
Deni terdiam setelah mendengar semua cerita Ian. Ia tak tahu harus bagaimana bereaksi, karena pria itu menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. "Yang aku ketahui, Vika memang sedikit iri dengan keadaan Noura belakangan ini," Ucapnya pelan.
"Iri kenapa? Aku rasa ini bukan iri. Vika memang tidak suka dengan saudara kembarnya itu sejak lama. Aku bahkan merasa, Vika sering mem-bully Noura, jauh sebelum kita mengenal mereka."
"Benarkah?"
"Jadi selama kau menikah dengan Vika, kau tidak pernah mengetahuinya?! Aku bahkan pernah memergoki Vika menyiram minuman pada Noura saat aku diam-diam membuntutinya!"
Deni menelan salivanya pelan. Biar bagaimanapun Vika adalah istrinya yang patut dibela walaupun saat ini istrinya memang bersalah.
Ian pun merasa, ia tak patut menjelek-jelekkan Vika di depan suaminya secara berlebihan karena suaminya pasti akan membelanya. Karena itu ia berusaha netral berbicara dengan Deni. "Yang aku tidak mengerti, kenapa Vika kembali mendekatiku?"
Pandangan Deni menyiratkan kebingungan dan berusaha menghindar.
"Kamu, apa ada masalah dengan Vika?"
"Tidak ada. Tidak ada masalah serius. Aku dan Vika baik-baik saja," sangkal pria itu.
"Den, kalau ada masalah, ceritakan padaku karena aku lihat Vika sangat mengganggu hubunganku dengan Noura. Bahkan Noura sekarang minta cerai dariku karena hasutannya. Aku bingung, Den. Ada apa dengan kalian berdua sebenarnya?"
Deni terlihat terkejut. "Istrimu minta cerai?"
"Ini serius, Den. Noura sebenarnya sudah sebulan tidak pulang ke rumah akibat hasutan Vika dan kini setelah baru saja ia pulang, Noura menggugat cerai aku karena melihat aku dan Vika bersama di ruang kerjaku!"
Deni syok. "U-untuk apa dia datang ke kantormu?" tanyanya gugup. Ia tak mengira istrinya mendatangi kantor mantan kekasihnya. Apalagi mendengar permasalahan iparnya yang didalangi istrinya sendiri, ia tak pernah berfikir istrinya akan melakukan hal tercela sejauh itu.
Ian tak tega, tapi ia harus mengatakannya. "Aku tak mengerti kenapa ia ingin kembali padaku. Bahkan ia bersedia jadi istri keduaku. Kalau bukan karena ada masalah besar di antara kalian berdua, Vika tak mungkin menyodorkan dirinya padaku 'kan?" Ian mengedarkan pandangan pada ruang kerja Deni. "Kamu itu sudah berkecukupan, tapi kenapa aku merasa ia masih merasa kekurangan? Ini kan aneh, 'kan?"
Deni tidak bisa langsung menjawabnya karena terlihat sekali ia sedang mencari kata yang tepat untuk menceritakan sesuatu.
"Jangan bilang kau hampir bangkrut ...." Ian menghentikan kalimatnya dan mengamati pria itu. "Kau hampir bangkrut?"
"Eh, usaha ada naik turunnya dan aku tengah mengusahakan ...."
"Oh, pantas saja. Betapa bodohnya aku!" Ian mengetuk dahinya. "Aku kan tahu siapa Vika, kenapa aku tidak memikirkan hal ini ya?" Pria itu tersenyum.
Deni memandang Ian dengan sedikit takut-takut. Ia tahu, pasti kini pria itu tahu sebabnya kenapa rumah tangganya sedikit goncang.
"Kenapa kau tak bilang?"
"Apa?" Deni tak mengerti arti perkataan Ian.
"Den, kita 'kan keluarga. Kalau aku bisa membantumu, kenapa tidak?" Ian tersenyum lebar.
"Apa? Tapi aku butuh suntikan dana yang besar, dan itu ...."
"Aku akan membantumu."
"Eh?" Deni menatap pria itu tak percaya. "Tapi ...."
"Demi istri-istri kita."
Deni menatap nanar Ian dengan perasaan haru. Matanya berkaca-kaca. Ia segera bangkit dan meraih tangan Ian sambil tak henti-hentinya menundukkan kepalanya pada pria bule itu. "Terima kasih, terima kasih!"
"Tidak apa-apa." Ian menepuk-nepuk bahu Deni. Ia kemudian segera berdiri. "Maaf, tapi sekarang aku akan mencari istriku dan menjemputnya."
"Eh, semangat ya? Semoga Noura kembali padamu." Deni memberi semangat dengan satu tangan mengepal ke atas.
"Iya, terima kasih. O ya, kamu buat saja proposalnya, aku akan lihat."
Pria bule itu pun segera kembali ke mobilnya. Ia berusaha menelepon istrinya tapi tak diangkat.
Noura, kau di mana? Selama bersamaku, kau akan tetap bersamaku. Takkan kubiarkan kesalahpahaman konyol ini membuat kita tercerai-berai. Aku takkan menyerahkan kamu pada siapapun, bahkan Ryan sekalipun!
Pria itu menjalankan mobilnya.
----------+++---------
"Nak Ian? Oh, ada kabar apa, tumben datang mengunjungi Ibu di sini," ucap wanita paruh baya itu menyambut Ian di ruang tamu.
"Oh, hanya kebetulan lewat. Ibu sendiri?"
"Lho, Ayah 'kan kerja, jadi ibu di rumah sendiri."
"Tidak ada Noura ke sini?"
"Noura? Tidak. Kenapa, apa dia bilang mau ke sini?"
"Oh, tidak. Handphone-nya tidak bisa dihubungi jadi waktu lewat rumah Ibu, aku coba mampir ke mari."
"Bukannya dia bekerja?" tanya ibu heran.
Ian baru sadar, hari itu adalah hari kerja kantor sehingga mertuanya berpikir begitu. "Eh, dia bilang hari ini mau keluar siang. Aku pikir dia datang ke sini," ujar Ian berbohong.
"Oh, tidak. Dia tidak datang ke sini."
"Ya, sudah. Ibu, Saya pamit ya? Saya hanya mau menjemput Noura saja, terus ke kantor lagi." Ian pun pamit. Segera ia kembali ke mobilnya.
Di mobil, Ian menelepon Vincent. "Halo, Vin."
"Oh, Ian. Ada apa?"
"Apa istriku sudah masuk kerja?"
"Istrimu? Apa dia sudah pulang?" Vincent balik bertanya.
"Belum masuk kerja ya?" Ian sedikit kecewa. "Bagaimana dengan Ryan?"
"Ryan? Dia izin sakit. Ini, apa hubungannya dengan Ryan?" Vincent semakin bingung.
Ian serba salah. Ia bisa saja meminta alamat Ryan dan mendatanginya, lalu merebut istrinya, tapi cara-cara kekerasan ini takutnya malah membuat istrinya tak mau kembali padanya.
Padahal mereka terpisahkan karena masalah yang dianggap sepele oleh Ian karena itu ia tidak bisa menjatuhkan Ryan. Sekarang, istrinya percaya pada pria itu. Karena itu ia harus mencari cara memisahkan mereka dengan cara baik-baik. "Eh, tidak. Mereka berteman 'kan? Mungkin dia tahu."
"Berteman? Istrimu selalu berteman akrab dengan teman wanitanya. Aku tidak pernah lihat dia akrab dengan teman pria termasuk Ryan. Ryan itu malah pegawaiku yang paling pendiam di kantorku. Dia jarang bicara."
Ian terkejut. "Benarkah?" Jadi sebenarnya ada sesuatu di antara mereka atau tidak? Atau istriku sedang membohongiku?
"Oh, kalau begitu, nanti aku hubungi lagi Noura. HP-nya kebetulan tidak aktif." Tak lama, Ian mematikan handphone-nya.
Noura, kau di mana? Uh! Ian gemas hingga mengangkat kedua tangannya yang dikepal.
Tenang, tenang Ian. Kalau menghadapi Noura kau harus tenang. Ia menyemangati dirinya. Pelan-pelan kamu akan mendapatkan istrimu kembali, Ian. Pelan-pelan. Aku harus sabar. Kau akan kembali padaku 'kan, Noura?
Ryan memang tidak masuk kerja hari itu karena dia menemani Noura ke rumah sakit. Wanita itu kembali mengeluh sakit di pinggulnya sehabis sarapan sehingga Ryan melarikannya langsung ke rumah sakit. Noura terpaksa dirawat.
Ryan terlihat bingung. "Noura, aku rasa suamimu berhak tahu, kamu sakit apa."
"Dan menolakku? Aku tidak mau sakit hati lagi Ryan."
"Tapi setahuku miom itu bisa disembuhkan, Noura."
"Tapi tidak kalau yang sudah parah. Aku tidak tahu kondisiku, jadi aku tidak mau memberinya harapan. Aku tidak bisa memberinya keturunan. Sudah, jangan bikin aku menangis lagi." Air mata Noura kembali menetes.
Ryan terpaksa diam. Ia tak tahu lagi bagaimana menanggulangi masalah ini. Yang ia tahu, ia bukan mahram-nya. Kalau terjadi sesuatu pada wanita itu, ia pasti akan disalahkan oleh suami wanita itu.
____________________________________________
Masih semangat baca 'kan? Jangan lupa vitamin author agar author juga semangat nulis. Seperti biasa, like, vote, komen dan hadiah. Ini visual Ian yang semakin stres akan kisruh rumah tangganya. Salam, ingflora. 💋