CEO And The Twins

CEO And The Twins
Tuduhan



Sudut mata Noura mulai menggenang. "Demi Allah Ka, aku masih suci sebelum menikah. Aku tidak pernah melakukan hal keji seperti itu. Ian pria baik dan kita saling mengenal dengan baik-baik."


"Wajahmu memang wajah tanpa dosa tapi siapa tahu dibalik cerita perkawinanmu ada hal yang kamu sembunyikan. Iya 'kan?" ucap Vika sinis seraya bertelak pinggang. Wanita itu tidak bisa percaya begitu saja ucapan saudara kembarnya karena pada kenyataannya Ian terlalu tampan untuk Noura di mana pasti banyak wanita yang sedang mengejarnya tapi saudara kembarnya dengan mudah mendapatkan Ian tanpa usaha.


Noura hanya bisa menunduk, dan air matanya mengalir dengan sendirinya.


"Jangan munafik, tahu gak! Jangan pikir orang langsung percaya setelah kamu menangis!" Lagi-lagi Vika menghujamkan tuduhan tanpa bukti pada Noura.


Begitulah Vika. Walaupun Noura dan Vika kembar karena wajah serupa, tapi tidak dengan kepribadiannya. Vika adalah wanita cantik yang ceplas-ceplos dan pencinta kebebasan sedang Noura, walaupun tidak secantik Vika tapi ia pendiam, dan menyukai segala jenis pekerjaan wanita.


Mereka sering bertengkar dan selalu Vika yang memulai. Karena orang tua mereka tahu, Vika penyebabnya, mereka kemudian selalu membela Noura. Vika pun jadi makin benci pada Noura.


"Noura! Suamimu datang!" teriak ibu dari bawah.


Cepat-cepat Noura menghapus air matanya. "Iya Bu!"


"Awas, sekali lagi kamu ngadu sama Ibu!" ancam Vika menunjuk ke arah wajah kembarannya. Ia segera keluar.


Noura segera menyelesaikan pekerjaannya dengan mengisi koper di hadapan.


Vika menuruni tangga. Semua orang memandang ke arahnya. "Eh, sebentar lagi mungkin. Noura masih mengisi kopernya," ujarnya menerangkan.


Ian segera berdiri. "Eh, biar aku bantu saja Noura, biar cepat selesai." Ia pun permisi dan menaiki anak tangga. Masalahnya, ia tak tahu kamar Noura yang mana. "Noura, kamu di mana?"


Tak lama, kamar di samping kanan terbuka. "Ian, kenapa kamu naik ke atas?" tanya Noura heran.


Ian langsung masuk seraya menjawab, "aku malas menjawab pertanyaan yang membingungkan."


"Pertanyaan apa?"


"Sudah cepat! Aku malas berada di sini lama-lama." Ian mengedarkan pandangan tapi sepertinya tempat yang paling nyaman untuk bersantai adalah tempat tidur Noura. Ia menyambanginya. "Aku baru pulang golf dan masih lelah tapi harus menjemputmu. Huh! Kalau bukan karena menjemput di rumah orang tuamu aku akan abaikan," omel Ian.


"Kau ingin minum?" tanya Noura.


Ian menatap Noura dengan kesal. "Kau tidak dengar kata-kataku? Air minum juga sudah aku dapat dibawah. Sekarang ini aku ingin pulang, kau mengerti?!" Matanya makin membulat sempurna karena marah.


Digertak begitu, Noura menunduk. "Iya, iya maaf."


Ian menaiki tempat tidur Noura dengan bersandar di kepala tempat tidur dan menyilangkan kaki seraya menatap Noura dengan meyilangkan tangan di dada. "Ayo cepat!" ucapnya melihat Noura terdiam.


"Eh, i-iya." Noura mulai mengambil barang-barangnya dari lemari tapi terlihat sekali matanya mulai berkaca-kaca.


Ian paling anti melihat pemandangan seperti ini. Ia memejamkan mata. Uh ... kenapa Noura tidak seperti Vika sih? Kalau dimarahi ia akan menyerang balik tapi Noura? Dia menerimanya. Ah! Ingin rasanya ia menggigit kepalan tangannya karena gemas. "Kenapa kamu lamban sekali sih?" Ia turun dari tempat tidur.


"Eh, maaf ...." Noura melirik suaminya.


"Sini aku bantu!" Pria itu berjongkok di depan koper dan mulai menyodorkan tangannya. "Mana, sini aku susun."


"Tapi ...."


"Ayo cepat!" potong Ian yang mulai naik darah hingga Noura terpaksa mengikuti kemauan suaminya. Noura mengambilkan barang-barang dan Ian menyusunnya di koper. Sebentar kemudian koper terisi penuh. "Cukup kan?"


"Eh, iya. Terima kasih."


Ian melirik dengan sudut matanya. Segera ia mengunci dan mendirikan koper itu bersama dengan dirinya. "Sudah, ayo kita segera pulang."


Pria itu menuruni tangga membawa koper Noura sedang, istrinya mengikutinya dari belakang. Semua orang melirik keduanya.


"Eh, kalian benar-benar tidak punya waktu untuk bulan madu?" tanya ayah.


Ian yang sudah mencapai bawah tangga, menarik koper Noura. "Oh, kami sedang mencari waktu yang tepat karena sama-sama punya kesibukan," kilah Ian.


"Begitu ya, tapi sabtu-minggu berarti kalian libur. Iya 'kan?"


"Oh, iya. Tentu saja, karena walaupun kerja dari Senin sampai Jum'at tapi pekerjaannya cukup menguras otak."


"Berarti kami bisa berkunjung ke rumah kalian 'kan?"


"Apa? Eh ...." Ian menoleh ke arah Noura.


"Iyaaa ...."


"Kami akan berkunjung besok. Vika juga ikut. Kami ingin melihat rumah kalian, boleh 'kan?"


"Ehhhh ...." Kembali Ian melirik Noura yang kini berada di sampingnya.


Sebenarnya ini permintaan Vika yang penasaran dengan kehidupan pribadi Noura dan Ian. Ia merasa ada yang tak beres dengan hubungan keduanya karena ia merasa tak mungkin Ian, pria setampan itu mencintai Noura.


"Boleh saja Yah," ucap Ian dengan pelan.


"Mungkin sekalian makan siang?" ajak Noura.


"Oh, boleh. Ayah suka itu," kata ayah seraya tersenyum.


Ian semakin mangkel. "Eh, maaf aku ingin segera pulang karena baru pulang golf jadi ya ...."


"Oh, ya, ya, silahkan. Kita bisa ngobrol-ngobrol lagi besok," sahut ayah mengerti.


Ian dan Noura pamit. Setelah memasukkan koper di bagasi, mobil membawa mereka pulang, seharusnya ....


Noura terkejut ketika mobil di hentikan di tengah jalan.


"Siasat apalagi yang kau lakukan?" Ian masih meletakkan tangan di atas stir.


"Apa?"


"Jangan berpura-pura. Kamu 'kan yang mengajak orang tuamu untuk datang ke rumah?"


"Apa?" Noura makin terperangah. Kenapa hari ini banyak sekali orang yang menuduhnya? Tidak suami, tidak saudara kembar, kedua-duanya menuduhnya tanpa bukti.


Ian tertawa tanpa suara. "Begitu inginnyakah kamu aku memelukmu, dan mengatakan 'aku cinta kamu' walau cuma pura-pura di depan orang tuamu?"


"Apa?" Kalimat ini sangat menusuk hati Noura. "Ian, kita menikah. Untuk apa kita ...." Ia tak sanggup melanjutkan lagi kalimatnya karena ia merasa suaminya sudah sangat keterlaluan.


Ia segera membuka pintu tapi pria itu dengan sigap meraih lengannya. "Lepaskan! Ian!" Wanita itu berusaha melepaskan diri tapi genggaman suaminya begitu kuat.


"Ini jalan raya, bukan tempat anak kecil yang ngambek lari!" bentak suaminya. "Tutup pintunya!"


Noura menuruti dengan kesal.


"Ok, kali ini aku mengalah, tapi hanya kali ini saja sebab aku tak mau lagi diganggu dengan masalahmu dan keluargamu."


Noura hanya diam dan menunduk kesal. Mobil kembali di jalankan dan pulang.


Sesampainya di rumah, Ian kembali membawakan koper istrinya ke lantai 2 tapi kali ini berbelok ke kamarnya.


"Lho, barangku mau ditaruh ke mana?" Noura mengikuti.


"Kamarku." Ian memperlihatkan kamarnya dengan setengah hati.


"Kenapa kau kini membawa barang-barangku ke kamarmu?" Wanita itu menautkan alisnya.


"Ck! Bukannya besok keluargamu akan datang? Bagaimana kalau mereka memeriksa kamar kita?"


"Apa? Kenapa kamu peduli? Itu kan masalahku, bukan masalahmu." Noura menarik kopernya keluar.


"Noura!" Ian menahan koper istrinya.


Keduanya saling menarik dan menahan. Karena kesal, Ian menarik tubuh istrinya dan menghempaskannya ke atas tempat tidur. Noura jatuh terlentang, hingga kasurnya bergerak bergelombang.


"Ah!"


Ia mencondongkan tubuhnya ke arah istrinya dengan menopang kedua tangan di sisi wajah wanita itu. Ian mendekatkan wajah mereka agar Noura mendengar apa yang ia katakan. "Kau tak boleh memperlihatkan aib suamimu karena kau istriku."


Kalimat itu sukses membuat jalinan pernikahan mereka semakin membingungkan. Tidak itu saja, Noura berdebar, dan juga Ian.


Posisi mereka yang begitu dekat membuat Noura tak bisa memungkiri cinta telah tumbuh di hatinya walau kini sering terpatahkan oleh sikap suaminya yang kadang menyebalkan, sedang Ian, ia dilema. Di satu sisi ia ingin balas dendam pada Vika dan di sisi lain ia benar-benar jatuh cinta pada Noura dan sejauh ini, ia belum bisa menemukan sisi jahat istrinya secara langsung hingga membuat hatinya selalu menolak untuk menyakiti wanita itu.