CEO And The Twins

CEO And The Twins
Terganggu



Sesampainya di hotel, Noura segera membaringkan diri di atas tempat tidur. Hatinya lelah. Ia ingin berbaring saja tanpa melakukan apa-apa.


Apa keputusanku sudah benar?


Ia tak mau berpikir saat ini. Yang ia ingin lakukan adalah menurunkan amarah dan menenangkan pikiran. Memikirkan hal itu hanya akan merusak pikirannya yang saat ini sudah mendingin. Ia pun terdiam untuk waktu yang lama. Lama kelamaan ia tertidur.


------------+++-----------


Noura sudah memesannya lewat online. Ia tersenyum getir melihat layar HP-nya, mengingat ia akan melakukan perjalanan jauh dan mungkin panjang, sendirian. Semoga Tuhan selalu melindungiku.


Ia kembali merebahkan diri di atas tempat tidur. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Oh, aku belum sholat Ashar! Wanita itu segera bangkit dari tempat tidur.


Tak lama kemudian, ia sedang menikmati makan siangnya yang telat. Ia tidak menyadari itu karena ia sibuk dengan pikiran kacaunya. Parahnya ia juga tak merasa lapar hingga hari menjelang malam.


Saat ini wanita itu tengah menikmati sate ayam. Entah kenapa ia tiba-tiba ingin makan itu dan memesannya untuk makan di kamar.


Terdengar bunyi dering handphone dan Noura segera mengambilnya. Suaminya mencoba menelepon, tapi ia hanya diam memperhatikan HP itu berdering di tangan hingga akhirnya berhenti. Ia meletakkannya di atas meja.


Tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk. wanita itu membukanya.


'Noura, kamu sedang apa?'


Wanita itu menjawab. 'Makan.'


Di seberang sana, Ian begitu senang istrinya mau menjawab pesannya. 'Alhamdulillah, kamu tidak lupa makan. Kamu sekarang di mana?'


Noura mengerut kening. Apa sopirnya tidak mengatakan apapun? 'Apa sopirmu tidak bilang apa-apa?'


'Katanya kamu di hotel. Apa kamu belum berangkat?"


'Belum.'


'Kapan?'


'Besok.'


'Ke mana?'


'Siprus.'


Hening sebentar. Ian tahu tempat itu jauh, sebuah pulau dan negara sendiri dengan keindahan pantainya. Tempat yang cocok untuk menyendiri. 'Jaga kesehatanmu ya? Baik-baiklah di sana.'


'Iya.'


Jawaban itu menutup percakapan mereka. Sebutir air mata pria itu jatuh seakan dunianya runtuh. Istrinya memilih tempat yang jauh untuk perjalanan pertamanya seakan ia berusaha menghindar sejauh mungkin agar tiada yang dapat menemukannya.


Siprus. Siapa yang akan berpikir seseorang akan pergi ke sana untuk bersembunyi karena tempat itu juga cukup indah untuk didatangi. Walaupun begitu, setidaknya tempat itu cukup damai untuk istrinya beristirahat. Semoga kau cepat kembali, Noura. Belum apa-apa aku sudah sangat merindukanmu. Ian menyelesaikan buburnya yang masih tersisa di meja makan.


----------+++--------


"Apa? Cuti? Berapa lama?"


"Apa bisa sebulan?"


"Apa? Kau gila ya, Ian?" terdengar suara Vincent yang tertawa terkekeh di ujung sana. "Kau pergi bulan madu ya?"


"Oh, tidak. Istriku pergi sendiri."


"Really?(benarkah?)"


"Iya."


"Ian?"


Pria itu sudah tahu, temannya pasti curiga. "Hahh biasa. Diam ngambek."


"Really?"


"Really."


"Ian ...."


"Yah, semua itu salahku. Aku berharap secepatnya ia pulang." Ian menghela napas dengan kasar. Akhirnya ia mengatakannya juga.


"Ian, apa kau ...."


"Do'akan saja yang terbaik untukku. Semoga tidak ada apa-apa dan dia kembali untukku," pinta Ian lemas.


"God bless you.(semoga Allah meridhoimu)" Hanya itu yang bisa Vincent sebagai sahabat, katakan.


--------+++--------


Bermain di pantai cukup menyenangkan. Noura bahkan naik kapal ferry dengan penumpang yang lain berkeliling-keliling daerah pantai. Pemandangan di pantai sangat indah. Udaranya pun sejuk. Wanita itu menikmati suasana baru dengan udara yang menyegarkan di sana.


Seorang wanita yang sepertinya sebaya, memangku seorang anak perempuan duduk di samping Noura. Anak kecil itu memperhatikan Noura dengan kacamatanya karena terlihat aneh di matanya.


"Halo." Noura menyapa anak perempuan bule itu.


Gadis kecil itu terlihat malu dan menyembunyikan wajahnya di tubuh ibunya. Ibunya tertawa geli.


'Halo. Kamu sudah sampai, Sayang?'


'Sudah.'


'Kamu sedang di mana? Boleh aku minta fotonya.'


Noura kemudian meminta tolong wanita di sebelahnya untuk mengambil gambar menggunakan HP-nya. Setelah sedikit berpose di geladak, ia mendapat foto yang bagus dan kemudian mengirimkan pada suaminya.


Betapa terkejutnya Ian melihat foto itu. 'Kamu di kapal? Kamu mau ke mana?'


'Hanya berjalan berkeliling.'


'Hati-hati ya?'


'Iya.'


Tak lama pria itu menelepon seseorang. "Istriku sedang naik kapal?!" tanyanya memastikan dengan nada sedikit marah.


"Iya, Pak."


"Pastikan jangan sampai istriku jatuh dan tenggelam. Jaga dia baik-baik!"


"Baik, Pak." Pria itu duduk sedikit agak jauh dari tempat Noura duduk. Ia menelepon sambil berbisik. Pria tinggi tegap itu memakai topi dan jaket agar tidak menarik perhatian.


Ternyata Noura sedang bercakap-cakap dengan wanita itu. Wajahnya terlihat senang.


-----------+++----------


Noura baru saja keluar dari kamar mandi ketika terdengar suara handphone-nya berdering. Ia tahu, itu pasti suaminya. Ia mengangkatnya. "Halo."


"Noura." Pria di ujung sana terharu mendengar suara istrinya. "Kamu sedang apa?"


"Eh, dari kamar mandi." Wanita itu duduk di tepian tempat tidur.


"Bagaimana harimu? Menyenangkan?"


"Mmh, em em."


Terdiam sejenak, Ian memulai dengan pengakuannya. "Aku punya banyak salah padamu. Aku minta maaf."


Kalimat yang tiba-tiba itu sukses membuat mata Noura tergenang.


"Aku tidak bermaksud menyembunyikannya, Noura tapi aku takut kau tak mau menikah denganku kalau tahu aku pernah pacaran dengan kembaranmu. Apa kau tidak bisa memaafkanku?"


"Saat ini," wanita itu mulai terisak, "aku tidak tahu mana yang benar mana yang salah, karena aku merasa kau menyembunyikan banyak hal dariku. Ada hal-hal lain yang tidak kumengerti dan aku ...." Noura tak bisa melanjutkan kalimatnya sendiri. "Maaf." Ia segera mematikan handphone-nya. Wanita itu kembali tenggelam dalam tangisnya hingga membaringkan diri dan memeluk bantal.


Ian merasa sangat bersalah. Ia tahu apa yang dikatakan istrinya benar. Dari awal niatnya menikah baik-baik tiba-tiba berubah haluan menjadi dendam saat bertemu Vika, walau tak dikatakan, pastinya Noura merasakan ada yang aneh dengan pernikahan mereka. Padahal pernikahan adalah sebuah janji suci dan istrinya pernah memperingatkan itu padanya hanya sayang, ia dibutakan dendam.


Seharusnya saat itu ia segera merubah dirinya tapi tidak, ia malah memarahi istrinya.


Sekarang nasi telah jadi bubur. Untuk mengulang kembali itu suatu hal yang mustahil tapi memperbaikinya ... ini pekerjaan rumah untuk mereka berdua.


----------+++---------


Beberapa hari Noura tak mengangkat telepon suaminya. Menurut laporan bodyguard-nya, wanita itu sering terlihat di pantai sendirian. Kadang bermain dengan ombak, kadang hanya duduk saja.


Beberapa hari kemudian, bodyguard itu melaporkan bahwa wanita itu telah pindah ke negara tetangga, Turki.


Ian kemudian mengirim pesan pada istrinya. 'Kau di mana, Sayang?'


'Turki.'


'Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?'


Tak ada jawaban.


'Maaf kalau aku terlalu mendesakmu. Itu semua kulakukan karena aku mencintaimu.'


Kembali tak ada jawaban.


'Noura, jangan buat aku gila. Aku tak bisa kehilanganmu. Tolong bantu aku katakan, aku harus bagaimana?'


'Aku pun tak tahu.'


Ian benar-benar hampir kehilangan akal sehatnya mendengar jawaban dari sang istri tercinta. Ia tahu, bila istrinya berganti negara berarti ia masih memikirkan perceraian. Lalu ia harus bagaimana mempertahankan rumah tangganya yang masih seumur jagung itu?


Sepertinya ia harus benar-benar mengalah.


Pria itu mengetik dengan bercucuran air mata. 'Noura, apa yang kau inginkan, akan aku kabulkan asal kau tak meninggalkanku.'


'Tolong jangan meneleponku lagi sampai aku meneleponmu.'


____________________________________________


Halo reader masih semangat baca 'kan? Jangan lupa vitamin author, like, komen, vote atau hadiah. Ini visual Noura yang naik kapal di Siprus. Salam, ingflora. 💋