CEO And The Twins

CEO And The Twins
Fenomena Ibu Hamil



"Selamat ya, Pak. Istri Anda hamil," ujar dokter wanita yang memeriksanya.


"Benarkah?" Ian tersenyum lebar. Ia bukan main terkejutnya bercampur senang mendengar berita ini.


"Iya, tapi ibunya kenapa kurus sekali ya, Pak? Saya takut ibunya kurang nutrisi karena bila ia hamil maka makanannya akan terbagi dua dengan sendirinya, untuk ibu dan si bayi dan kalau bayinya kuat, bisa-bisa ia mengambil semua nutrisi ibunya sehingga ibunya kekurangan gizi. Ya beginilah jadinya, si ibu mudah sakit atau pingsan. Padahal ini sudah 3 bulan lho, Pak kandungannya. Si ibu juga mesti sehat. Apa ibunya sedang stres?"


"Oh, mungkin, karena banyaknya pekerjaan di kantornya dan ia tidak tahu kalau ia hamil, tapi aku akan usahakan untuk menjaga istri saya makan makanan bergizi. Tinggal sebut saja atau tuliskan, biar aku bisa menyediakannya di rumah," janji pria itu.


"Mmh, baiklah." Dokter itu pergi ke mejanya sedang Noura mulai siuman.


"Noura." Ian segera mendudukkan wanita itu dan memeluknya. "Kamu sedang hamil, Sayang. Apa kamu tidak tahu?"


"Apa?" Wanita itu berusaha menelisik tempat ia kini berada. Rumah sakit? Noura berusaha melebarkan matanya yang masih menyipit dan mencerna lagi apa yang terjadi padanya. Ia ... jatuh pingsan? "A-aku tadi pingsan ya?" Ia mencoba mengingat-ingat kembali yang terakhir terjadi padanya. "Eh, tadi apa? Hamil?" Ia menoleh pada suaminya. Melongo.


Pria itu menangkup wajah istrinya dan mencium keningnya. "Iya, Sayang. Sebentar lagi kamu jadi ibu."


"Benarkah? Honey, kamu jangan bohong!"


"Iya, Ibu. Ibu bahkan bisa lihat bayinya di monitor karena bayinya sudah cukup besar, sudah 3 bulan," ujar suster yang sejak tadi menjaga Noura. Ia sedikit malu berdiri di sana menyaksikan adegan mesra mereka berdua.


Noura dan Ian saling berpandangan. Mereka kemudian menatap suster itu. "Mau Sus," sahut keduanya.


Kemudian mereka berdua melihat ke monitor, bayangan bayi mereka yang sesekali bergerak. Ian menggenggam tangan sang istri dan sesekali tersenyum ke arahnya. Noura pun tak luput dari bahagia. Di saat ia hampir ingin menyerah dalam berdoa, Tuhan mengabulkan permintaannya.


Orang tua Noura bahagia saat diberitahu.


"Memang anak kembar begitu ya? Kembaran juga punya anaknya," sahut ayah di seberang sana saat di telepon.


Ayah Ian pun juga menyambut baik berita ini. "Oh, my first grandson. I cann't wait to see him.(Oh, cucu pertamaku. Aku tak sabar ingin bertemu.)"


-------+++-------


Ian memperhatikan Noura yang makan dengan lahapnya setelah mengetahui dirinya tengah berbadan dua.


Wanita itu tiba-tiba saja minta makan tanpa diminta.


"Honey, makannya pelan-pelan nanti tersedak."


"Mmh," jawab wanita itu sambil mengunyah.


"Tidak ada yang akan mengambil makananmu."


"Mmh."


"Jangan terlalu banyak juga, nanti kamu muntah."


"Muntah, kalau setengah hati makannya."


"Wah, hebat juga kamu ya? Kalau setengah hati makannya kamu bisa muntah? Bagaimana kamu melakukannya?"


"Begitu saja," jawab Noura sambil mengangkat bahunya.


"Begitu saja?"


"Yang. Kamu ngak makan lasagna-nya? Kalau enggak buatku saja."


Ian tak bisa berkata apa-apa. Ia hampir tertawa. "Kau bisa pesan lagi, Honey. Masih banyak kok."


"Tidak aku ingin pesan yang lain saja. Mmh, apa ya?" Wanita itu menoleh pada etalase kantin. "Oh, es krim saja. Yang rasa vanila."


Tak lama, Noura menikmati es krim dari mangkuk plastik. Ian geleng-geleng kepala melihat selera makan Noura yang luar biasa. "You know, Honey. You look beautifull, ( tahu gak, Sayang, kau terlihat cantik) bisik Ian di telinga istrinya.


Noura tersipu malu. Ia tiba-tiba mengecup bibir suaminya.


"Noura." Ian melihat sekeliling. Untung saja kantin rumah sakit itu sepi. "Kamu nakal ya?"


"Bang."


"Mmh."


"Makan."


Ternyata karena pria itu sibuk memperhatikan istrinya sejak tadi, ia lupa untuk makan. "Eh, iya, Sayang aku makan."


------------+++---------


Hari-hari dilalui Noura dengan gembira, tapi ada kebiasaan baru yang membuat pria itu pusing. Wanita itu tak mau berpakaian feminin. Ia suka memakai celana panjang dan kemeja seperti pagi ini. "Noura. Kenapa kamu tidak pakai blus saja dengan rok ke kantor?"


Wanita itu menundukkan kepala memperhatikan pakaian yang dipakainya. "Memangnya kenapa?"


"'Kan lebih feminin seperti itu. Kau akan jadi ibu jadi tunjukkan sisi kewanitaanmu."


"Tidak mau," ucap wanita itu sambil menggeleng.


"Kenapa?"


"Aku ingin punya anak laki-laki, Bang." Noura tersenyum membuat Ian tak habis pikir.


"Iya, tapi itu tak ada hubungannya."


Ian menghela napas. "Ya sudah. Sekarang ayo, sarapan."


"Aku tidak mau." Mulut wanita itu mengerucut.


"Tapi kamu 'kan perlu nutrisi, Noura. Untuk bayimu."


"Bayinya juga tidak mau." Noura menggeleng.


"Dari mana kau tahu?"


"Aku tidak lapar," jawabnya enteng.


"Paksakan. Nanti kamu pingsan lagi."


"Aku mau muntaaah," rengek wanita itu lagi.


"Eh, muntah? Mau ke kamar mandi, Sayang?" Ian panik dan berdiri.


"Bukan ituuu, aku tidak bisa makan pagiii." Kembali ibu hamil itu merengek.


Pria itu terdiam. "Ya sudah, temani aku sarapan."


Noura kini kekanak-kanakkan dan manja dan bila keinginannya tak dituruti akan berakhir dengan drama. Untung saja permintaannya tak aneh-aneh seperti saat Ian menjemputnya pulang.


Pria itu tak lagi menyediakan waktu setelah jam kantor pada perusahaan karena ia ingin fokus menemani istrinya saat wanita itu pulang.


"Bang, kita makan di restoran ya?" pinta Noura saat dijemput.


"Kamu mau makan apa, Sayang?"


"Ayam goreng."


"Ok. Aku tahu ada restoran ayam goreng yang enak. Ayo kita ke sana."


Dan Noura selalu menghabiskan makannya, tapi ia hanya makan apa yang diminta. Saat disodori kentang goreng, ia malah tak mau.


"Kelihatannya tidak enak."


Begitulah dramanya saat ia tidak menginginkannya.


"Kamu mau tambah lagi ayamnya, Sayang?"


"Aku mau yang punya kamu." Noura menunjuk ayam goreng yang masih tersisa di piring Ian.


"Dan kalau pesan, kamu tidak mau?"


"Iya." Wanita itu tersenyum.


"Ya sudah, nih." Ian mulai mengerti sifat-sifat istrinya yang baru. Dengan begitu istrinya mulai makan banyak dan lahap.


Sepulang dari restoran Noura pun minta mampir ke supermarket. Ia belanja buah, snack, roti dan susu.


Di rumah barang-barang itu dimasukkan wadah kecuali roti. Buah anggur dan semangka yang telah dipotong dimasukkan ke dalam wadah.


Apa ini untuk sarapan paginya? Pria itu tak begitu ambil pusing hingga ia terbangun tengah malam dan tidak menemukan istrinya di sampingnya. Ke mana, Noura?


Pria itu kemudian keluar kamar dan mendapati istrinya sedang menonton TV di ruang tengah. Ia melihatnya dari lantai atas. Segera ia turun.


"Noura, kenapa kamu belum tidur?"


Wanita itu yang sedang makan potongan semangka, menoleh. "Aku lapar. Aku mau nonton TV."


Ian menghela napas panjang. "Nanti kamu telat bangun paginya, Noura."


"Tidak. Bayiku selalu membangunkanku sholat Subuh. Sebenarnya aku sudah hampir sebulan seperti ini hanya kau tidak tahu saja dan aku selalu kehabisan makanan di lemari es. Padahal aku tidak selera kalau sarapan pagi. Mungkin itu sebabnya badanku semakin kurus." Noura melahap buah anggur.


___________________________________________


Semangat terus bacanya 'kan? Ini ada visual Noura yang senang berpakaian kasual. Jangan lupa vitamin author, like, komen, vote atau hadiah. Salam, ingflora 💋



Eternal Enemy


Author: Navizaa


Safara Maulida tidak pernah menyangka bahwa dia akan dilamar secara tiba-tiba oleh atasannya di kantin kantor tempatnya bekerja. Tentu saja Fara nama panggilan gadis itu merasa sangat bahagia, apalagi atasannya itu adalah cinta pertamanya di masa putih abu-abu.


Keill Abraham, tidak main-main dengan lamaran itu, dan sebulan kemudian mereka melangsungkan pernikahan. Tapi di dalam kehidupan mereka ada kejanggalan yang Fara rasakan, yaitu sikap Keill yang dingin saat di rumah. Tapi akan berubah hangat jika di kantor. Fara jelas saja tidak terima dengan sikap suaminya itu.


"Gue tahu kalau dia gak cinta sama gue, tapi apa alasannya dia ngajak gue nikah jika matanya hanya menatap ke arah wanita itu dengan tatapan sendu!" Batin Fara dengan dada sesak.


Sanggupkah Fara menjalani pernikahan yang seperti itu?


Apa alasan Keill menikahinya kalau hanya dianggap bayang-bayang saja?