
"Tidak apa-apa 'kan?"
"Eh, tidak apa-apa sih," ucap Noura.
Ian pun melihat heran pada istrinya, bahkan ketika wanita itu mengambilkannya untuk Deni.
"Sini." Wanita itu menyodorkan tangannya.
Pria itu dengan senang hati memberikan piringnya. "Makasih ya?"
Wanita itu dengan senyum lebar, mengisikan piring pria itu dengan steak dan kuahnya. "Mau sayurnya juga?"
"Iya, lengkap."
"Ok."
Melihat pemandangan Noura dan Deni yang sibuk berdua, Ian kehilangan selera makannya. Ia berdehem sebentar dan kemudian menyodorkan piringnya. "Kuah gravy-nya, kurang."
"Oh, iya sebentar. " Noura masih belum menyelesaikan piring Deni.
Ian kesal dan kembali berdehem. "Nouraaaa." Matanya menatap langit-langit ruangan.
Ibu yang langsung tanggap, memberi tahu anaknya. "Noura. Jangan berlama-lama, kasihan suamimu. Nanti ia bisa cemburu," ledek ibu.
Ian terlihat tak peduli di mana semua orang melirik kepada pria bule itu, termasuk istrinya.
"Oh, iya." Buru-buru Noura melayani suaminya. Ibu dan ayah saling pandang dan tersenyum sedang Vika hampir tak percaya melihat Ian cemburu pada suaminya yang jauh dari kata tampan. Apa benar Ian sungguh-sungguh jatuh cinta pada saudara kembarnya yang selama bertahun-tahun ini ia acuhkan? Bagaimana bisa? Apa istimewanya?
"Eh, maaf ya?" Deni meminta maaf pada Ian dan Noura.
"Oh, tidak apa-apa kok!" ucapan istrinya itu kembali membuat Ian dongkol. "Kamu mau apa Ian?"
"Lho kok panggilnya 'Ian', Noura? Kamu gak panggil 'Mas', seperti Vika?" tanya ibu.
"Mas?" Noura menoleh pada suaminya.
Ian langsung menolaknya setelah mendengar disamakan dengan Vika. "Eh, panggil yang lain saja."
"Bang?" Noura memastikan.
"Ah, itu tidak apa-apa."
Noura mulai tersenyum. "Abang mau apa?"
"Kuah gravy-nya."
"Oh."
Kenapa, aku sudah gila ya? Kenapa aku cemburu pada Deni, Deni 'kan ... Ah, tidak bisa didiamkan! Dia bisa tersenyum semanis itu pada pria lain? Aku wajar cemburu 'kan? Aku 'kan suaminya. Ian kembali bingung dengan pikirannya sendiri.
"Sudah?" Noura menyodorkan piring itu pada suaminya dan tersenyum manis.
Nah, begitu. Senyuman itu hanya untukku. "Eh, iya."
Setelah beberapa jam berkunjung ke rumah Noura, Vika, suaminya dan kedua orang tua si kembar pamit pulang.
"Baik-baik ya sama suami. Jangan sering-sering bertengkar, tidak baik. Dengarkan kata suamimu," ibu mendekap Noura, hangat. Kemudian menggosok-gosokkan punggungnya memberi semangat. Kedua anak kembarnya kini telah pergi dari rumah dan mengarungi bahtera kehidupan bersama suaminya masing-masing dan ia berharap keduanya baik-baik saja.
Ian hanya memandangi kedekatan mereka berdua dan kemudian melepas mertua dan iparnya pergi. Noura kemudian masuk ke dalam rumah terlebih dahulu dan pria itu menyusul kemudian.
Ian kaget ketika istrinya memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam koper.
"Kamu mau ke mana?" selidik Ian.
"Tidak ada. Hanya pindah ke sebelah."
"Siapa yang bilang begitu?" Kening pria itu berkerut.
Noura terlihat senang dan berdiri. "Jadi, kamu ingin aku di sini?"
Tentu saja wanita itu kini membayangkan tidurnya sendiri-sendiri lagi seperti kemarin malam karena suaminya sudah mulai memasang guling di tengah-tengah. Ia menggulung bibir bawahnya.
"Sudah, kamu jangan atur aku lagi, aku mau ke mana terserah padaku. Jadi urus saja urusan kita masing-masing, ok? Nah, sekarang, masukkan lagi bajumu itu ke dalam lemari, kau mengerti?!" Ian memberi perintah dan ia pun pergi.
Noura dengan kesal, menuruti perintah suaminya, sedang Ian, ia kembali mengincar puding sisa di lemari es!
------------+++-----------
Pagi itu keduanya sibuk. Ian dan Noura. Mereka bersiap ke kantor. Wanita itu telah lebih dulu berpakaian.
Ian masuk ke kamar mandi dengan meletakkan handuknya di bahu. "Oh, ya," ujarnya seraya mengeluarkan kepala. "Aku akan antar kamu ke kantor."
"Tidak usah, aku bisa naik ojek." Noura merapikan letak kacamatanya.
"Tidak. Kau akan kuantar karena temanku kerja di sana juga."
Wanita itu memutar kedua bola matanya, kesal. Sebegitu pentingnyakah image dirinya di mata orang lain?
Saat Ian keluar dari kamar mandi, Noura sudah tak ada di kamar. Pria itu segera berpakaian dan menyusul istrinya ke bawah.
Wanita itu tengah menikmati sarapannya dengan sepotong roti dan segelas jus jeruk. Karena tidak mau berurusan dengan pria itu, ia segera menyudahi makannya dan berdiri. "Aku sudah sarapannya, assalamu'alaikum—."
"Kau tidak dengar omonganku tadi ya?" Pria itu tersenyum miring.
"Lho, aku hanya mempermudah dirimu saja kok. 'Kan kamu yang minta kita hidup masing-masing?"
Pria itu tertawa mengejek. "Biar bagaimana pun, aku kepala rumah tangga di sini. Aku yang mengatur, bukan diatur."
"Tapi kamu 'kan—"
"Sudah duduk, tunggu aku selesai makan." Pria itu tak peduli karena biar bagaimanapun istrinya pasti mengikuti perintahnya.
Ian duduk diikuti Noura. Wanita itu menunggui Ian dengan merengut.
Setengah jam kemudian, mobil Ian sudah sampai di depan kantor Noura. Wanita itu segera pamit dan mencium punggung tangan suaminya.
Noura turun bersamaan dengan datangnya seorang pria dari arah samping dan pria itu mengenal wanita itu dengan baik.
"Noura?"
Wanita itu menoleh. "Ryan."
Ryan menoleh ke arah mobil dan mendapati wajah Ian tengah melirik angkuh ke arahnya lewat sudut matanya. Ia dengan sopan menganggukkan kepala. "Suamimu ya?" tanyanya pada Noura.
"Oh, iya."
Keduanya menoleh ke arah mobil. Ryan dan teman-teman kantor Noura ikut datang saat wanita itu menikah sehingga mereka mengetahui wajah suami Noura dengan baik.
"Ayo Ryan, kita masuk." Noura menyentuh lengan Ryan sehingga pria itu beralih melihat wanita itu. Keduanya kemudian masuk, tinggal Ian yang penasaran dengan hubungan keduanya.
Awas saja kamu, kalau ada hubungan lain apa dengan istriku, Ian menjalankan mobilnya.
Kenapa sih kamu begitu, Noura. Terlalu ramah!
-----------+++----------
"Ok, kita jadwalkan lagi pertemuan berikutnya, tapi sejauh ini yang perusahaan anda tawarkan cukup menarik. Nanti aku lihat lagi proposalnya di kantor," ujar Ian saat berdiri dan mengancingkan satu kancing jasnya.
"Oh, terima kasih Pak. Kami akan sangat senang bila bisa membantu perusahaan yang Bapak pimpin sekarang." Pria di depannya langsung meraih tangan Ian dan menyalaminya dengan penuh semangat.
"Sama-sama. Aku permisi dulu." Ian kemudian berpisah dengan mereka di depan restoran dan kemudian mencari jalan menuju ke lantai bawah Mal itu.
Saat ia tengah berjalan di keramaian, matanya menangkap sesosok wajah yang ia kenal di Mal itu. Noura? Ia hampir tak percaya. Bukan itu saja. Istrinya tidak sendirian. Ia bersama pria yang dilihatnya tadi pagi saat mengantar istrinya ke kantor.
Pria ini ... sedang apa dia di sini bersama istriku? Ian mengepalkan tangan.