CEO And The Twins

CEO And The Twins
Melahirkan



Persalinan Vika akhirnya tiba. Wanita itu melahirkan dengan normal bayi lelaki yang tampan.


"Wah, ganteng sekali anaknya. Mirip siapa ya?" ledek Ian pada Deni.


Pria itu cemberut. "Iya, tau. Pasti gak mirip aku 'kan, maksudnya?"


Noura dan Ian tertawa. Mereka kini sedang memandangi ruang rawat bayi lewat kaca tebal di depannya.


"Ini wajah keluarga Zarin, ini. Bapaknya gak ikutan."


Deni mendelik kesal pada Ian.


"Tapi alhamdulilah, lahiran normal. Noura ternyata tidak bisa. Dokter menyarankan agar dia dioperasi Cesar," lanjut Ian lagi.


"Bukannya lebih mudah?"


"Faktor resiko yang membuat aku sedikit bingung."


"Ya, jalani saja lah. InshaAllah selamat."


"Amin."


Noura melirik kedua pria itu dan kembali melirik bayi Vika. Saudara kembarnya mendapatkan bayi laki-laki sedang dia ... sejauh ini dokter menyatakan, kemungkinan perempuan. Wanita itu sedikit resah.


"Ayo kita ke kamar saja. Mungkin sebentar lagi bayinya akan dibawa ke sana."


Noura dan Ian hanya bertandang sebentar lalu kemudian pulang.


"Honey, hari ini kita akan ke mana?" tanya Ian saat menyetir mobil.


"Aku ingin ke pantai."


"Oya? Bermain pasir?"


"Makan burger."


"Honey ...." Ian hampir tergelak.


"Saat ini, itu yang kumau." Noura mengerutkan dahi.


"Ok, Sayang. Let's go!(kita berangkat!)"


Saat sampai di pantai, benar saja. Wanita itu mencari restoran yang menjual burger. Ian datang pada tempat yang tepat. Sebuah hotel.


Noura memilih yang bisa makan diluar agar ia bisa menghirup udara pinggir laut nan segar.


"Bagaimana, Honey?"


"Mmh, segar ...." Wanita itu tersenyum.


"Taraaa. Wah ... burger-nya sudah datang, Honey," sambut Ian pada burger yang dibawa pelayan.


"Sebentar, aku mau foto dulu."


"Dan aku mau foto kamu, Sayang."


"A ha ha ...." Noura tertawa.


Setelah saling berfoto, barulah mereka makan. Tubuh Noura sudah mulai berisi, tapi tidak gemuk, padahal ia makan dengan lahap. Hanya perutnya saja mulai terlihat membesar.


"Sayang, kamu tidak ingin persiapan peralatan bayi."


"Masih jauh, Honey. Ini baru 5 bulan. Katanya pemali kalau belum sampai bulan ke 7, Sayang."


"Pemali itu apa?"


"Pemali itu pantang, kalau adat Jawa."


"Mmh, tapi paling tidak boleh 'kan lihat-lihat dulu?"


"Boleh saja."


"Ya, memudahkan nanti saat berbelanja. Aku ingin kamu memilih barang yang ingin kau beli, agar saatnya nanti kamu malas atau tak sempat keluar, aku bisa membelikannya untukmu."


"Mmh, boleh juga idenya, Yang." Noura menyuap kentang goreng ke mulutnya.


Mereka kemudian menyelesaikan makan siangnya.


----------+++----------


Hari-hari berlalu. Noura sibuk dengan kucing dan ayamnya yang sering bertelur. Bahkan telurnya sering di makan untuk makan siang atau malam Noura dan suami.


Perut Noura tanpa terasa semakin besar dan jalannya semakin lambat. Ian mulai membeli barang barang keperluan bayi mereka. Bukan itu saja, kamar sebelah pun sudah disulapnya menjadi kamar bayi dengan mengundang interior desainer untuk merubah kamar itu sesuai keinginan mereka.


------------+++----------


Beberapa hari sebelum hari H, pria itu harus keluar kota karena urusan pekerjaan. "Sayang, kamu tidak apa-apa sendirian di rumah? Atau mungkin, kau bisa mengungsi dulu ke tempat ayah," ucapnya khawatir. "Aku takut kamu kenapa-kenapa karena sudah hamil besar dan sendirian di rumah."


"Aku tidak apa-apa, Bang. Di rumah 'kan banyak pembantu dan satpam jadi aku tak sendirian, Sayang."


"Noura ...."


Senyum Ian sedikit dipaksakan. "Janji ya, kalau ada apa-apa sedikit saja, langsung telepon Ibu ya?"


"Iya."


"Keluhan sakit perut atau pusing kepala langsung telepon ibu."


"Iya."


Ian memeluk istrinya dan hampir menangis. Ia mengusap-usap punggung Noura. "Mmh, kau tegar sekali padahal aku sebenarnya tidak mau meninggalkanmu dalam keadaan begini tapi kemarin-kemarin aku terlalu banyak mengambil cuti jadi aku harus mengerjakan ini."


Noura tersenyum lebar. "Tidak apa-apa, Bang."


Ian melepas pelukan dan mengusap perut istrinya perlahan. "Jangan keluar dulu ya, Sayang sebelum Papa pulang." Pria itu membungkuk dan mengecup perut besar istrinya itu. "Jangan nakal ya, selama Papa pergi."


Noura kembali tersenyum.


Esoknya Ian berangkat ke luar kota naik kereta api.


----------+++------------


Malam telah larut tapi Noura tak bisa tidur. Anak di dalam kandungan selalu beraktivitas di malam hari hingga ia menikmatinya saja karena ia hanya punya si kecil di dalam perutnya ini. Noura tidak merasa kesepian walau Ian tak ada. Kadang-kadang wanita itu menyentuh perutnya waktu sang bayi menendang-nendang dinding perutnya.


Karena tak kunjung bisa tidur, Noura berniat sholat Tahajjud. Setelah berwudhu, wanita itu sholat. Baru saja ia menyelesaikan sholatnya, ia merasa mulas. Noura gundah. Haruskah ia menelepon ibunya?


Semakin lama mulasnya semakin menjadi. Akhirnya ia memutuskan menelepon ibunya. "Bu maaf ...."


"Mmh? Oh, apa kamu sudah mulai kontraksi? Iya, iya, Ibu akan ke sana. Ibu bangunkan Ayah dulu."


Noura kemudian mencari tas yang disediakan suaminya untuk bersalin. Karena semuanya sudah disiapkan di situ, ia kemudian turun dengan membawa tas itu.


Di lantai satu, wanita itu membunyikan lonceng yang disiapkan untuk tanda darurat. Beberapa menit kemudian, para pembantunya datang dengan tergopoh-gopoh.


Noura memberi tahu bahwa orang tuanya akan datang menjemputnya untuk pergi ke rumah sakit sehingga salah satu pembantunya mengurus kedatangan di pos satpam di luar. Tak lama, Noura sudah dalam perjalanan ke rumah sakit bersama orang tuanya.


"Bu, aku sudah tidak tahan. Sepertinya bayinya ingin keluar ...," desak Noura.


"Sabar ya, Sayang ya, sepertinya kamu bakal melahirkan normal ini."


"Bu, kata dokter aku tidak boleh melahirkan normal, bisa bahaya. Bagaimana ini, Bu?"


"Sabar, tahan ya, Nak ya? Sebentar lagi sampai." Ibu mengusap punggung putrinya.


Mereka kemudian sampai di rumah sakit. Noura segera dibawa ke ruang persalinan, tapi tak lama karena bayi lahir dengan mudahnya tanpa operasi.


Dokter sebenarnya menyarankan Noura operasi karena ditakutkan proses persalinan akan menambah parah bekas operasi yang belum sembuh benar, tapi berkat pertolongan Yang Kuasa, tidak ada yang tidak mungkin dan Dia mengizinkannya.


"Anaknya perempuan, Bu," terang seorang suster.


"Apa?" Walau sedikit kecewa, wanita itu memperhatikan juga wajah putrinya.


Matanya belum terbuka dan mulutnya bergerak-gerak. Tangannya mengepal dengan kulit sedikit kemerahan.


"Diazankan dulu ya, Bu."


"Iya."


Tak lama ayah masuk dan mengazankan cucunya. Ia juga video call dengan Ian agar bisa melihat anak dan istrinya.


"Honey, terima kasih. Kau sudah melahirkan putri kita. Aku sedang mencari kereta pertama paling pagi untuk datang ke sana. Tunggu aku ya, Sayang. I love you."


"Love you."


Suster kemudian memberikan kepada Noura bayi kecilnya untuk disusui. Wanita itu kemudian menyusui bayinya walau tidak ada senyum di wajahnya. Ia masih kecewa.


____________________________________________


Novel ini akan segera tamat tapi authornya lagi bingung karena sudah mengajukan 2 cerita novel untuk event tapi belum keluar hasilnya. Author masih punya cerita ketiga, tapi takutnya pas dikeluarin, bersamaan dengan cerita yang untuk event itu. Author jadi pusing. Oya, jangan lupa vitamin author ya? Ini visual Noura makan di restoran tepi pantai, foto-foto dengan suaminya. Salam, ingflora. 💋



Back To Mantan


Author: Bhebz


Kata orang, mantan itu seharusnya dilupakan dan dibuang di tempat yang sewajarnya.


Tapi bagi Hazel Almondo, mantan harus diraih kembali untuk memperbaiki ketidaksempurnaan hubungan dimasa lalu.


Dan Bagi Vanila Granola, kembali ke mantan adalah hal yang sangat luar biasa jika itu bisa terjadi dalam hidupnya. Karena ia bahkan tidak pernah lagi menjadikannya tujuan.


Sakit hati pada sang mantan membuatnya jadi perempuan kuat dan tangguh.


Perempuan itu ingin memulai lembaran baru yang lebih berwarna.


Mampukah mereka merajut kembali kisah yang pernah hancur?


Nantikan di Back To Mantan hanya di Noveltoon.