
Ian menggaruk-garuk kepalanya.
"Mungkin jalan dekat-dekat sini, Tuan," lanjut wanita itu.
"Apa? Bagaimana kau tahu?"
"Nyonya berpakaian olahraga dan tidak membawa tas. Kan hari ini hari Minggu, Tuan. Mungkin Nyonya hanya ingin berjalan kaki keliling komplek."
"Mmh." Pria itu berpikir sejenak. "Ok, Terima kasih."
Ian buru-buru ke kamar dan bertukar pakaian. Ia kemudian turun dan bergegas keluar rumah. Ke mana kira-kira dia pergi? Mudah-mudahan benar, ia hanya berjalan dekat-dekat sini saja.
Pria itu mulai mengitari perumahan itu tapi ia tak melihat ada orang yang berjalan di sekitar komplek. Kemudian ia mencoba mencarinya di luar komplek. Tak jauh dari pintu keluar komplek ia melihat istrinya sedang duduk di sebuah warung pinggir jalan. Wanita itu sedang sarapan di sana.
"Honey.(Sayang)"
Noura mengangkat kepalanya. Ia terkejut, begitu juga pengunjung di sekitarnya karena ada pria bule mencarinya.
Pria itu menghampiri. "Sayang, kenapa kamu pergi tidak pamit? Aku mencarimu dari tadi."
"Oh, aku hanya pergi dekat sini sambil berolahraga."
"Kenapa tidak ajak aku?"
"Aku pikir kamu tidak mau, karena udara pagi ini sedikit panas. Lagipula aku hanya sebentar. Sehabis ini aku mau jalan sebentar dulu baru balik pulang ke rumah."
"Aku ikut ya?"
"... Ya sudah," jawab Noura sedikit enggan.
"Kamu makan apa? Bubur ya? Aku mau ...." Ian merogoh kantong celana pendeknya. "Ah, aku lupa bawa dompet."
"Oh, tidak apa-apa, aku bisa bayar sendiri."
"Tapi aku juga ingin makan bubur karena belum sarapan."
"Oya, pesan saja. Nanti kubayar."
Ian tersenyum lebar. "Terima kasih, Sayang."
"Iya, gak apa-apa." Noura dengan sekilas senyum.
Ternyata pria itu sangat menyukai bubur Indonesia. "Oh, enak sekali. Banyak isinya ya? Aku belum pernah makan ini." Ian mengangkat krupuk.
"Krupuk?"
"Iya. Aku pikir ini hanya snack(makanan ringan) tapi ternyata enak dimakan dengan bubur. Dengan nasi juga enak ya? Aku pernah lihat ada orang yang memakannya."
Wanita itu kembali tersenyum kecil.
Noura, betapa sulit mendapatkan hatimu kini. Padahal dulu, sesusah apapun aku mendapatkanmu, senyummu tetap indah, tapi kini ... apa sulit memaafkanku kembali? Hah .... Pria itu menghela napas pelan.
-------------+++------------
"Mas, apa maksudnya ini?" Vika pulang dengan bertelak pinggang pada suaminya.
"Apa? Oh, itu." Pria itu segera tahu masalahnya. "Tenang ya, Sayang. Aku ingin kau sabar."
"Mana mungkin aku bisa tenang kalau uang bulanannya dipotong. Ada apa ini?"
"Bulan ini dan beberapa bulan ke depan sepertinya kita harus sedikit mengecangkan ikat pinggang, tapi sabar ya, Sayang, ini hanya sementara." Deni berusaha meredam kemarahan istrinya.
"Mana mungkin aku sabar. Ayo, katakan! Kau BANGKRUT 'kan?!!" Vika tak dapat lagi menghentikan luapan emosinya.
"Enak saja. Tidak bisa!!! Bagaimana nanti kalau teman-temanku tahu, aku tidak punya uang yang cukup untuk berbelanja? Orang-orang akan makin mengejekku dan mengidolakan Noura. Mau ditaruh di mana wajahku ini, Mas, mau ditaruh di mana?!!" Wanita itu berapi-api mengungkapkan rasa kecewanya.
"Tapi ini untuk beberapa bulan ke depan saja, Vika. Lagipula, teman yang baik tidak akan meninggalkan temannya saat terpuruk. Kalau kau punya teman seperti itu tinggalkan mereka. Cari teman yang bisa menyukaimu apa adanya."
"Mas, jangan menguliahiku tentang bagaimana caranya aku berteman. Mereka adalah teman-temanku sejak SMA, jadi mereka pastilah setia. Tinggal bagaimana caranya Mas menghargai istri yang setia seperti aku ini. Aku sudah sangat setia lho, Mas, sama kamu tapi keluargamu saja yang selalu menyindirku soal anak.
Sekarang Mas lagi, tidak mampu mencari uang. Hah! Sekarang kamu menyuruhku bersabar? Sudah gila apa aku ini, bertahan tapi tak dihargai. Aku tidak bisa, Mas, terus-terusan begini, tekanan dari keluargamu, juga kemampuanmu. Kalau aku terus ditekan seperti ini, lama-lama aku juga bisa pergi!" ancam Vika yang mengeluarkan semua rasa kesal dan juga amarahnya karena keadaan yang tidak mendukungnya. "Apa kau mengerti perasaanku, Mas. Aku tertekan!!"
Keringat dingin mengucur di kening pria itu. Sangat sulit menghadapi Vika saat marah. Apapun takkan bisa menghentikannya bahkan fakta. Wanita ini akan terus bertahan sampai akhir dengan pendiriannya karena itu Deni memilih diam. Ia menunduk. "Maaf, Sayang. Maafkan aku."
"Tolong, Mas. Jangan sampai Noura menang kali ini. Ia sudah dapat pria tampan dan kaya. Jangan sampai ia tahu, aku saudara kembarnya, beranjak miskin. Pasti dia akan mengejekku dan menertawakanku." Wajah cantik wanita itu terlihat sedih dan terduduk di kursi di sampingnya.
Deni menatap nanar pada istrinya. "Mana mungkin Noura begitu terhadapmu? Dia kan saudara kembarmu."
Vika bangkit dari kursinya dengan wajah garang. "Pokoknya kita tidak boleh miskin dan cepat berikan sisa uangku yang kau potong tadi padaku, atau kalau tidak, MALAM INI JUGA, KAU TIDUR SAJA DI LUAR SANA!!!" teriak Vika kesal.
Deni menghela napas panjang seraya menundukkan kepala.
---------+++---------
"Sayang, bagaimana kalau hari ini kita piknik?"
"Piknik?"
"Iya. Kau bisa buat sandwich seperti waktu itu 'kan, tapi kurangi ladanya ya, ditambah makanan lain seperti buah anggur dan piza."
"Piza?"
"Well, kita bisa pesan saja kalau yang itu, ditambah soft drink."
Wanita itu menatap suaminya. Langkah mereka kini sudah berhenti di depan pintu gerbang rumahnya.
"Bagaimana kau tahu, sandwich-ku terlalu banyak lada?"
Ian salah tingkah. Ia membocorkan rahasianya sendiri. "Eh, sebenarnya aku mencicipi semua masakanmu waktu itu. Aku hanya menyisakan sedikit lalu aku buang. Eh, hanya sandwich telurnya saja yang tidak bisa aku makan karena pedas. Kalau kau tak percaya, kau bisa tanyakan pada pembantu di rumah."
Wanita itu menatap lekat kedua bola mata suaminya membuat Ian sedikit merasa bersalah telah membuang makanan yang telah dibuat istrinya. "Bagaimana kalau membuat apple pie?"
Ian terkejut. "Oh ... oh, itu aku suka sekali, Sayang. Aku sangat suka apple pie buatanmu. Rasanya sangat lezat. Iya, Sayang, tolong buatkan untukku ya?" Pria itu terlihat sangat gembira. "Oh, Honey. I love you.(Oh, Sayang. Aku mencintaimu.)" Ian refleks merangkul isterinya.
Namun kemudian Ian sadar, karena yang dipeluk terasa sedikit tegang. Ia kemudian segera melepas pelukan. "Oh, maaf Honey. Aku terlalu bergembira, kau mau memasakkan makanan kesukaanku."
Noura memasang wajah datar.
"Atau mungkin kamu butuh pertolongan, aku siap membantumu di dapur."
"Kamu?" Netra wanita itu terbelalak.
"Iya."
"Ah, tidak. Aku bisa sendiri." Wanita itu segera memasuki halaman rumahnya.
"Oh, come on, Noura.(Ayolah, Noura) Akan kubuktikan aku bisa." Ian mengikuti istrinya dari belakang.
"Tidak!"
___________________________________________
Masih semangat baca? Semangatin author terus ya dengan mengirimi like, vote, komen dan hadiah. Ini visual Noura dengan pakaian olahraganya. Ia masih sedikit aneh tanpa kacamata. Salam, ingflora💋