
Ian masuk ke dalam ruang perawatan seraya menarik kopernya pelan-pelan sebab istrinya tengah tertidur. Di samping tempat tidur istrinya ada tempat tidur bayi di mana tergolek bayi mungil yang masih merah. Bayi itu mulai terlihat gelisah. Tangan mungilnya yang tertutup sarung tangan bayi mulai bergerak-gerak mengusap wajahnya.
"Oh, my baby,(bayiku)" bisik pria itu yang segera meninggalkan koper dan mendatangi tempat tidur mungil itu. Ia mengangkat bayi kecil itu. "Oh, my little one,(bayi kecilku) ini Papa, Sayang. Kau sangat cantik." Ian mencium kening putrinya.
Bayi itu menangis membuat Noura terbangun.
"Oh, maaf, Sayang. Kau terbangun. Ini sudah pagi dan aku datang untukmu. Bayi kita sepertinya lapar, apa kau bisa menyusuinya?"
Dengan mata yang masih lelah, Noura mengangkat tangannya meraih bayi itu dari tangan suaminya. Pria itu memberikannya dengan hati-hati.
Noura menyusui bayinya.
"Ayah mana?"
Wanita itu menunjuk ke arah sofa. Di sana, ayah dan ibu Noura tengah tertidur.
"Kau sudah sarapan, Sayang?"
"Sst." Wanita itu meletakkan jari telunjuknya di depan mulut dengan suara halus. Bayi kecil itu sedikit merengek ketika mendengar suara berisik saat menyusu.
Pria itu segera menutup mulutnya dan mengangguk. Ia memberi tanda 'ok' dengan jemarinya.
Sebentar kemudian ia sibuk memperhatikan putrinya yang minum susu dengan rakusnya, tapi tak lama. Matanya yang masih sangat kecil itu mulai berat dan mulutnya mulai terlepas dari dot alami di depannya.
Ian tertawa tanpa suara melihat putri kecilnya berjuang dengan rasa kantuk tapi masih bertahan untuk ingin menyusu. Pada akhirnya bayi itu benar-benar kalah oleh kantuknya sendiri.
Ian mendekat dan mengambil perlahan bayi itu, sementara Noura mengancingi baju depannya. Baju di dadanya sedikit basah karena air susu yang tumpah. Ian meletakkan bayi itu pada tempat tidur bayi.
Ian kembali ke tempat tidur Noura, duduk di sana dan memperhatikan sang istri. Wajahnya terlihat lelah. Didekatinya wajah itu dan dikecup keningnya. "Capek ya, Sayang," bisiknya.
"Mmh." Wanita itu mengangguk kecil. "Sebentar-sebentar ia minta susu, jadi aku susah tidur."
"Mmh." Ian merapikan rambut Noura yang panjang dan kembali mengecup keningnya. "Kau ingin makan atau tidur lagi?"
"Aku ingin tidur lagi."
"Ya sudah, tidurlah. Aku akan menjagamu di sini." Pria itu mulai menegakkan duduk.
Noura meletakkan telunjuknya di depan mulut dan pria itu mengangguk mengerti.
----------+++-----------
Dimulailah hari-hari melelahkan suami istri ini. Ian bahkan menyewa babysitter untuk membantu Noura, tapi kemudian aduan babysitter-nya tentang sang istri menyadarkannya akan sesuatu.
"Ibu sering diam saja, Pak kalau bayinya nangis. Saya sampai harus berlari-lari mengejar ke kamar karena Ibu tak mau bergerak. Mungkin Ibu kena Baby blues."
"Baby blues?"
"Cari saja di internet, Pak dan tolong ibunya."
"Oya." Ian segera memeriksa di HP-nya.
Malamnya, Ian terbangun karena bayi mereka menangis. Diliriknya sang istri yang terbangun tapi seperti tak peduli. Ia segera bangkit dan meraih bayi itu dalam gendongan.
Mulut bayi itu mulai mencari-cari. Sepertinya ia sangat haus.
"Noura." Pria itu coba membangunkan istrinya yang pura-pura tidur.
Noura pun bangun dan duduk. Tiada senyum di wajahnya yang terlihat lelah dan suntuk. Wajahnya sedikit pucat.
"Noura bisakah kau ...."
"Ck, ya udah sini," jawab wanita itu sedikit kesal.
Ian tercengang melihat kenyataan ini. Babysitter mereka berkata benar. Perlahan, Ian memberikan bayi itu pada istrinya.
Dengan kasar wanita itu meraihnya dan mulai membuka kancing baju. Bayi kecil itu juga merasa tidak nyaman dengan sikap ibunya dan menangis kencang.
"Heeh," gumam Noura menahan amarahnya. Ia sudah sangat lelah dan frustasi. Ia tidak bisa istirahat karena bayinya minta susu di setiap jam istirahatnya. Belum lagi kelahirannya yang tidak diinginkan, seorang bayi perempuan.
Pria itu perlahan duduk di samping istrinya. Ia sepertinya harus bicara baik-baik dengan sang istri agar ia tak tersinggung. "Kamu kurang tidur ya, Sayang?"
Noura menoleh menatap suaminya dengan kesal. "Apa tak kau lihat tanda hitam dibawah mataku ini, hah?!!" Ia menunjuk wajahnya dengan geram.
"Apa kau akan bilang aku ibu yang tidak berguna?" Intonasi suaranya berubah menjadi mendung. "Aku sudah berusaha tapi aku tak sanggup." Mengalir air matanya. "Aku sudah berusaha mencintainya, walau dia bukan yang diminta," ucapnya putus asa.
"Sst, sst, tidak boleh bicara begitu, Noura. Tuhan saja tidak pernah membeda-bedakan mahluknya tapi kenapa kamu malah melakukannya? Apa dia pernah menyakitimu sehingga kamu tidak menyukainya? Perempuan dan laki-laki sama saja, Noura. Kalau ia bukan anak yang soleh atau soleha juga tak ada gunanya," pria itu memelankan suaranya. Ian menarik istrinya perlahan dalam pelukan.
"Di dunia ini, suami, istri dan anak-anak itu cobaan, Noura karena Tuhan ingin tahu apa kita tidak akan melupakannya, setelah apa yang telah diberikan. Dikabulkan atau tidaknya doa-doa kita. Percayalah, semua apa yang dipilihkan Tuhan untuk kita, itu pasti yang terbaik."
Wanita itu menyandarkan kepalanya dalam kehangatan dada bidang sang suami. Bayinya pun mulai menyusu lagi.
"Bagaimana kalau kau memompa susumu agar bisa disimpan di lemari es? Jadi saat malam kau tak harus bangun, biar itu jadi pekerjaanku. Bagaimana menurutmu, mmh?" Pria bule itu memberi solusi.
Sang bayi sedikit terganggu tapi tetap menyusu.
"Tapi itu nanti jadi buat kamu kelelahan dan tidak bisa ke kantor." Noura berbisik dengan perasaan gundah.
Bayi mungil itu mulai berhenti menyusui dan mulai mendengarkan.
"Ah, sekarang aku baru menyadari aku tak dibutuhkan pagi di kantor jadi aku akan buat jadwal baru. Aku akan datang siang dan bekerja lembur dan pulang membantumu hingga pagi, setelah itu aku tidur. Tidak apa-apa 'kan kalau aku tidur pagi?"
Noura mengangkat kepalanya dan menatap kedua bola mata pria asing itu, betapa anugrah yang sangat besar telah memilikinya. Pengertiannya yang teramat tinggi membuat Noura yakin pria inilah yang akan menariknya hingga jannahNya. "Bang, terima kasih." Wanita itu menangis haru.
Pria itu tersenyum dan menghapus air mata istrinya dengan ibu jari. Ia mengecup bibir ranum itu. "Akhirnya aku mendapatkan nama untuk bayi kita. Sabina Crystal Xander."
Wanita itu tersenyum. "Sabina." Ia memandang pada bayi mungil itu. "Sabina."
Bayi itu terdiam mendengar nama itu, seperti tahu ia akan dinamai itu.
"Iya, Sabine, Sayang. Ini Mama dan Papa yang akan mencintaimu seumur hidupnya." Ian mengusap kepala bayi itu dengan lembut.
Bayi itu tersenyum lalu meneruskan menyusunya.
---------+++-------
Hari berganti. Walaupun Noura masih berharap pada anak laki-laki, tapi cintanya pada Sabine tak berkurang. Sabine tumbuh menjadi anak perempuan kecil yang cerdik. Ia sangat bergantung pada Noura karena sangat menyayanginya. Ke mana pun Noura pergi, ia selalu mengikuti, makan makanan kesukaan ibunya bahkan ia suka memakai pakaian kembaran dengan ibunya yang dibuatkan penjahit langganan Ian.
"Mama, cama.(sama)" Sabine menunjuk bajunya.
"Iya, Sayang."
"Cama." Gadis kecil itu menyentuh kacamatanya.
"Heum."
"Cama." Ia menyentuh kuncir rambutnya dengan kedua tangan.
"Iya." Noura yang mengambil roti yang sudah dibayar suaminya, diperhatikan Sabine.
"Mama, camaaa ...." rengek Sabine yang mengangkat tangannya ingin membawa roti juga seperti ibunya.
Noura mengambil bungkus kecil dan memberikannya pada si kecil Sabine.
Gadis kecil itu tersenyum senang. "Mama, cama."
____________________________________________
Halo reader. Di tengah kesibukan berflu ria, author tetep nulis. Jangan lupa vitamin author ya? Like, komen, vote atau hadiah. Ini visual Noura dan Sabine. Salam, ingflora 💋
Pemandu Hati Pengganti
Author: Chika Ssi
Pradha Ratnamaya seorang model ternama terpaksa menggantikan adik kembarnya untuk menikah, karena sang adik meninggal dunia. Sebelum pernikahan berlangsung, Pradha menemui Abipraya (calon suaminya) untuk membuat sebuah kesepakatan.
Keduanya menjalin hubungan tanpa cinta. Satu bulan setelah pernikahan, Abirama (kakak kandung Abipraya) pulang dari luar negeri. Rama adalah cinta pertama Pradha. Seiring berjalannya waktu, cinta yang lama terpendam pun kembali mencuat ke permukaan. Akhirnya, keduanya menjalin hubungan terlarang di belakang Abi.
Akankah cinta terlarang Pradha dan Rama dapat bersatu? Atau Pradha berubah pikiran dan memilih mempertahankan rumahtangga demi karir?