CEO And The Twins

CEO And The Twins
Permohonan Yang Tertindas



"Cinta? Apa kau memberiku cinta? Kau hanya memberiku nafsu, Bang."


"Dan kasih sayang," ucap Ian cepat. "Aku akan memberimu kasih sayang."


"Tapi aku tidak merasakannya." Wanita itu tertunduk sedih dan menarik kedua tangannya.


"Aku akan melakukannya mulai hari. Aku akan membuktikannya padamu," pria bule itu berusaha meyakinkan istrinya.


"Bang. Bukan apa-apa. Aku mempertaruhkan seluruh hidupku pada pernikahan ini, tapi apa yang kudapat? Kecewa. Aku sudah berusaha bertahan, tapi kini aku tak mampu lagi aku ...."


"No, no, no. Jangan pikirkan berpisah dariku, Noura, jangan pikirkan bercerai!" Pria itu terlihat panik dengan menyentuh kepalanya, sedang air matanya belum lagi surut.


"Ki-kita baru menikah 'kan, kita baru memulai. A-aku akan buat hidupmu senyaman mungkin denganku. Aku janji. Eh, tidak. Aku akan lakukan."


Ia kemudian mengganti strateginya. "Begini saja, eh, bagaimana kalau kau melakukan segala sesuatu seperti biasa dan anggap saja aku angin. Ya, angin lalu. Aku akan membantumu melakukan tugas-tugasmu dan kamu tidak usah mempedulikan segala ucapanku. Bagaimana? Asal kau tidak meninggalkanku aku juga akan mendengarkan kata-katamu, Noura."


Wanita itu terdiam.


"Please, don't leave me. I love you, I love you so much, Noura.( aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu, Noura)"


"Mmh." Noura tak bisa berkata apa-apa.


Sesaat mereka terdiam.


"Ini sudah malam, Sayangku." Ian menghapus air matanya. Pria itu kemudian merapikan selimut istrinya. "Sebaiknya kau cepat tidur."


Wanita itu memejamkan mata.


"Selamat tidur, Sayang. Terima kasih, kau telah memberiku kesempatan." Walau tersenyum getir, pria itu akhirnya bisa tidur nyenyak malam itu.


------------+++-----------


Vika gelisah. Suaminya telah tertidur di sampingnya. Ia tak bisa melupakan kejadian tadi siang yang merupakan kejadian yang paling memalukan dalam sejarah hidupnya.


Noura dan suaminya telah mempermalukannya di depan orang banyak. Belum pernah dalam hidupnya ia sedemikian malu hingga tak tahu harus disembunyikan ke mana wajahnya.


Vika adalah makhluk cantik yang dipuja banyak pria dan hidupnya tidak pernah melewati kesulitan.


Saat ia ujian saja, jaman sekolah dulu, banyak pria yang membantunya mendapatkan contekan, apalagi masalah hidup. Semua ia dapatkan dengan mudah solusinya, tapi kenapa kini ia merasa dijebak suami istri, Ian dan Noura dengan meneriakinya di tempat ramai seakan-akan ia telah melakukan kejahatan besar dan ditinggal saat semua mata tertuju padanya?


Ia merasa seperti maling yang ketahuan. Wanita itu harus menahan rasa malu seraya membayar makanan dengan sorot mata mencibir dari semua orang yang tertuju padanya. Ini tidak adil! Kenapa ia ditinggal sendirian! Kenapa ia diteriaki Ian, suami Noura saat itu, kenapa?!!


Kau curang, Noura. Kau curang! Aku sudah katakan untuk datang sendirian tapi ternyata kau datang bersama suamimu. Aku tidak terima penghinaan ini, ini sungguh terlalu! Ingat Noura, aku tidak akan rela kau bahagia bersama suamimu. TAKKAN RELA!


Kau mulai sombong sejak menikah dengan milyuner itu ya, tapi lihat saja. Aku akan membalas semua kejahatanmu padaku, INGAT ITU!! Vika mencengkram guling dihadapannya dengan gemas.


ELENOURA ZARIN, aku takkan berhenti membalaskan dendamku hingga aku melihat sendiri kau hancur dan kehilangan Ian Xander untuk selamanya!


------------+++------------


Noura terkejut saat bangun pagi dan baru menyadari, suaminya tengah mendekapnya saat tidur. "Ian ...."


Pria itu bergerak sedikit tapi malah makin mendekapnya erat.


Kepala wanita itu yang bersandar pada dada bidang suaminya membuatnya canggung. Segera ia bangun dan menjauh.


Gerakan Noura yang tiba-tiba membuat Ian terbangun dengan mata berat. "Mmh. Kenapa, Noura? Kau tidak nyaman, Sayang?"


"A-aku hanya ...."


"Mencari kesempatan saat aku tidur!" Wanita itu menautkan alisnya dengan bibir bawah menggulung.


"Eh, bukan begitu. Semalam kau tidur gelisah, jadi aku berusaha menenangkanmu," kilah suaminya.


"Bohong!"


"Benar kok." Namun melihat wajah istrinya yang sedang kesal, Ian mengalah. "Maaf, aku tidak bermaksud ...."


Belum selesai pria itu bicara, Noura telah turun dari tempat tidur. Ia segera ke kamar mandi. Ian menghela napas pelan.


Ternyata Noura berwudhu, terlihat dari tetesan air di dagunya.


"Kita berjamaah 'kan?"


Noura melirik kesal. Ian terpaksa harus menelan kecewa dan turun dari tempat tidur. Ia kemudian melangkah ke kamar mandi dengan menundukkan kepala. Namun ketika ia kembali, ternyata Noura menunggunya untuk sholat bersama.


"Noura, kau menungguku? Ah, iya. Aku akan segera bersiap-siap." Dengan gembira pria itu buru-buru mengenakan sarung sholatnya dan berdiri di tempat yang sudah disediakan istrinya di depan. Ia kemudian memimpin sholat.


Seusai sholat, Noura mencium punggung tangan suaminya dan pria itu mengecup keningnya. Wanita itu terkejut. Perlakuan suaminya memang sedikit berbeda dari sebelumnya tapi bukan itu saja ....


"Noura, boleh 'kan aku tetap mengantar jemput kamu ke kantor? Aku melakukannya karena aku menginginkannya. Aku menyukainya, mengantar jemput istriku ke kantor."


Mata Noura terbelalak. Dia bertanya? Bertanya padaku? Bukannya dia biasanya langsung menentukan apa yang dia inginkan padaku? Ia terharu. "Em ... boleh." Wanita itu mengangguk pelan.


"Terima kasih, Sayang." Pria itu mengusap wajah istrinya lembut.


Ya Allah, apa aku harus kembali percaya lagi padanya, Ya Allah, tapi aku merindukan pernikahan yang bisa menyejukkan jiwaku. Aku haus ketenangan dan bahagia. Noura menatap wajah suaminya dengan keraguan mendalam tapi pria itu kembali mengecup keningnya.


"Kau mau 'kan memakai pakaian yang kemarin aku beli? Itu masih menumpuk di lantai." Pria itu menunjuk ke salah satu sudut ruangan di lantai yang masih menumpuk dengan tas belanja yang belum sempat dibuka sejak kemarin malam. "Pakailah, karena kamu sekarang telah menjadi istriku. Nanti siang 'kan Ayah akan datang menjemput Ibu. Atau kamu mau menjemput ayah di bandara?"


"Mmh, aku tidak tahu Bang. Aku belum pernah jemput Ayah."


"Coba kamu telepon. Barangkali dia senang dijemput dari pada ikut antrian panjang taksi di bandara."


Noura menurut. Ia menelepon ayahnya. "Bang, kata Ayah, kita disuruh antar Ibu pulang. Nanti tunggu Ayah di sana karena ayah datang dengan rombongan kantor."


"Ok."


Pagi itu mereka sarapan dan memberikan kabar itu pada Ibu. Setelah sarapan mereka bersiap-siap ke rumah orang tua Noura. Agak siang mereka telah sampai di sana.


Sejam kemudian Ayah pulang diantar mobil kantor. Mereka kemudian bercengkrama di ruang tamu karena Ayah ingin mengobrol dengan menantunya.


"Ayah, kok oleh-olehnya banyak, Yah?" tanya Noura heran. Ia mendapat seplastik besar oleh-oleh makanan dari luar kota.


"Kan menantu Ayah tambah satu lagi. Untuk Vika juga sudah Ayah siapkan. Staf Ayah yang menyiapkan sebelum Ayah pulang. Bagaimana dengan kehidupanmu? Baik-baik saja 'kan bersama Ian?"


Noura dan Ian saling berpandangan dengan sedikit keraguan. Sebelum mereka sempat menjawab, ternyata ada tamu yang tiba-tiba datang.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Vika dan suaminya telah datang.