
Ian yang baru keluar dari kamar mandi, terkejut. Istrinya sedang memesan makanan lewat telepon hotel.
Pria itu mendekati istrinya yang baru saja meletakkan ganggang telepon pada mesin telepon di atas meja nakas. "Kamu pesan makanan? Kamu lapar?" tanyanya tercengang. Tidak biasanya istrinya memesan makanan setelah makan malam. Padahal tadi saja, wanita itu tidak bisa menghabiskan makan malamnya.
"Memang kenapa? Bukannya Abang yang minta aku gemuk?" tanya Noura sedikit kesal.
Netra Ian bercahaya saking senangnya. "Oh, iya. Aku 100% mendukungmu, Sayang tapi kenapa tiba-tiba kamu lapar lagi? Tadi saja makanmu tidak habis."
"Itu 'kan tadi ...."
Belum selesai wanita itu mengomel, Ian mengecup pelipis istrinya dan duduk di samping, mendekapnya. Pria itu terlihat senang hingga rasa kesal Noura berkurang, tapi tidak. Ia tak boleh senang karena telepon barusan itu.
Mana ada wanita yang senang mendengar wanita lain menyebut suaminya 'honey'. Noura kesal hingga ingin mengunyah sesuatu melampiaskan amarahnya.
Makanan pun akhirnya datang. Ada burger dan sup tom yum(sup seafood).
"Oh, Sayang. Burger itu untukku ya?" tanya Ian ketika pegawai hotel keluar kamar. Ia segera menarik kursi.
Noura segera memanjangkan tangan menutup makan yang berada di atas meja. "Enak saja, ini makananku!" teriak Noura sewot.
"Tapi dibeli dengan uangku 'kan?"
Wanita itu mendelik marah.
"Eh, iya maaf. Kau bisa beli apa saja dengan uangku, aku gak masalah." Pria itu ngeri melihat istrinya yang sedang marah. "Semua untukmu, Sayang." Kedua tangannya bergerak agar wanita itu berhenti marah, tapi terlanjur. Perkataan Ian telah membuat wanita itu menyorotinya karena dongkol.
Ian terpaksa pindah duduk di tepi tempat tidur tapi istrinya masih menatapnya seperti itu hingga ia mencari kesibukan dengan menonton TV.
Di luar dugaan, saat sesekali pria itu mengintip ke arah meja, wanita itu makan makanannya dengan lahap. Ia cukup heran, tapi ia bersyukur wanita itu mulai bisa makan banyak. Bahkan Noura menghabiskan makanan itu tanpa sisa. Itu cukup membuat Ian takjub. "Oh, honey, very nice.(Oh, Sayang, bagus sekali)" Ia bertepuk tangan.
Noura terheran-heran melihat sikap suaminya padahal hatinya masih mendidih mengingat foto yang ada di HP suami. Sebenarnya, itu foto siapa? Suaminya tidak pernah menyebut-nyebut nama wanita lain di hadapannya. Apa ia kecolongan lagi? Apa ia bisa begitu bodoh hingga tidak tahu apapun tentang sang suami?
Malam itu Noura sulit tidur. Ia masih penasaran dengan foto itu tapi suaminya tampak tenang seperti tidak menyimpan rahasia apapun, atau ia memang pintar berakting? Wanita itu tidak bisa membedakannya.
-----------+++---------
Ian heran pada istrinya, sedari pagi ia tampak tak bersuara. "Kamu kenapa?"
"Mmh, tidak ada," jawab wanita itu acuh.
"Benar tidak ada?"
"Iya, tidak ada." Tanpa menoleh.
Pria itu kembali menonton TV. Noura yang berbaring di tempat tidur menatap suaminya dengan kesal.
Tiba-tiba terdengar suara telepon berbunyi dan itu dari HP Ian. Pria itu, saat melihat siapa yang menelepon, tergopoh-gopoh pergi ke kamar mandi. Noura makin curiga. Ia mulai kesal dan marah yang membuat dirinya kembali lapar.
Ia melirik jam. Masih jam 10 pagi, tapi benar, ia lapar. Hah ... Noura akhirnya meraih ganggang telepon hotel.
"Eh, Noura. Kau mau apa? Kita keluar yuk?" Ian mencoba menghentikan istrinya.
"Aku lapar ...."
"Masih jam segini? Kok kamu tumben lapar? Tadi 'kan sudah sarapan. Ini baru jam 10 pagi, Noura."
Wanita itu menyorot suaminya dengan kesal.
"Eh, maksudku, tidak apa-apa kamu makan banyak. Aku hanya heran, masa tidak boleh?" Ian mengangkat kedua tangannya agar Noura tak salah sangka.
Noura masih menyorotinya dengan melipat tangannya di dada.
Eh, salah lagi. Terus aku harus berkomentar apa? "Eh, tapi bisakah kita pergi sekarang? Ada tempat makan bagus yang direkomendasikan teman."
Walaupun akhirnya mengikuti suaminya, wanita itu mengenyit dahi karena belum pernah sebelumnya suaminya melibatkan teman untuk pergi ke tempat-tempat tertentu.
Apa sekarang memang ada yang merekomendasikannya atau ada sesuatu yang lain yang berhubungan dengan telepon tadi? Telepon tadi kenapa harus disembunyikan? Ini tidak ada hubungannya wanita kemarin 'kan?
Segala pertanyaan berputar-putar di kepala wanita itu hingga akhirnya mereka sampai ke sebuah area yang terlihat cukup elit. Taksi mereka berhenti di depan sebuah restoran mewah. Keduanya turun.
Selama berpergian ke luar negeri, Ian belum pernah sekali pun mengajak Noura ke tempat-tempat mewah. Restoran mewah, hotel mewah atau Mal mewah. Sang suami selalu saja pergi ke tempat umum yang biasa orang lain datangi, dan itu biasanya tempat-tempat pariwisata umumnya atau mengajaknya berjalan kaki sekitar hotel.
Namun kali ini beda. Ian mengajak istrinya ke restoran mewah berlantai 2. Ada apa ini? Apa ini ada hubungannya dengan telepon tadi?
Saat masuk, Noura merapikan letak kacamatanya agar bisa melihat keeksklusifan restoran tersebut. Tamu-tamu pun terlihat bukan dari kalangan sembarangan, terlihat dari pakaian yang mereka kenakan.
Seorang pramusaji membawa mereka ke lantai dua. Di sana rupanya terdiri dari ruangan-ruangan yang lebih privat lagi.
Mereka kemudian memasuki sebuah ruangan dengan pemandangan luar biasa. Salah satu dindingnya dari kaca dengan pemandangan menghadap taman di belakang restoran yang cukup indah karena terawat dengan baik.
"Kau suka?" Pria bule itu menatap istrinya.
"Iya, aku suka, Bang."
Keduanya duduk mengelilingi meja.
"Tapi kenapa kita ke sini? Terlalu mewah rasanya."
"Kan aku datang bersama istriku dalam acara bulan madu, Sayang."
"Seandainya ada kedua orang tuaku di sini, alangkah indahnya."
Pria itu hanya tersenyum. "Ayo, Sayang. Kamu pilih menunya atau lihat-lihat dulu karena jam makan siang masih setengah jam lagi."
"Tidak apa-apa 'kan pesan sekarang, aku sudah lapar ini ...," gerutu wanita itu.
"Oh, ya sudah, tapi jangan pesan yang berat-berat dulu."
"Kenapa?" tanya Noura heran.
"Eh, 'kan belum waktunya? Sini aku pilihkan." Ian kemudian memesankan istrinya salad.
Noura heran, kenapa makanannya dipilihkan sedang ia biasanya memilih sendiri makanannya. Sedikit curiga, ia tetap mengikuti apa yang diminta suaminya.
Selagi makan, suaminya terlihat gelisah.
"Bang, kamu gak makan?"
"Nanti saja pas jamnya."
Tidak biasanya suaminya tidak makan bersama tapi memang Noura makan mungkin lebih cepat dari biasanya sehingga pria itu menunggu jam makan.
Mendekati jam makan siang.
"Bang, tidak pesan makanan?"
Terdengar suara telepon masuk. Pria itu segera merogoh kantongnya. "Halo," katanya setelah meletakkan HP itu di telinga. Pria itu segera beranjak berdiri dan bergerak ke arah pintu. Ia keluar!
Lagi-lagi ... apa sih yang dirahasiakannya? Tiba-tiba Noura ingin ke toilet. Ia segera keluar mencarinya. Beberapa menit kemudian ia kembali. Ia terkejut melihat kumpulan orang bule di ruangan itu.
Ada Daddy Ian dan wanita yang memanggil 'honey' pada suaminya bersanding dengan seorang pria bule tampan.
"Honey, keluargaku datang," ucap Ian dengan senyum lebar.
"Keluarga?" Noura melongo. Jadi wanita ini ....
"Daddy datang dengan Kakakku Lily. Kamu belum kenal 'kan? Kakakku ikut suaminya tinggal di Afrika dan waktu kita nikah ia punya kendala visa hingga tak bisa datang ke Indonesia."
Kakak?
"Honey, this is you wife? Nice to meet you.(Sayang, apa ini istrimu? Senang bertemu denganmu)" Wanita itu menyodorkan tangannya.
"Kenapa dia memanggilmu 'honey'?" tanya Noura heran seraya menyambut tangan wanita itu.
"Oh, it's a long story.(Oh, itu ceritanya panjang)" jawab suaminya diiringi tawa.
____________________________________________
Reader, intip novel yang satu ini yuk!
Dendam Cinta
Author: Lena Laiha
Shena Aulia Raina, seorang istri yang diceraikan oleh suaminya setelah seluruh harta kekayaan dikuasai oleh sang suami. Shena bersama putri satu-satunya diusir dari rumahnya sendiri.
Shena mencoba untuk ikhlas, namun karena Devan tidak membiayai pengobatan putrinya yang sakit, akhirnya putrinya meninggal dunia.
Shena yang sudah mengikhlaskan semuanya berubah menjadi benci dan ingin membalas dendam kepada Devan atas perlakuan Devan terhadapnya.
Shena mulai merubah penampilannya dan berusaha memikat Devan agar tertarik lagi kepadanya.
Apakah Shena akan berhasil membalas dendam?
Ataukah Shena berubah menjadi jatuh cinta lagi kepada Devan setelah berhasil mendapatkan Devan kembali?