
Ternyata Ian dan Lily hanya terpaut setahun beda umurnya di mana Lily, adalah kakak Ian. Sejak kecil Lily selalu melindungi Ian yang berbadan lemah, tapi sejak mulai remaja Ianlah yang sering melindungi Lily.
Lily yang bertubuh mungil tidak secepat Ian yang tumbuh tinggi. Ian ikut olahraga basket sehingga tubuhnya cepat tinggi. Semakin dewasa, Lily semakin cantik dan Ian semakin tampan.
saat kuliah, karena beda jurusan, Lily dan Ian pulang sendiri-sendiri sehingga tidak ada yang tahu mereka bersaudara. Sampai suatu hari, ada seorang pemuda menyukai Lily di kampusnya dan ia adalah kakak kelasnya. Pemuda itu tidak suka ketika ditolak oleh Lily dan mengikuti gadis itu ke mana pun ia pergi, membuat Lily tidak merasa nyaman.
Karena saat itu Lily belum punya pacar, ia akhirnya meminta tolong adiknya, Ian menjadi pacar pura-puranya. Setiap hari Ian menemani kakaknya di kampus dan saling memanggil 'honey'. Begitulah, dan panggilan itu masih melekat pada mereka hingga kini.
Pertemuan keluarga itu sangat menyenangkan. Ayah Ian sangat menyukai Noura yang cerdas dan juga bisa berbahasa Inggris sedang Lily suka pada Noura karena punya ipar yang ramah yang juga sayang pada adiknya, Ian. Pertemuan itu berakhir 2 jam kemudian.
Lily memeluk Noura begitu juga ayah Ian.
"You're my daughter too.(kamu anak perempuanku juga)" ucap ayah Ian membuat Noura terharu.
"Thank you, Dad.(Terima kasih, ayah)"
Mereka pun berpisah. Dua hari kemudian Noura dan Ian sudah kembali ke Jakarta. Mereka menemui orang tua Noura sambil membawakan oleh-oleh.
"Wah, oleh-olehnya bagus," ucap Ibu ketika mengeluarkan oleh-oleh itu dari bungkusnya.
"Ibu sehat?" tanya Noura.
"Oh, alhamdulillah, Ibu sehat. Sayang, Ayah masih kerja di kantor, kalau tidak, ia pasti ingin bergabung di sini. Sudah lama 'kan kalian tidak pulang dari luar negri? Kamu juga Noura, baru pulang tugas dari luar negeri, berangkat lagi bulan madu ke luar negeri. Tidak apa-apa sih, bagi Ibu, yang penting kamu sehat."
Ibu hanya tahu, kepergian Noura keluar negri sebelumnya adalah tugas kantor.
"Nanti Bu, hari Minggu kami ke sini lagi biar bisa ngobrol sama Ayah."
"Mmh." Ibu tersenyum.
----------+++----------
"Wah, keren nih. Ryan nikah. Kita kapan ya?" teman-teman Noura berkumpul karena mendapat kartu undangan nikahan Ryan.
Yang lain tertawa.
"Ryan, kamu sudah kenal sama yang perempuannya ya, kok cepat mau nikahnya?"
"Oh, itu anak teman Ayah. Kebetulan dikenalin langsung cocok. Ayah langsung suruh lamar."
"Aduh, kapan ya aku bisa ketemu cowok terus langsung cocok?" Ajeng mulai berkhayal.
Noura tersenyum. Ia menatap kartu undangan yang diterimanya. Ryan, kamu pria yang baik. Semoga kamu bahagia ya?
Sebulan kemudian, Noura menghadiri pesta pernikahan Ryan yang diselenggarakan di sebuah gedung serba guna dekat rumah Ryan. Noura datang bersama suaminya. Pestanya cukup meriah. Noura bertemu dengan teman-teman kantor sedang Ian bertemu Vincent dan istri bersama buah hati mereka.
"Aduh, anaknya lucu-lucu ya?" Ian gemas melihat anak Vincent yang masih kecil-kecil. "Umur berapa ini?"
"Dea sudah 3 tahun dan adiknya Darma baru setahun."
Ian mengusap kepala Darma kecil yang sedang digendong istri Vincent. "Lucu ya?" Ia menoleh pada Noura yang terlihat aneh memandang suaminya.
"Makanya cepat-cepat bikin deh!" ledek Vincent pada Ian.
Ian tertawa.
---------+++---------
Dalam perjalanan pulang Noura terlihat banyak diam di dalam mobil.
"Kamu kenapa, Sayang. Tidak enak badan?" tanya pria itu khawatir.
"Mmh, tidak apa-apa." Noura sebenarnya kembali khawatir dengan kemampuannya untuk memiliki anak, sebab pasca operasi walaupun diluar rahim tapi dokter tidak bisa menjanjikan apa-apa.
Terdengar suara dering telepon yang berasal dari HP-nya. Noura segera mengangkatnya. Dari Vika. "Halo?"
"Oh, selamat ya?" ucap Noura datar.
"Mungkin aku ingin ngadain nujuh bulanan karena keluarga Mas Deni minta begitu. Nanti kamu datang ya?"
"Iya."
"Uh, aku kok gak tau ya udah 3 bulan aja hamil. Belakangan karena sering muntah-muntah makanya ke dokter. Eh, ternyata isi. Alhamdulillah."
Tak lama telepon pun ditutup. Noura tak dapat menutupi perasaan. Air matanya mengalir dengan sendirinya.
Ian yang tak sengaja melihat istrinya menangis tanpa suara, segera menepikan mobilnya. "Noura kamu kenapa?"
Noura makin terisak. Ia berusaha menahan air mata tapi tak kunjung berhenti hingga terpaksa ia mengusapnya.
"Sayang ...?" Ian membuka seatbelt-nya dan seatbelt sang istri lalu menarik tubuh Noura ke dalam pelukan. "Ada apa?"
"Rasanya aku jadi istri yang tidak berguna karena tidak bisa melahirkan anak." Wanita itu mulai menangis di dada bidang suaminya.
"Noura jangan bilang begitu. Aku mencintaimu," bisik pria bule itu di telinga istrinya.
Wanita itu masih belum bisa menghentikan tangisnya.
"Noura ...." Pria itu hanya diam. Ia mendekap erat istrinya hingga tangisnya berhenti. Ia menunggu dengan sabar.
Diusapnya kepala Noura pelan ketika tangisnya mulai berhenti. "Kau ingin punya anak? Kita ambil anak angkat saja, bagaimana?"
Noura menggeleng. Ia hanya mengeratkan pelukan.
------------+++-----------
Acara nuju bulanan Vika, akhirnya datang juga. Noura dan Ian ikut datang yang dilangsungkan di rumah orang tua Deni.
Sebenarnya Ian tidak ingin datang ke sana sebab sejak pesta pernikahan Ryan, Noura sehari-hari sering murung, tapi ia tak punya pilihan karena acara itu adalah acara nuju bulan saudara satu-satunya sang istri dan Noura berkeras untuk datang.
Noura melihat prosesi acara Vika yang disiram air oleh suaminya dari atas kepala. Wanita itu mengenakan sarung saat disiram dan terlihat bahagia. Perutnya sudah kelihatan membesar dan Vika terlihat gemuk.
"Sayang, kamu belum makan saat berangkat. Kamu tidak ingin mencicipi sedikit makanan di sini?" bujuk Ian khawatir.
Noura kini semakin kurus. "Nanti saja, Bang." Belum beberapa langkah ia menjauh, jalannya mulai sedikit miring.
"Noura." Ian yang melihat hal itu dengan sigap mengejarnya. Benar saja, Noura jatuh pingsan dalam pelukannya. "Noura!"
Tamu-tamu terkejut. Orang tua Noura pun serta Vika terlihat panik.
"Ian, dudukkan dia di kursi," pinta ayah.
"Tidak. Aku akan segera membawanya ke rumah sakit." Ian menggendong dan membawanya keluar rumah. Di keramaian, tamu-tamu banyak memberi jalan pada Ian sehingga ia bisa dengan segera sampai ke depan mobilnya dan seorang satpam membantu membukakan pintu dengan memberinya kunci mobil.
Ian benar-benar panik. Setahunya, operasi pengangkatan miom yang berada di luar rahim menurut dokter tidak bahaya walaupun ukurannya agak besar. Jadi sekarang, apa yang terjadi dengan Noura? Apa mungkin miom itu tumbuh lagi?
Berbagai macam pertanyaan berputar-putar di dalam kepala pria itu dan ia tetap tidak tahu jawabannya. Segera setelah sampai, Noura segera ditangani oleh suster dan dokter dan Ian menunggu dengan tak sabar.
____________________________________________
Sambil menunggu sambungan novel ini, yuk kita baca novel karya author ini.
Anyelir
Author: Hilmiath_
Anyelir adalah bunga paling kuat yang dapat bertahan selama dua minggu setelah di letakkan dalam vas bunga, bahkan bunga ini akan semakin terbuka kelopak nya saat berada lama di vas bunga. Begitulah sang pemeran utama dalam kisah ini. Tentang dia gadis kuat yang berusaha terlihat baik-baik saja di tengah luka yang di alaminya. Tanpa siapa yang tahu jika gadis tersebut memiliki gangguan Psikologis Self Injury. Setelah di hancurkan oleh keluarganya yang brokenhome gadis tersebut juga di hancurkan olah orang yang di cintainya. Tidak berhasil dalam percintaan memang, tapi ia memiliki sahabat yang selalu ada untuknya. "Akulah pemeran utama ini, pemeran utama yang hanya menjadi pemeran figuran untuk dia yang ku anggap akan menemaniku dalam setiap jalan kisahku,"