Apalagi, ia sudah dalam pelukan hangat suaminya kembali, segalanya terasa indah.


Deni, pria yang jauh dari kata tampan. Vika mendekatinya dulu karena pria itu kaya, tapi pria itu tidak suka dengan kata pacaran dan usianya sudah pantas menikah. Walaupun pria itu kuno dengan adat Jawa yang dipegangnya, tapi Deni ramah dan gampang mengalah membuat Vika terpaksa menerima lamarannya padahal ia belum siap menikah. Dalam waktu sebulan mereka akhirnya menikah.


Awalnya ia tidak pernah berpikir akan bisa mencintai Deni, karena dipikirannya saat itu hanyalah uang, tenar dan kaya, tapi berkat tutur kata pria itu yang lemah lembut, sabar dan sering memanjakannya, pelan-pelan Vika mulai jatuh hati padanya tanpa ia sadari.


Betapa tidak, dengan sifat Vika yang cenderung kasar dan egois juga pemilih dalam berteman, tidak mungkin ada orang yang mau tanpa pamrih mengalah dan memanjakannya seperti Deni. Wanita itu baru menyadari, suaminya adalah segalanya untuknya.


"Apa kamu tahu, saudara kembarmu masuk rumah sakit?" tanya Deni pada istrinya.


Wajah wanita itu, yang tadinya cerah seketika menjadi muram. "Tahu," ujarnya sambil menunduk.


Karena pria itu mendekap istrinya dari belakang, ia hanya tahu istrinya sedikit kecewa dari nada suaranya. "Kau belum menengoknya 'kan? Besok, kau tengok dia."


"Tapi ...."


"Tidak ada 'tapi'. ikuti perkataanku." Deni walaupun berusaha tegas, ia menggunakan nada bicara yang santun.


"Aku ... ingin ditemani, Mas." Vika mulai mengalah.


"Mmh. Besok, sebelum makan siang, Mas jemput di rumah."


"Mmh."


Pria itu kemudian duduk dan mulai memunguti pakaiannya, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


-----------+++----------


Vika masih bingung harus bicara apa. Ia hanya bisa memegangi lengan suaminya saat mendekati tempat tidur Noura.


"Mmh, aku kembali. Tidak bosan 'kan, kalau aku jenguk lagi? Vika katanya mau menengok Noura."


Vika menoleh pada suaminya yang baru saja berbohong.


"Ayo, Sayang, bicara. Masa sama saudara sendiri bingung?" Deni memberi semangat.


Vika maju dan menyerahkan plastik belanjanya yang berisi makanan pada Ian.


"Makasih."


"Iya." Wanita itu menoleh pada Noura. "Mmh, kamu sudah lebih sehat?"


"Ah, ya ... terima kasih."


Keduanya tampak canggung. Noura jadi canggung karena Vika yang tiba-tiba sopan padanya dan Vika juga canggung karena harus belajar berbicara dan bertegur sapa ramah pada saudara kembarnya, yang mana ia tak pernah lakukan sebelumnya. Berpura-pura itu sungguh berat di mana hatinya berkata lain tapi demi suaminya ia rela melakukannya.


"Oh, mungkin karena ada kami ya? Ya sudah. Yuk, Bang, kita ngobrol di depan."


Ian dan Deni pindah ke kursi sofa di depan dan duduk di sana.


Vika mencoba duduk di tepian tempat tidur menghadap ke Noura. Ia menatap wajah kembarannya itu. "Aku, mmh ...."


"Jangan bicara apa-apa kalau tidak tahu."


"Mmh ...."


"Jangan minta maaf, kalau tidak ingin."


Noura seperti tahu sifat Vika. Pasti karena suaminyalah ia ada di situ. Vika belum sepenuhnya ingin mengatakan apa-apa pada Noura hingga Noura juga tidak mengharapkannya.


Vika hanya menunduk. Berat untuknya berada satu level dengan Noura di mana ia merasa lebih superior dari kembarannya itu tapi ia harus melihat kenyataan bahwa Noura perlahan naik dan bersinar. Kembarannya lebih segalanya dari dirinya kini.


Sebenarnya semua berawal dari ketika mereka masih kecil. Orang sering membanggakan Noura karena ia pintar, karena itu ia iri pada kembarannya itu, tapi seiring waktu, dunia orang dewasa mempunyai sudut pandang berbeda.


Semakin dewasa Vika terlihat cantik dan Noura tidak. Bahkan kacamata Noura memperburuk penampilannya. Di situlah Vika merasa berjaya dan disukai banyak orang hingga ia mulai terang-terangan menghina kembarannya sendiri. Pujian orang atasnya membuat ia makin lupa diri, dan merasa derajatnya lebih tinggi dari kembarannya itu, hingga sekarang.


Kini sudah saatnya ia mengakui, dunia tak lagi memujanya dan ia tak lagi kaya. Segala sesuatu pasti ada waktunya, datang dan perginya.


Semua kini melihat ke arah kembarannya Noura, yang cahaya sedang terang-terangnya dan ia akan jadi bayang-bayang kembarannya itu. "Mmh, suamiku, usahanya sedang tidak lancar." Ia akhirnya mengakui posisinya.


"Aku tahu."


"Itu." Noura menunjuk dengan mulutnya pada dua lelaki yang sedang bicara di kursi sofa di samping. "Bang Ian sedang menolong Masmu."


"Apa?" Vika menatap kedua pria itu yang sedang berbicara dan tertawa. Ian membantu suaminya? Ia menoleh pada Noura dengan keadaan melongo.


"Jangan takut, Bang Ian pasti membantu suamimu."


Mata Vika berkaca-kaca. Ia tak menyangka saudara kembarnya yang selalu ia hina ternyata malah membantunya. Dengan cepat, ia memeluk Noura yang tengah duduk bersandar di kepala tempat tidur.


Tentu saja Noura terkejut. "Vika ...."


Kedua pria itu pun juga menoleh ke arah kedua wanita itu. Mereka saling berpandangan dan tersenyum.


"Terima kasih," ucap Vika menahan isak. Tentu saja, rasa bersalah kini menjalari setiap inci darahnya. Kenapa dulu ia begitu jahat pada saudara kembarnya, padahal jelas-jelas Noura tak pernah membalasnya.


Ada usapan lembut ia rasakan di kepala. "'Kan kita bersaudara." Kalimat itu sangat menyejukkannya. Sangat menyejukkan.


---------+++----------


Seminggu kemudian kondisi tubuh Noura mulai pulih. Suami istri itu kemudian memulai perjalanannya berbulan madu keluar negeri.


Tempat pertama yang didatangi mereka adalah Hongkong. Ini dipilih karena Ian ingin belajar memakai sumpit. Noura tertawa dengan alasan ini tapi ia mengiyakan.


Karena di Hongkong hampir semua orang pintar menggunakan sumpit, Ian mau tak mau belajar agar bisa makan dengan alat makan itu.


Di setiap jam makan, Ian selalu memesan mi.


"Sayang, kau tak harus makan mi tiap waktu. Apa kau tak bosan?"


"Aku harus bisa, Noura," tekad pria itu.


"Iya, tapi makanmu jadi sedikit."


"Jadi makin ganteng 'kan?"


Wanita itu tertawa. Baru kali ini suaminya begitu narsis. "Ok ...," jawabnya pelan.


Sampai akhirnya ia mampu makan dengan lahap menggunakan sumpit. "Honey, aku bisa."


"Oh, iya ...." Noura menautkan alis dan mencoba tersenyum.


Kadang tingkah suaminya kalau sedang begini, persis anak kecil.


"Noura, tolong foto aku."


Wanita itu kemudian mengambil HP dan memotret suaminya yang dengan bangganya bergaya sambil memegang sumpit yang bisa meraih banyak mi.


"Taraaaaa." Pria itu tersenyum senang.


Noura tersenyum dibalik HP-nya.


"Ok, berikutnya kita ganti menu. Aku sudah mulai bosan dengan mi."


Komentar suaminya membuat wanita itu tertawa terbahak-bahak.


____________________________________________


Masih semangat lihat honeymoon-nya Noura dan Ian 'kan? Ayo, kirim terus, vote, like, komen, dan hadiah biar author tambah semangat. Ini visual Ian yang berhasil mengangkat mi dengan sumpit. Salam, ingflora. 💋



Yuk intip author yang satu ini.


Blurd


Season 1


Bab 1- 127


Menceritakan awal mula dan perjalanan Kasih dalam menemukan tentang keluarga kandung dan balas dendam.


Season 2


Bab 128 - tamat.


Perjalanan cinta Kasih juga beberapa tokoh lainnya. Apakah mungkin masih bisa mempercayai dan menemukan cinta? Siapa lagi sebenarnya musuh yang masih mengganggu ketentraman keluarga ini?Rahasia apa lagi yang di tinggalkan kedua orang tuannya?