CEO And The Twins

CEO And The Twins
Penantian



"Noura ...." Pria itu terlihat bingung, tapi kemudian ia menyadari istrinya butuh waktu dan pemikiran mendalam hingga ia tak mau diganggu. 'Baiklah bila itu maumu. Aku akan menunggumu dengan sabar. Noura, aku sangat mencintaimu. Aku berharap, kau kembali padaku.'


Tak ada jawaban dari sana, tapi Ian yakin istrinya membaca pesan terakhirnya.


Malam-malam penantian dilalui Ian sendiri tanpa istri di sampingnya. Tentu saja ada kalanya rindu mendera membuat pria itu memeluk guling membayangkan wanita itu hadir dalam pelukan, tapi terkadang bukan hanya kenangan saja yang datang menemani, rasa bersalah dan air mata ikut membuat pria itu sulit tidur.


Menerka-nerka dan menahan ingin, ia lakukan agar bisa lebih sabar lagi menanti. Sulit menahan rindu bila datangnya menggebu-gebu tapi ia berusaha bertahan agar ia bisa mendapatkan jawaban yang sepadan.


Kadang saat rindu teramat sangat, ia pergi ke beranda kamarnya untuk melihat langit malam. Kini ia tahu, ia tak lagi rindu kampung halamannya karena ia kini punya tempat berpulang. Kepada sepasang bola mata teduh milik istrinya, Noura.


----------+++---------


Sebuah pesan masuk. Pria itu membukanya. 'Istri Bapak kini pindah ke Mesir.' Ian mengusap kasar wajahnya, tapi ia tak berani bertanya pada istrinya.


Bantu aku melewati cobaan ini ya Allah, doanya dalam hati.


-----------++++--------


Noura baru saja menyelesaikan sholat istikharahnya, lalu ia berdoa.


Bantu aku, ya Allah. Bantu aku memilihkan mana yang terbaik untukku. Aku hanya manusia yang penuh dengan kekhilafan, jauh dari kata sempurna tapi aku meminta petunjukmu, ya Allah. Jalan mana yang harus kutempuh.


Aku sangat mencintai suamiku, tapi aku juga takut terluka. Ia sudah melakukannya berulang kali dan aku tidak ingin lagi tersakiti. Walaupun aku masih mencintainya, tapi aku sulit untuk percaya lagi padanya. Haruskah aku memberinya satu kesempatan lagi? Ya Allah, berikanlah aku petunjukMu.


Seusai sholat Noura memandang keluar hotel lewat kaca jendela.


Apa hari ini kau melihat langit malam, suamiku? Malam ini banyak bintang terang di atas sana. Apa kau sedang merindukan Amerika? Maaf, aku tidak bisa menemanimu kembali malam ini. Maafkan aku yang masih saja ragu, tapi ... aku mencintaimu.


----------+++---------


Noura masuk ke sebuah restoran dan tak sengaja bersinggungan dengan seorang wanita. "Uh, maaf."


"Orang Indonesia?" tanya wanita itu menunjuk wajah Noura. Seorang wanita dengan hijab panjangnya.


"Eh ... iya."


"Ah, kebetulan. Aku tak punya kawan, karena aku telat makan siang. Kamu mau makan siang juga 'kan?"


"Eh, iya, Mbak tapi ...."


"Ayo, kita cari meja." Wanita itu menarik Noura untuk melihat-lihat tempat yang cocok untuk mereka makan bersama. "Ah, di situ saja dekat jendela."


Mereka mendatangi sebuah meja dekat jendela yang berada di sudut belakang restoran. Mereka kemudian memesan makanan.


Noura menatap wanita itu. Dari wajahnya terlihat, wanita itu lebih tua sekitar sepuluh tahun darinya.


"Kenapa?"


"Ah, tidak. Hanya heran saja. Kita bahkan belum berkenalan, tapi Mbak begitu percaya."


"Mmh, katakanlah ini insting."


"Insting?"


"Kita sama-sama orang Indonesia."


"Hanya itu saja?"


"Memangnya kenapa?"


"Apa tidak takut aku bohongi?"


"Oh, itu. Ya berarti aku tidak beruntung," jawab wanita itu dengan santainya.


Noura menatap wanita itu dengan heran. "Kau tidak kesal? Harusnya 'kan ini jadi pelajaran?"


"Aku sudah sering ditipu," jawabnya dengan wajah datar.


"Tapi kenapa tidak berhati-hati? Harusnya 'kan lebih selektif lagi."


"Itu bukan masalahku, itu masalah mereka."


"Hah? Apa maksudnya?"


Wanita itu tertawa. "Sebenarnya sederhana. Aku hanya ingin jadi manusia baik saja. Kalau ada yang menipuku, berarti ia memilih jadi orang jahat dan aku jadi orang baik. Lagipula, kita juga pasti pernah menipu orang 'kan? Seperti mencoba makanan teman yang tidak enak tapi mengaku enak."


"Itu 'kan lain cerita. Itu untuk kebaikannya."


"Eh." Noura kelimpungan.


"Kadang kita berpikir buruk saat seseorang berbuat jahat padamu. Menyakitimu, berbohong padamu bahkan menipumu, tapi ia melakukan itu karena sebuah alasan, makan berbaik hatilah. Tak perlu kau cari tahu alasannya karena masalahnya takkan pernah selesai. Maafkanlah dia, maka hatimu akan damai."


"Mana mungkin bisa kalau itu kejahatan serius dan ia melakukannya berkali-kali."


"Manusia tempatnya salah, mau bagaimana lagi?"


Noura benar-benar heran dengan jawaban wanita itu. "Bagaimana kalau itu suamimu?"


"Suamiku?" Wanita itu tersenyum. "Iyah, suamiku sering menipuku."


"Eh, aku tak bermaksud ...." Noura menjadi salah tingkah.


"Dulu ia ingin berbisnis lalu aku modali. Setelah sukses, ia menipuku. Ia berselingkuh dan menikah lagi."


"Apa ... Mbak cerai darinya?" Noura penasaran.


"Tidak, sebab aku mencintainya. Ia selingkuh karena aku tidak bisa punya keturunan padahal kemudian aku melahirkan anak untuknya. Ia tidak menceraikanku karena ia masih mencintaiku." Terlihat kepahitan di wajahnya.


"Kenapa Mbak tidak bercerai saja? Mbak kan bisa berbahagia dengan orang lain."


"Mmh." Wanita itu mengangguk. "Masalahnya, aku tidak bisa dengan yang lain. Hingga kini, aku tidak pernah menyesal menikah dengannya karena hingga kini aku masih mengenangnya. Suamiku sudah 2 tahun berpulang."


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Maaf, Mbak, aku tidak tahu." Noura dengan rasa bersalahnya.


"Tidak apa-apa." Ia memandang ke arah jendela. "Ini sebenarnya meja favorit kami. Setiap tahun aku datang ke sini untuk mengenangnya."


"Oh, begitu. Aku juga selalu memilih meja di belakang seperti ini."


"Benarkah?"


Seorang pelayanan membawakan makanan ke meja mereka.


"Oh, makanan sudah datang. Ayo, kita santap!" ajak wanita itu.


"Ah, ayo, Mbak," sahut Noura dengan senyum.


"Oh, aku ke sini dengan rombongan. Apa kau mau ikut denganku?"


"Ke mana?"


----------+++---------


Ian sedang meeting dengan stafnya di kantor ketika ia mendengar handphone-nya berbunyi. Ia sengaja selalu membawa HP-nya saat meeting sekali pun karena ia takut istrinya tiba-tiba menelepon seperti sekarang ini.


Ia terkejut melihat nama yang tertera pada handphone-nya. Segera ia membawa handphone-nya itu keluar ruangan dan mengangkatnya. "Halo, Sayang. Aku sangat merindukanmu."


"Eh, halo." Sedikit canggung bagi Noura bicara pada suaminya karena sudah begitu lamanya tidak menyapa.


"Kau di mana?"


"Aku di Mesir."


"Ya?" Istrinya masih di negara itu, berarti ada kemungkinan untuk pulang.


"Aku mau minta izin," ucap wanita itu pelan.


"Izin? Bukankah kau ingin pulang?"


Tidak ada suara di ujung sana.


Ian merasa bersalah. Seharusnya ia tidak buru-buru kembali mendesaknya. "Mmh, kau ingin izin apa, Sayang?" Ia berusaha melembutkan suaranya.


"Aku ingin umroh."


"Umroh?"


"Aku pergi dengan teman-teman di sini."


"Teman? Teman dari mana? Perempuan atau laki-laki? Bagaimana kau berkenalan dengannya?" Kembali pria itu menyesali kalimatnya yang bernada cemburu tapi ia penasaran dengan orang-orang yang dikenal istrinya.


"Eh, banyak, Bang. Orang Indonesia semua."


Saat itu rasanya pria itu ingin terbang ke sana dan menemani istrinya umroh. Ia ingin melihat siapa saja yang kini menjadi teman istrinya.