CEO And The Twins

CEO And The Twins
Pergi



Kemudian Vika sadar pada sorot mata pengunjung bioskop yang berada di sekitarnya. Sebagian menyorot wanita itu dengan wajah sebal dan muak dan sisanya tak peduli.


Perlahan Vika mundur. Ia menyadari tubuhnya sedikit gemetar dan kehilangan tenaga. Segera ia keluar dari area bioskop dan pergi ke toilet. Di sanalah ia duduk dan menangis tanpa suara.


Sesekali ia tertawa di sela-sela tangis karena dadanya terasa hampa. Ia tidak pernah merasa sefrustasi ini sebelumnya.


Tak punya tempat untuk pergi dan apa yang dilakukannya tadi seakan membuat hatinya terasa beku. Ia mengingat apa yang dikatakan Ian.


Sakit. Iya, hatinya sakit, otaknya sakit, bahkan jalan darahnya pun terasa sakit hingga ia ingin meninggalkan dunia ini. Tak ada yang bisa menggembirakannya lagi dengan hidup di dunia. Kepedihan ini meninggalkan luka yang ia tak sanggup hadapi. Terlalu pedih untuk mengingat, hidupnya akan jadi manusia yang bukan siapa-siapa.


----------+++----------


Ian sudah mencari ke mana-mana tapi ia tak bisa menemukan istrinya. Kemungkinan besar, Noura langsung pulang ke rumah. Pria itu bergegas pergi ke basemen mengambil mobilnya.


Sesampainya di rumah ia tak menemukan istrinya di kamar. Apa dia ada di kamar sebelah? Ian mencoba membuka pintu kamar sebelah, tapi tak bisa. "Noura, apa kamu di dalam? Sayang, tolong jangan marah dulu. Aku akan ceritakan semua yang kamu ingin dengar. Noura, please. Jangan bikin aku bingung."


Tak ada jawaban apapun dari dalam. Ian lemas, ia tak bisa lain, selain menunggu istrinya keluar dari kamar itu. Ia kembali ke kamar.


Sejam telah lewat dari jam makan siang dan Noura tak ada kabar. Baru saja Ian ingin mendatangi kamar di sebelah, wanita itu masuk dengan tertunduk. "Noura?"


Namun wanita itu mundur saat didekati membuat langkah Ian terhenti. "Aku sudah ... lelah," ucapnya dengan suara serak.


"Noura ...."


"Aku sudah lelah merasa dikhianati berulang kali."


"Noura, aku tidak sedang mengkhianatimu. Aku hanya tidak berterus terang saja kepadamu."


"Kenapa?" Wanita itu mengangkat wajahnya. Matanya sudah sembab karena menangis lama.


"Karena ...." Ian tidak tahu harus mulai dari mana.


"Sudah, itu sudah tak penting lagi."


"Tidak, Noura. Itu penting!"


"Aku memutuskan untuk bercerai."


Bagai di sambar petir, jantungnya seperti mau copot saat Ian mendengar keputusan istrinya. "No-noura." Pria itu baru akan menyentuhnya tapi wanita itu menghindar.


Noura berusaha menurunkan kopernya dari atas lemari tapi tangannya tak sampai. Ian segera meraih lengan istrinya. "Tunggu dulu. Aku tidak sedang bermain apapun di belakangmu, Noura."


"Lalu kenapa kau tak cerita kepadaku, bahwa kau pernah berpacaran dengannya, Bang. Kenapa? Karena kau masih mencintainya 'kan?" ucap wanita itu dengan air mata yang mulai menganak sungai di sudut matanya.


"Itu tidak benar, Noura."


Wanita itu memukul kencang, dada pria itu. "Kau tidak pernah mencintaiku!"


"Noura ...." Ian terkejut. "Apa yang kau katakan?" Ia masih syok. "Aku mencintaimu, Noura. Aku mencintaimu."


"Setelah kamu menyakitiku berulang kali. Aku yakin sekarang, kau tidak pernah mencintaiku!" Wanita itu mendorong suaminya dengan keras.


"Noura, kenapa kau tidak percaya padaku?" Pria itu kembali mendekat.


Wanita itu seakan tak peduli dan berusaha mengambil kopernya yang tak terjangkau dengan melompat-lompat agar bisa meraih ujungnya. Pipinya kembali basah dengan air mata.


"Noura." Pria itu segera meraih istrinya dan mendekapnya dari belakang. "Percayalah padaku, Noura, aku mencintaimu."


"Bang." Noura berusaha menahan tangis. "Bagaimana aku bisa meneruskan pernikahan ini kalau aku sudah tak percaya lagi padamu? Aku sudah tak merasa nyaman denganmu lagi. Berkali-kali kamu menyakitiku, dan aku sudah cukup sabar bertahan, tapi kali ini tidak. Aku kembali tersakiti, tidak bisakah kamu membebaskan aku dari penderitaan ini?"


"Noura, aku ...."


"Bang, aku tersiksa bersamamu."


Kalimat itu benar-benar membuat Ian tak punya pilihan. Perlahan ia melepaskan tubuh istrinya dan kemudian dengan enggan membantu mengambil koper itu turun.


Noura berjongkok dan membuka kopernya tapi saat itu juga ia menangis. Air matanya seperti banjir bandang yang tak dapat ditahan.


Ian, ia ingin meneduhkan Noura tapi ia kini adalah manusia yang paling ingin dihindarinya, jadi tak mungkin ia bisa membantu istrinya saat ini. Karena tak tahan melihat istrinya menangis, pria itu pun pergi ke luar kamar dan menutup pintu. Ia sendiri pun tak sanggup menahan air mata.


Saat ia telah mengunci koper dan menariknya ke arah pintu, pintu itu tiba-tiba terbuka. Suaminya tengah berdiri di hadapannya.


"Tunggu dulu, Noura. Kau pegang ini." Ian menarik tangan istrinya dan meletakkan sebuah kartu hitam di telapak tangannya.


"A-aku tidak perlu i—" Noura yang menarik tangannya, kembali diraih suaminya.


"Dengarkan aku kali ini saja," pinta pria itu.


Wanita itu terdiam dan menatap suaminya.


"Pergilah kamu pada sebuah perjalanan, keluar negri."


"U-untuk apa?"


"Untuk merenungkan kembali pernikahan kita. Berpikirlah jernih, apa aku bukan yang kau mau. Aku ingin kau mengingat masa-masa kita bersama. Masa-masa bahagia kita. Aku ingin kau berpikir matang tentang keputusanmu."


Dari netranya, Noura terlihat bingung. "Lalu ... bagaimana kalau aku tetap ingin bercerai?"


"Pergilah lagi dengan perjalanan lainnya." Ian menghela napas dengan berat.


"Lalu, bagaimana ...."


"Lakukan perjalanan ke belahan dunia lain yang kau suka. Aku akan sabar menantimu di sini, Noura."


Noura memperhatikan kedua bola mata biru muda yang kini memudar cahayanya. Kedua bola mata milik pria tampan yang telah menyuntingnya menjadi istri. Kini, pria itu sedang memintal harap.


Tentu saja, apa yang dikatakan suaminya benar adanya. Ia harus memutuskan dalam keadaan yakin akan apa yang dirasa. Bukan sekedar emosi semata.


Noura akhirnya menggenggam kartu itu, dan suaminya memberinya jalan. Sambil menunduk wanita itu menarik kopernya.


Tiba-tiba Ian mendekat. "Boleh aku mengantarmu?"


Noura menggeleng.


"Eh, tunggu dulu."


Wanita itu menghentikan langkahnya. Pria itu kembali berdiri di hadapan hingga Noura terpaksa mengangkat wajahnya.


"Aku minta tolong. Tolong jawab teleponku ya? Jawab semua pesan-pesanku." Netra pria bule itu kini tengah meminta belas kasihan.


Wanita itu merasa, masih tidak bisa menjawabnya hingga ia berusaha melangkah lagi, tapi pria itu kembali menahannya.


"Noura, please."


Wanita itu berusaha menghindar, tapi kembali pria itu menghalangi.


"Bisakah kita jadi teman? Aku butuh bicara denganmu tiap hari, Noura. Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu, Sayang. Aku mohon. Please." Pria itu hampir menangis.


Noura tidak tega. "Baiklah."


"Biarkan aku mengantarmu sampai keluar. Sopir akan mengantarmu ke tujuan."


Noura hanya mendengarkan sementara pria itu mensejajarkan langkah.


"Aku minta kau jangan bicarakan hal ini pada siapapun yang kita kenal. Orang tuamu, teman-temanmu, orang-orang di kantormu. Aku akan bilang Vincent bahwa kau cuti jalan-jalan."


Ian membantu Noura menurunkan kopernya lewat tangga. Di depan pintu mereka saling berhadapan.


"Well, ini bukan perpisahan 'kan?" Kau akan kembali padaku 'kan, Noura? Ian menyentuh bahu istrinya dan kemudian mengecup keningnya, lama.


Hampir saja Noura kembali menangis.


Noura menaiki mobil Ian yang telah dipanggil pria itu untuk mengantarnya. Ian melihat mobil itu pergi hingga hilang dari pandangan.


Pria itu kemudian mengangkat telepon selulernya dan menelepon seseorang. "Bantu aku. Aku ingin menyewa bodyguard yang bisa menjaga istriku keliling dunia. Sekarang!"