
"Itu tandanya kau sudah bercerai dengannya, Vika." Ayah masuk ke kamar Vika memberi tahu.
Wanita itu makin tercengang. "Yah, dia 'kan cuma mengertakku, Yah," ucapnya harap-harap cemas tentang kebenaran yang diucapkan ayahnya.
"Tidak. Bilang suami sudah bilang cerai pada istrinya, itu sudah talak." Ayah melirik pada Deni yang menundukkan kepala padanya.
"Maafkan aku, Pak." Deni termangu. Ia sendiri menyesal kenapa dengan cepatnya ia mengatakan itu, padahal ia hanya berniat untuk menakut-nakuti Vika saja tapi karena terbawa emosi, ia terlanjur mengatakan itu.
"Sekarang kalian bukan lagi suami istri. Deni bisa pulang tapi Vika sudah tidak boleh bercampur dengan Deni lagi karena haram, kecuali Deni menerimamu kembali."
"Mas!" panggil Vika lirih. Wanita itu syok.
Di kepala pria itu berkecamuk begitu banyak pertanyaan yang ia sendiri tak sanggup menjawabnya. Tidak sekarang. Ia masih butuh waktu. "Eh, maaf, Pak. Aku permisi pulang." Ia buru-buru turun ke bawah membuat wanita itu panik.
"Mas ... Mas Deni!" Vika mengejar tapi ayah menahannya.
"Vika ... kau sudah tak boleh bersamanya."
"Tapi Ayah ...." Vika meminta belas kasihan ayahnya.
"Kau lihat sendiri, suamimu tidak peduli."
Vika mulai menangis. "Mas ...."
"Kau selalu menguji kesabarannya, sekarang kau tahu, sabarnya ada ujungnya. Kau tak bisa lagi mengharapkannya sabar karena kini ia tak peduli."
"Ayah, Mas Deni, Yahhh," tangis Vika saat lututnya lemas menerima kenyataan ini. Ia jatuh terduduk di hadapan ayahnya.
"Padahal, hanya dia yang paling sabar menghadapimu, tapi kau buat dia pergi. Kini, siapa lagi yang akan memanjakanmu, selain orang tuamu, hah?"
Vika menangis meraung di lantai karena tak mampu berdiri. Tubuhnya benar-benar lemas mengetahui kenyataan ini.
"Sekarang kau telah jadi janda, Vika. Telah jadi janda."
Deni mendengar tangisan Vika dari luar kamar. Ibu yang terkejut, melihat Deni melangkah menuruni anak tangga. Pria itu menganggukkan kepala dengan hormat saat bertemu ibu dan bergegas keluar rumah.
Kini, ibu bertanya-tanya dalam hati apa yang telah terjadi.
---------+++--------
Pintu diketuk dan dibuka perlahan. Deni menengok ke dalam. Ia melihat Ian sedang mengobrol dengan istrinya.
"Oh, Den. Masuk Den," panggil Ian pada pria itu.
"Aku ingin menengok, karena kudengar Noura habis operasi," ujar pria itu seraya melangkah ke dalam sambil membawa keranjang buah.
"Iya, sedang pemulihan. Eh, kamu sendiri?" ucap Ian melihat pria itu sendirian.
"Eh, iya. Soalnya aku mau langsung ke kantor," dalih Deni. Padahal Ian dan istrinya tahu, Vika sedang berada di rumah orang tuanya.
Deni menyerahkan keranjang buah yang dibawanya pada Ian.
"Makasih, Den."
"Iya, tidak apa-apa."
"Eh, nanti proposalnya ya? Sedang dipelajari." Ian meletakkan keranjang buah di atas meja nakas.
"Oh, tidak apa-apa, pelan-pelan saja."
"Proposal apa?" tanya Noura yang sedari tadi diam, penasaran.
Keduanya langsung ribut.
"Oh, hanya itu kok ...," ucap Ian cepat.
"Iya, cuma hal biasa."
Dan kemudian hening. Noura mengerutkan alisnya.
"Oh, ya." Deni mengangguk-angguk. Ia kemudian beralih menatap Noura. "Bagaimana? Sudah lumayan sehat?"
"Eh, tinggal menyembuhkan luka pasca operasi," sahut wanita itu.
Deni tersenyum. Ia tidak tahu selama ini Noura dan Vika tidak pernah akur. Padahal di depannya mereka terlihat baik-baik saja, walaupun memang di belakang Noura, Vika sering menjelek-jelekkan Noura tapi bagi Deni saat itu, itu hanya obrolan wanita biasa yang sering menggosip di sana-sini.
Ia merasa malu pada Noura. Wanita ini menikah pada pria yang menyelamatkan hidupnya, tapi kenapa saudara kembarnya sendiri malah tidak bisa menghargai saudaranya.
Setelah mengobrol sebentar, Deni pun pamit pulang. Ia mengendarai mobilnya langsung ke kantor.
Baru saja menjejakkan kaki di kantor, ia terkejut mendengar dari sekretarisnya, sang istri menunggu di ruang kerjanya. Ia segera masuk.
Dilihatnya sang istri menunggu di kursi sofa dan berdiri setelah melihat ia datang.
"Eh, Mas." Wanita itu terlihat bingung dan canggung.
"Mau apa ke sini?" Pria itu melangkah ke meja kerjanya.
"Aku bawakan ini, makanan kesukaan Mas. Opor ayam." Vika mendatanginya sambil membawa bungkusan plastik di tangan dan meletakkannya di atas meja.
Deni hanya melirik bungkusan itu dengan acuh. "Beli?"
"Eh." Vika tak tahu harus bicara apa melihat pria itu kini acuh padanya. Ada sejumput rasa bersalah mengalir dalam darahnya.
"Sudah? Ada lagi? Aku mau bekerja sekarang," ucap Deni dingin.
Ingin rasanya Vika menangis saat itu. Pria itu kini telah berubah menjadi manusia yang tidak dikenalnya dan sedingin es. "Apa kita sudah tidak bisa kembali?" Wanita itu menunduk lesu. Lututnya lemas saat mengucapkan itu. Ia yang tidak pernah mengemis, kini melakukannya.
Deni hanya melirik wanita itu tanpa berniat menjawabnya. Vika, yang berusaha menunggu tak juga dapat jawabannya. Akhirnya ia membalikkan tubuhnya melangkah ke arah pintu.
Belum sampai ia di pintu, tiba-tiba tangan Deni menyambarnya. Pria itu menariknya keluar kantor. "Aku ingin bicara denganmu."
Vika pasrah. Antara berharap kembali atau tidak akan pernah menemui pria itu kembali, ia pasrah.
Deni membawa Vika turun melalui lift hingga ke parkiran di lantai paling bawah. Mereka kemudian naik ke dalam mobil Deni.
Pria itu membawa mobilnya keluar gedung. "Aku ingin punya istri yang penurut." Deni membuka percakapan. "Yang tinggal di rumah, belajar masak, dan tidak membantahku," ucapnya pelan. "Apa kau sanggup melakukan itu?"
"Aku bisa melakukannya," ucap Vika tanpa berpikir.
"Benarkah? Aku tak yakin kau bisa melakukannya. Itu bukan kamu. Sebaiknya kamu menyerah saja. Biarkan itu diisi oleh wanita lain."
"Aku bisa!" teriak Vika, tapi kemudian ia memelankan suaranya. Ia takut telah salah bertindak. "Beri aku kesempatan." Ia hampir menangis. Ia benar-benar ingin kembali pada suaminya tapi tak tahu caranya. "Mas, beri aku kesempatan ... sekali lagi." Kali ini air matanya jatuh.
Deni melihat Vika menitikkan air mata saat ia masih menyetir. Ia tak tega. Benar-benar tak tega. Biar bagaimanapun, ia punya banyak kenangan dengan wanita itu yang tak mudah untuk ia lupakan. Momen-momen bahagia yang mungkin tidak bisa ia dapatkan pada wanita lain, karena memang, cintanya sejauh ini hanya pada Vika seorang.
Pria itu menghela napas pelan. "Ya sudah, baiklah."
Tiba-tiba Vika melepaskan seatbelt dan mencondongkan tubuhnya ke arah pria itu, lalu memeluknya. "Makasih, Mas."
Deni yang tidak siap, terkejut. "Eh, Vika. Tunggu!" Segera pria itu menepikan mobilnya.
Namun Vika tidak berhenti sampai di situ saja. Ia mencumbu suaminya.
"Vika. Eh ...." Pria itu panik.
______________________________________________
Intip karya author yang satu ini ya?
Sana merupakan gadis sukses yang berprofesi sebagai CEO, kini bekerja di sebuah perusahaan agensi ternama. Ia memiliki teman masa kecil, Victor. Tanpa sepengetahuan Sana, Victor menandatangani kontrak di perusahaan agensi yang di pimpin oleh Sana. Karena hubungan mereka sangat dekat, akhirnya Sana dan Victor memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.
Namun masalah datang ketika orangtua Sana memutuskan menjodohkan Sana dengan anak teman lama mereka, Jay yang merupakan pemilik agensi yang di pimpin oleh Sana. Keduanya sama-sama tidak tertarik dan tak saling mengenal tetapi seiring berjalannya waktu Sana bimbang akan pilihannya.