
"Hah ...." Noura merasakan dingin di seluruh wajah, bahkan airnya ada yang hampir masuk ke hidungnya.
Ian pun tercengang. "Apa yang kau lakukan pada istriku!!" teriak Ian marah.
Orang-orang yang sedang makan di dalam restoran pun menengok ke arah pintu belakang dan bukan itu saja, Noura dan Vika juga terkejut melihat kehadiran pria itu di sana.
"Eh, Ian ... ka-kamu ...." Vika terlihat cemas.
"Bang ...?"
Pria itu segera meraih tangan istrinya dan membawanya ke parkiran meninggalkan Vika sendirian di sana. Ia membawa Noura ke mobil.
"Bang ... eh, Bang ...." Noura seperti ketakutan.
Pria itu membukakan pintu untuk sang istri dan membantu menutupnya setelah wanita itu masuk. Ia kemudian masuk di sisi yang satunya. Tanpa berkata apa-apa ia segera menjalankan mobil.
"Bang ... eh, Bang. Jangan bilang Ibu ya, Bang," pinta Noura dengan suara pelan. "Bang." Wanita itu terlihat khawatir. Ia menyentuh lengan pria itu pelan.
Ian terpaksa menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Pria itu bingung, kenapa Noura masih membela saudara kembarnya padahal jelas-jelas wanita itu telah menindasnya tanpa peduli dengan pembelaan yang telah diberikan. Ia pun juga merasa bersalah karena selama ini ia telah salah sangka tentang istrinya.
Bukankah selama ini ia mencari istri yang bisa mencintainya apa adanya, tanpa memikirkan asal usul diri? Bukankah Tuhan telah memberikannya, kenapa ia buta, kenapa?
"Noura, kenapa kau berbeda dengan Vika?"
"Apa?"
Bodohnya aku. Kenapa aku tidak melihat berlian yang asli di depanku sementara aku masih mencaci berlian palsu yang kudapat sebelumnya? Mereka kembar ... tapi tidak sama. Harusnya aku tahu itu. Sifat mereka saja berbeda, Vika yang bebas dan Noura yang terikat budaya. Dari awal mereka berbeda, kenapa aku tidak melihatnya? Hah ... amarahku pada Vika telah membutakanku. Aku berhutang banyak padamu, istriku.
Lidah Ian keluh. Ia tidak tahu harus mulai dari mana sementara Noura menunggu sambil menatapnya.
"Bang ...," ucap Noura lagi. "Jangan bilang Ibu ya, Bang, kasihan Vika."
Setelah apa yang dilakukan Vika padanya ia masih membelanya? Noura ... setelah apa yang aku lakukan, apakah kau begitu juga padaku? Ian menatap kedua bola mata lembut itu yang menatap ke arahnya. Ditangkupnya wajah itu dengan kedua tangan. Wajahnya dingin dan masih basah.
"Bang ...."
"Noura, tolong dengarkan aku ya?"
"Iya?"
Ah, sial. Aku jadi ingin menangis mengingat dosa-dosaku padanya. "Eh, begini saja. Kau ikuti saja perintahku." Pria itu kembali memegang stir. Ia menyalahkan mesin mobilnya.
"Kita mau ke mana, Bang?"
Pria itu tak lagi bicara. Ia kini fokus menyetir. Noura yang kebingungan terpaksa membiarkan suaminya menyetir tanpa banyak bicara hingga mereka mendatangi sebuah Mal.
"Kita ke Mal ini?"
"Mmh."
"Untuk apa?"
"Untuk mengganti jilbabmu yang basah. Kita tak mungkin pulang 'kan? Kau mau Ibumu tahu, kau baru saja disiram Vika?"
"Eh, tidak." Wanita itu menggeleng cepat.
"Nah, dengarkan saja perintahku."
Wanita itu mengangguk. Di Mal, Ian mencarikan Noura jilbab baru beserta baju baru, karena bajunya juga basah. Pria itu memilihkan baju yang pantas untuk istrinya.
"Ini saja." Ian menyodorkan sebuah kemeja wanita yang terlihat feminim pada Noura.
"Jangan di toko ini, Bang, mahal," bisik Noura di telinga suaminya membuat pria itu hampir tertawa.
Ian meraih tangan istrinya. "Tapi kau lebih pantas pakai ini. Coba, pakailah. Perkara harga, biar aku yang membayarnya."
"Tapi, Bang, ini terlalu mewah untuk ke kantor." Wanita itu mematut diri di depan cermin dengan meletakkan baju pemberian suaminya di depan tubuhnya.
"Kau 'kan istriku. Ayo, cepat ganti. Nanti kamu masuk angin dengan baju yang basah begitu."
"Mmh." Ian menopang dagunya dengan tangan.
"Kurang bagus, Bang?"
"Jadi ukuranmu S ya?"
"Apa?" Noura terkejut dengan jawaban yang berbeda dari sangkaannya.
"Ini, aku sudah pilihkan beberapa. Kau ganti saja celana panjangmu itu dengan yang baru. Ini, pakailah." Ian menyodorkan sebuah celana panjang bahan yang sedikit longgar di pinggul. Seorang pramuniaga berdiri di samping suaminya dengan membawa beberapa potong pakaian.
"Tapi celananya tidak basah."
"Tidak cocok warnanya dengan kemejamu. Ayo, ganti saja."
Akhirnya, Noura menuruti suaminya berpindah ke sana kemari dan mencoba ini itu di tempat yang berbeda-beda. Bahkan Ian membelikannya sepatu beberapa pasang.
"Untuk apa?"
"Ya, untuk macam-macam keperluan seperti ke pesta misalnya."
"Tapi, Bang, aku mau ke kantor. Lihat, belanjaanmu sudah banyak dan menumpuk itu di lantai." Noura menunjuk tas belanja suaminya yang bertumpuk di lantai, dan ia tak tahu lagi bagaimana cara membawanya.
"Oh, jangan khawatir, salah satu satpam di rumah sudah kusuruh ke sini untuk mengambil belanjaan. Sebentar lagi dia datang."
Benar saja. Tak lama, salah seorang satpam di rumah datang dan mengambil tas belanja yang menumpuk itu, dan tidak hanya sekali tapi berkali-kali karena Ian terus mengajak istrinya belanja.
"Sudah Bang. Ini dari tadi kita belum makan siang. Aku tidak tahu kalau Abang sudah, tapi aku belum," protes Noura.
"Eh, iya. Aku juga belum." Pria itu tersenyum. "Aku lihat wajahmu masih berantakan. Kita ke salon dulu bagaimana?"
"Aku lapar, Bang," protes Noura mengerucutkan mulut seraya memegang perutnya.
"Eh, iya. Ya sudah."
Mereka kemudian memilih restoran Itali dan makan di sana. Noura memesan piza agar bisa cepat makannya.
"Sudah ya, Bang, belanjanya. Aku tidak mau punya hutang budi pada orang lain."
Ian terkejut mendengarnya. "Tapi aku membelikannya untukmu, Noura."
"Tidak perlu karena aku tidak butuh ini semua. Aku hanya butuh baju ganti, bukan belanja sebanyak ini. Kita 'kan hidup sendiri-sendiri jadi aku tidak mau menyusahkanmu lagi."
Ian syok, tapi Noura begitu juga akibat ulahnya sendiri. "Noura, aku membelikan semua ini dengan hati yang tulus untukmu."
Noura masih mengunyah pizanya. "Terima kasih. Kau sudah mau menyembunyikan kesalahan Vika, juga terima kasih, tapi aku masih bingung memikirkan pernikahan kita. Aku rasa ...."
Ian segera memotongnya. "Noura, aku janji, aku akan jadi suami yang baik untukmu. Ak—"
"Bang, aku lelah," sela wanita itu. Ia terlihat mulai menyerah. "Kau selalu berjanji tapi tak pernah menepati, aku lelah ... A-aku lebih baik sendiri daripada ...."
"Kita tak usah membicarakan hal yang berat-berat dulu ya? Eh, kamu 'kan mau ke kantor," kilah pria itu merubah haluan cerita.
"Eh, ya." Noura buru-buru mengunyah.
"Jangan buru-buru nanti kamu tersedak, Noura." Pria itu mengingatkan. Tentunya kini Ian punya banyak hal yang disesalinya. Istrinya yang baru beberapa hari ini dinikahinya masih memikirkan soal perceraian. Ia punya banyak pekerjaan rumah kalau ia ingin mendapatkan hatinya kembali.
Seusai makan, Ian membawa istrinya ke suatu tempat.
"Bang, aku mau ke kantor!"
"Kita ke sini dulu sebentar."
Mereka memasuki toko kacamata.
"Bang, kacamataku masih bagus. Aku masih bisa lihat," protes wanita itu.
"Bagaimana kalau kontak lens?"