CEO And The Twins

CEO And The Twins
Umroh



"Aku ... boleh ikut?"


Kembali tak ada jawaban.


"Eh, ya sudah. Pergilah. Aku mengizinkanmu," ucap pria itu pelan.


"Terima kasih, Bang." Telepon dimatikan.


Ian menghela napas pelan. Ia ingin bicara banyak pada istrinya tapi wanita itu hanya meminta izinnya lalu kemudian mematikan handphone.


Apa ia tidak merindukanku? Atau masih marah? Aku sangat merindukannya.


-----------+++---------


Noura ternyata sangat menikmati perjalanan umroh itu, bersama dengan rombongan orang-orang Indonesia teman Rahina, wanita pengusaha yang baru dikenalnya itu. Mereka mengobrol bersama sepanjang perjalanan.


Pada akhirnya, Noura memutuskan untuk kembali pada suaminya, selepas pergi umroh. Ia bercermin pada kisah hidup Rahina yang memaafkan kesalahan suaminya yang sudah menorehkan luka dengan mengkhianati kepercayaannya.


Tidak mudah memang memberikan kepercayaan kembali, tapi dalam cinta, bukan bagaimana bisa saling percaya, tapi bagaimana bisa saling memaafkan sebab terkadang ada hal-hal yang tidak bisa diubah seperti misalnya, sifat manusia.


Rahina saja, yang dikhianati begitu hebat bisa memaafkan, kenapa ia yang hanya karena syok mendengar kenyataan, tak bisa melupakan? Sejauh ini, ia bisa melihat suaminya berusaha membuktikan bahwa pria itu mencintainya. Apa hal ini saja, tidak bisa menjadi pegangan untuk menghapus segala yang terjadi di masa lalu?


Rombongan umroh Noura yang datang dengan bus, baru saja turun dari bukit melihat gua Hira. Udara saat itu tidak terlalu panas sehingga mereka menyempatkan diri berfoto-foto sejenak sebelum kembali ke dalam bus.


Saat sebelum turun, Noura sudah merasakan pegal di sekitar pinggulnya. Ia memang sedang haid hingga kemarin ia tak bisa masuk mesjid karenanya, tapi saat ia berada di dekat bus ia merasakan pusing hingga pemandangan gelap. Wanita itu pingsan seketika.


Tentu saja rombongan itu langsung ramai mendekatinya. Seorang pria segera menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam bus. Semua anggota rombongan segera mengikuti dan bus berangkat menuju ke rumah sakit terdekat.


Noura terbangun kemudian dan menyadari dirinya sudah berada di dalam rumah sakit.


"Ah, Noura. Kau baik-baik saja?" Rahina tengah menggenggam tangannya duduk di samping tempat tidur.


"Kenapa aku di sini?"


"Kamu pingsan tadi," jawab wanita itu setengah khawatir.


"Noura, kamu baik-baik saja?" ucap seorang wanita.


Ternyata teman-teman Rahina juga ada di sana menemaninya. Mereka mengkhawatirkan Noura.


Noura sangat terharu melihat teman-teman satu rombongan berada di sekelilingnya hingga ia menitikkan air mata. "Terima kasih ya, kalian semua," ucapnya lemah.


"Noura, jangan begitu!" Seorang wanita menyentuh lengannya.


Beberapa pria hanya melihat dari jauh.


"Kamu lagi haid ya, Noura. Banyak noda darah di pakaianmu. Aku sudah bawakan pakaian ganti dan pembalut wanita untukmu," ucap salah seorang wanita yang lebih muda.


"Terima kasih ya? Memang haidku lagi banyak belakangan ini."


Tiba-tiba pintu diketuk dan seorang dokter masuk. Dokter itu memeriksa Noura. Ia menyarankan agar Noura dirontgen.


Setelah berganti pakaian dan dirontgen, Noura kembali menunggu dokter di ruang perawatan.


"Kamu sebenarnya sakit apa, Noura?" tanya Rahina penasaran.


"Aku tidak sakit apa-apa, hanya haidku kadang lama dan banyak."


"Oh."


Dokter tadi kembali datang. Salah satu dari rombongan, seorang pria yang tadi menterjemahkan bahasa Arab dokter itu, kembali mendekat. Sisanya kemudian keluar kamar karena merasa percakapan mereka sangat pribadi.


Dokter itu melihat hasil rontgen ketika Noura berusaha duduk. Dokter itu kemudian bicara pada pria itu dalam bahasa Arab.


Rahina dan teman-temannya menunggu di luar, penasaran. Mereka harap-harap cemas dengan hasil diagnosa dokter.


"Mudah-mudahan Noura tidak apa-apa ya?" ucap seorang wanita berbaju hitam khawatir.


"Iya. Padahal aku juga curiga dari beberapa hari ini aku lihat makannya sedikit. Katanya lagi haid, perutnya pegal jadi kurang nafsu makan," terang wanita yang bertubuh sedikit gemuk.


Tak lama pintu terbuka. Dokter itu keluar dengan wajah datar dalam gegas.


Teman-teman Rahina bersama wanita itu segera berhambur masuk dan menghampiri Noura.


"Mbak." Noura mengalunkan tangannya di leher wanita itu. Ia memeluk wanita itu sambil menangis.


Melihat itu mereka makin cemas. Kini semua mata tertuju pada teman pria mereka yang tadi berbicara dengan dokter itu, tapi pria itu sepertinya bingung harus bagaimana.


------------+++----------


Pria itu melambaikan tangan pada kedua orang tuanya. Ia tersenyum sambil membetulkan letak kacamatanya. "Oleh-olehnya ya?"


Kedua suami istri paruh baya itu hanya tersenyum dan masuk ke ruang tunggu sambil membawa tasnya.


Pria itu kemudian membalikkan tubuhnya tapi kemudian ia terkejut. Seseorang yang ia kenal melintas di depannya. Ia mencoba memastikan pandangan. "Noura?"


Wanita itu menoleh. "Ryan?"


"Kau sudah pulang dari jalan-jalan? Suamimu mana?"


Noura terkejut. "Eh ...."


-------------+++---------


Noura dan Ryan tengah duduk berhadapan dibatasi sebuah meja kotak di kafe bandara itu. Wanita itu tertunduk sedang Ryan menatap wanita itu dalam bimbang.


"Aku mohon padamu, Ryan. Aku minta tolong. Hanya padamu aku mengatakan hal ini dengan sejujur-jujurnya."


"Aku juga ingin jujur padamu."


Noura mengangkat kepalanya.


Pria itu menelan salivanya dengan teramat sulit. "Aku ... mencintaimu."


Noura terkejut. Ia tidak pernah mengira pria itu menyukainya, apalagi sehari-hari di kantor pria itu selalu bersikap biasa saja layaknya teman. Ia memperlakukan Noura sama seperti memperlakukan teman-teman yang lainnya, hingga sulit untuk Noura mempercayai ucapan Ryan barusan. "Kamu, bercanda 'kan, Ryan?"


Pria itu meraih tangan Noura yang berada di atas meja. "Aku tidak bercanda, Noura. Kita tidak usah pura-pura. Aku benar-benar ingin menikah denganmu."


Noura menarik tangannya turun ke bawah meja. "Tapi dengan kondisiku seperti ini ...."


"Itulah cinta. Aku mencintaimu apa adanya. Kalau pria bule itu menolakmu, menyakitimu, bahkan meninggalkanmu, penawaranku takkan berubah. Aku ingin menikah denganmu, Noura. Hidup bersama denganmu," ucap pria berkacamata itu mantap.


Noura masih sangsi karena ia pernah merasakan janji-janji yang hanya di mulut saja. "Eh, Ryan. Terima kasih atas penghiburanmu."


"Noura, aku ...."


Noura mengangkat tangannya mengkode untuk berhenti. "Sekarang bagaimana kalau kita fokus dulu dengan yang aku ucapkan tadi. Aku mohon pertolonganmu."


"Baiklah, akan aku lakukan." Ryan tahu Noura sedang kesulitan karena itu ia tidak ingin mendesaknya atau membuatnya semakin bingung karena itu ia segera menyetujuinya.


------------+++----------


Ian kembali ke kantornya setelah berkeliling gedung menemui beberapa stafnya.


"Pak, ada tamu. Katanya keluarga," ucap sekretarisnya.


"Keluarga?" Pria itu bergegas masuk ke dalam ruang kerjanya dan betapa terkejutnya ia melihat siapa yang datang. "Vika? Untuk apa kamu datang ke sini?"


"Oh, Ian. Aku ingin bicara padamu." Wanita cantik itu segera menyambut kedatangannya dengan berdiri menghadapnya.


"Untuk apa?!" Nada bicara pria itu sedikit marah, sebab karena Vikalah, Noura meninggalkannya.


"Oh, jangan begitu." Suara wanita itu sedikit mendayu-dayu.


Ian sudah hapal, bila Vika menginginkan sesuatu, ia selalu begitu. "Apa maumu?"


"Mmh, pria tampan sepertimu, masa hanya memikirkan Noura saja. Kau tidak ingin memiliki aku juga?" Wanita itu menyentuh dagu pria itu.


Bersamaan dengan itu, pintu terbuka. Noura masuk dan tertegun melihat keduanya. Apalagi posisi keduanya yang sangat mengundang tanda tanya.


"Kalian?" Mata wanita itu membulat sempurna.


"Noura, Sayang?" Ian terkejut dengan kedatangan Noura yang tiba-tiba, tapi kemudian Ian menyadari posisinya dengan Vika yang mengundang curiga. Segera ia mendorong Vika menjauh sehingga wanita itu hampir saja terjatuh. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Sayang ...." Sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya, istrinya berbalik dan bergegas menjauh.


"Damn!(sialan)" Sekilas ia melirik Vika dengan sorot mata tajamnya dan lalu mengejar istrinya.