CEO And The Twins

CEO And The Twins
Daddy



Ian menatap Noura. "Aku harap tidak parah sakitnya."


"Papa!" Sabine berlari-lari mendatangi pria itu.


Ian menyambutnya dengan senang dan menggendongnya. "Anak Papa tadi nakal, gak?" Ia mencolek hidung gadis mungil itu.


"Enggak!"


"Bantu Mama, gak?" Kembali pria itu mencolek hidung putrinya.


Gadis kecil itu mengangguk-angguk. Bagi Ian, hanya gadis kecil ini saja yang bisa mengobati rasa lelah dan kesalnya setelah jauh dari rumah, tapi itu belum cukup untuk mengurangi rasa khawatirnya pada Daddy yang hidup sendirian di Amerika sana.


Setelah ibu Ian meninggal dunia karena kecelakaan saat Ian kecil, Daddy memilih hidup sendirian dan membesarkan anak-anaknya. Betapa besar pengorbanan Daddy demi mereka berdua, Ian dan Lily dan rasanya Ian sangat berdosa bila tidak berada di sisi ayahnya itu saat ia membutuhkannya.


Lily kemudian mengabarkan bahwa kesehatan Daddy mulai membaik. Ian lega.


"Daddy memang sakit apa?" tanya Noura ingin tahu.


"Daddy sakit jantung. Dia butuh orang yang bisa menjaga kesehatannya. Kemarin kami sempat membujuknya untuk menikah lagi tapi dia tidak mau. Ia sangat menyayangi almarhum ibu sepertinya. Padahal, Daddy belum terlalu tua untuk menikah lagi."


"Ya, mungkin dia belum bertemu yang cocok."


"Aku padahal mau membantunya mendekati beberapa wanita tapi ia menolak semua calon yang ditawarkan Lily. Daddy juga tidak jelek, ia bahkan bisa mencarinya sendiri."


Noura tersenyum dan menepuk-nepuk tangan suaminya. "Kau sendiri bagaimana? Apa mudah mencari pasangan? Daddy mungkin lebih sulit lagi. Selain suka pada wanita itu, mungkin ia juga ingin yang bisa sejalan dengan kalian berdua."


Ian menghela napas pelan.


"Aku rasa Daddy pun tahu maksud baik dari kalian berdua tapi bukankah hati tak bisa dipaksa? Do'akan saja, Daddy bisa berjodoh lagi dengan seseorang. Mmh?" Wanita itu memberi senyum manisnya.


--------+++--------


Hari berganti. Perut Noura semakin membesar. Ian kembali menyambutnya dengan suka cita karena menurut dokter, kemungkinan bayinya laki-laki.


Masalah kemudian timbul ketika tiba-tiba Sabine begitu manja dengan ibunya dan ingin sering digendong.


Ian berusaha memberi pengertian. "Sayang, jangan dulu ya? Mama lagi hamil ade bayi, tidak bisa gendong, nanti ade bayinya sakit ditindih Sabine."


"Mama ...." Sabine menangis menunjuk Noura karena dijauhkan. Butir-butir air matanya berjatuhan di pipi gadis kecil itu. Wajahnya memerah di kulit putihnya dan suaranya parau. "Mama ...." Kembali ia memanggil sang ibu dengan menatap Ian.


"Iya, boleh ke Mama tapi jangan gendong ya? Kalo gendong ke Papa saja. Kasihan Mama perutnya berat, terus harus gendong Sabine. Mmh?"


Sabine dalam pelukan Ian mulai berhenti menangis. Tangan tetap mengarah ke Noura. Ian pun menurunkannya. Seketika bocah kecil itu berlari ke arah sang ibu dan memeluk kakinya. Ia memeluk kaki Noura seakan tak ingin lepas.


Ian mendekati Sabine seraya membungkuk. "Jangan minta gendong sama Mama dulu ya, sampai Mama melahirkan, kalau tidak Mama bisa sakit."


Dengan sedikit ngambek, gadis kecil itu mengangguk. Ia menyembunyikan wajahnya di balik kaki ibunya. Noura hanya bisa menahan tawa.


"Janji?" Ian menyodorkan jari kelingkingnya.


Gadis kecil itu menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking ayahnya seraya mengintip dari balik kaki Noura. Ian menggoyang-goyangkan jemari itu tanda telah berjanji.


---------+++---------


Beberapa hari lagi hari persalinan Noura tiba. Ia di rujuk untuk operasi kembali karena anaknya sungsang, kecuali bayinya pada saat hari H untuk dioperasi, kembali ke posisi semula.


Namun kemudian, terdengar kabar buruk lagi dari Amerika. Daddy kembali terkena serangan jantung dan pingsan. Kakaknya Lily tidak bisa datang karena sedang hamil pula di Afrika. Tinggal Ian yang tidak punya pilihan, harus berangkat ke Amerika segera.


Pria itu dalam pilihan yang sulit. Yang satu istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan dan yang satu lagi adalah ayahnya. Kedua-duanya belum pernah didampingi selama sakit dan melahirkan.


"Noura, aku harus bagaimana, katakan? Aku memang pria bodoh, tapi aku takut terjadi apa-apa dengan Daddy, tapi aku belum pernah mendampingimu melahirkan."


Noura mendekat dan melingkarkan tangan pada pinggang suaminya walau sedikit sulit karena perutnya yang membuncit. "Apa kau mencintaiku?"


"I love you so much, Noura. You're everything to me.(Aku sangat mencintaimu, Noura. Kau segalanya untukku.)" Ian semakin bimbang, tapi ia mencintai keduanya.


"Kalau begitu, pergilah. Temani Daddy."


Ian terkejut, istrinya malah memintanya memilih Daddy. "Oh, Noura." Ia menitikkan air mata dan menciumi lengan istrinya. "Terima kasih, Noura. Terima kasih. I love you so much. A-aku bukan tidak ingin mendampingimu tapi ...."


"Iya, aku tahu."


Pria itu segera memeluk istrinya erat.


"Mmh," ucap pria itu berat. Seandainya, pilihan itu tak ada ....


----------+++----------


Ian akhirnya terpaksa berangkat. Dengan berat hati ia menarik kopernya ke arah pintu utama. Ia berhenti dan kembali menoleh pada Sabine dan Noura.


Sabine berlari mendekat membuat Ian membungkuk ingin meraihnya tapi Sabine malah memberinya kelingking.


"Apa ini?" tanya Ian heran.


"Cabin janji jaga Mama."


Ian terharu hingga dipeluknya tubuh mungil itu. Ia hampir menangis. "Iya, jaga Mama ya, Sayang. Papa pergi tengok Grandpa yang sakit dulu ya?"


"Iya."


Tubuh kecil itu begitu perhatian. Pria itu memeluknya erat.


----------+++--------


Malam itu Sabine tidur dengan Noura. Ia begitu senang karena biasanya ia tidur di kamar sebelah, sendirian.


"Cabin jaga Mama ya?" Gadis kecil itu memeluk lengan wanita itu yang mulai berisi.


"Iya, Sayang." Noura mengusap rambut putrinya yang sedikit panjang.


"Cabin jaga Mama."


Noura tersenyum. Walaupun masih kecil, gadis kecil itu mulai mengenal tanggung jawab. Bangga rasanya punya anak pintar seperti Sabine.


---------+++----------


Di hari melahirkan ternyata Noura dimudahkan dengan kelahiran normal. Kedua orang tua wanita itu yang juga mendamping, merasa lega. Kembali ayah mengabarkan hal ini pada Ian, lewat video call sekaligus saling bersilahturahmi karena Ian ternyata ada di rumah sakit mendampingi Daddy yang masih dirawat.


"Oh, my little grandson.(oh, cucu laki-lakiku)." Daddy terharu melihat cucunya yang baru lahir. Ia kemudian berbincang-bincang sejenak dengan ayah Noura sebelum akhirnya berpisah.


Sabine sangat gemas melihat adik laki-lakinya yang hanya bisa menangis setiap bangun. Ia menciumi bayi itu ketika diberi kesempatan mendekat.


Sebulan kemudian, Ian kembali. Ia tak henti-hentinya memeluk semua anggota keluarganya karena rindu. Kemudian, si kecil adik Sabine diberi nama Latif Ali Xander


Setahun kemudian, Daddy menikah lagi dengan seorang wanita teman bisnisnya. Lily dan Ian ikut merasa bahagia dengan pernikahan ini.


Namun 2 tahun kemudian, Daddy mengejutkan kedua anaknya dengan menunjuk Ian untuk menggantikan Daddy memegang seluruh perusahaan sementara pria itu pensiun dan hanya bekerja membesarkan perusahaan milik istrinya. Ian terpaksa membawa seluruh keluarganya pindah ke Amerika.


Begitulah kisah keluarga kecil Ian. Bagaimana dengan kisah keluarga kecil yang lain? Nantikan kisahnya di novel baru author yang lain.


Oh, ada Ian bersama Latif mau bicara.


"Terima kasih ya sudah membaca kisah keluargaku. Ini Latif sudah 4 tahun. Lambaikan tanganmu, Latif."


Latif hanya menatap pembaca seraya mengedot.


T A M A T


__________________________________________


Terima kasih sudah membaca novel author sampai selesai. Ini visual Latif dan Papa Ian. InshaAllah novel berikutnya berjudul 'Kamulah Alasan' tetap di Noveltoon. Salam, ingflora 💋



Intip novel yang satu ini yuk!


Nikah Dadakan Dengan Musuh


Blurb:


Digerebek saat mojok bersama pacar itu sih biasa. Bagaimana ya, kalau kena gerebek saat tak sengaja bersama musuh?


Penasaran? Ikuti kisah selengkapnya hanya di Nikah Dadakan Dengan Musuh