
"Ayo, Sabine, kita makan dulu ya?" Ian mengangkat tubuh gadis kecil itu tinggi-tinggi hingga gadis itu tertawa kegirangan. Kemudian pria itu menggendongnya.
Mereka memilih makan di restoran Padang dan makan ayam goreng. Ayam gorengnya sangat berbumbu sehingga Sabine sangat menyukainya. Ian pun suka makan di restoran ini karena ada pilihan bagi yang tidak ingin makan makanan pedas.
"Sabine duduk sama Mama ya, biar bisa disuapi Mama. " Ian meletakkan Sabine duduk di samping istrinya. Gadis kecil itu terlihat tenang karena duduk dengan idola kesayangannya.
Sambil makan, Noura membagi makanannya pada Sabine. Noura tentu saja senang karena ia termasuk orang yang makannya sedikit sehingga ketika makan bersama Sabine, makanannya pasti habis.
Noura menyuap Sabine dengan tangan sedang Ian pun mencoba makan dengan tangan, walau sedikit kesulitan.
"Bang, kalau tidak begitu pandai, pakai sendok saja, Bang."
"Tapi ini cara makan terbaik 'kan menurut Nabi." Pria itu mengambil makanan dengan banyak versi. Ia meletakkan di telapak tangannya tapi sulit untuk menyuapnya.
"Begini, Bang." Noura tersenyum lebar. Ia memperagakan bagaimana ia membuat kerucut. "Dipadatkan nasinya, Bang."
"Oh, begitu. Makanya, aku buat yang seperti kamu kok gak bisa ...."
Wanita itu menyuapi Sabine yang membuka mulutnya lebar.
Ian menyuap nasi. Berhasil dan ia memperlihatkan ibu jarinya pada Noura.
Sabine juga. Ia berdiri dan menyentuh tangan wanita itu. Ia memperlihatkan mulutnya yang sedang mengunyah.
"Mmh, pintar anak Mama."
Gadis kecil itu tersenyum.
"Bang, Sabine 'kan sudah kerja 2 tahun, Bang. Aku ingin kembali kerja. Bagaimana?"
Ian kini fokus mendengarkan permintaan istrinya ini. "Aku bukan bermaksud menghalangi karirmu tapi aku ingin anak-anak jadi prioritasmu juga. Aku ingin ada salah satu kita mendampinginya di rumah."
Noura merengut.
"Apa aku saja yang berhenti kerja?"
Noura terkejut. Ia tak menyangka suaminya mau berkorban.
"Aku punya saham di perusahaan Daddy di Amerika dan dananya masih mengalir terus ke rekeningku."
Noura jadi merasa bersalah. "Tapi itu 'kan masuknya setahun sekali. Gajiku yang cuma manager juga tidak seberapa." Wanita itu tertunduk.
"Tidak apa-apa, Noura. Kita masih bisa hidup dengan uang tabunganku yang cukup banyak. Mungkin bisa untuk beberapa tahun ke depan."
"Ya, nanti kalau Sabine masuk sekolah juga butuh dana yang tidak sedikit."
"Ya ... tidak usah sekolah di sekolah mahal 'kan tidak apa-apa." Ian menyuap makanannya.
Noura terdiam.
"Ak Ma!" Gadis itu membuka mulutnya.
Suara Sabine menyadarkan wanita itu dan kembali menyuap si kecil.
"Atau ...."
Noura menoleh.
"Masukkan Sabine ke playgrup. Kamu kerja part time(paruh waktu) dan pulang jemput Sabine. Bagaimana?"
"Bagaimana mau part time, 'kan playgrup juga sekitar 2 jam."
"Sisanya dititipkan. Jam makan siang kau jemput Sabine."
Noura berpikir sejenak. "Tapi mencari pekerjaan part time 'kan susah, Bang?"
"Aku bisa mengajukan pekerjaan ini di kantorku, jadi kamu kerja padaku."
Noura kembali diam.
"Coba kau pikirkan dulu. Mudah-mudahan di kantor, pekerjaan ini disetujui."
--------+++-------
Noura keluar dari kamar mandi sambil mengusap mulutnya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ian yang sedang menemani Sabine menonton TV di ruang tengah.
"Entahlah, mungkin masuk angin."
"Akhir-akhir ini kamu sering sakit. Mungkin karena makanmu terlampau sedikit, Sayang."
"Makanku memang segitu 'kan, Bang."
Ian terdiam seraya memperhatikan istrinya. "Bagaimana kalau ke dokter?"
"Tidak, aku cuma butuh istirahat mungkin."
"Noura, jangan begitu. Kamu sering muntah belakangan ini sehingga tubuhmu makin kurus. Makanmu 'kan tidak banyak. Periksa saja ya? 'Kan tidak mungkin aku menitipkan Sabine dengan keadaan kamu seperti ini. Mungkin mereka bisa memberimu vitamin."
"Mmh."
"Atau mungkin kamu hamil."
-----------+++---------
"Selamat, Pak. Istri anda hamil," terang dokter wanita di depan Noura dan Ian.
Keduanya saling berpandangan dan Ian tersenyum bahagia. Pria itu kemudian beralih menatap dokter di depannya. "Tidak salah 'kan dok? Soalnya perutnya tidak terlihat besar seperti sebelumnya."
"Iya, karena belum 3 bulan, tapi sudah bisa lihat di layar kok. Mau lihat?"
Tak lama Noura dan Ian yang sedang mengendong Sabine keluar dari ruang praktek dokter. Noura terlihat biasa-biasa saja menimbulkan tanya pada benak suaminya.
"Noura, apa kamu tak senang? Kesempatan punya anak laki-laki 'kan ada lagi, Sayang?"
"Aku kalau boleh memilih. Aku hanya ingin Sabine saja."
"Lho, kenapa? Bukannya kamu ingin sekali punya anak laki-laki?"
"Mmh? Rasanya aku lelah berharap."
"Mungkin saja kita bisa punya anak laki-laki, Noura."
Noura terdiam sejenak sambil menunduk. "Sebenarnya bukan itu yang aku pikirkan sekarang. Aku ingin kembali bekerja."
"Tapi Tuhan menghadiahimu kehamilan, bagaimana?"
Wanita itu mengangkat kepalanya. "Ya, kau benar," jawabnya setengah ragu.
"Honey ...." Ian menghela napas panjang. Ia melirik Sabine yang terlihat bingung. "Coba kasih semangat Mami. 'Semangat Mami', gitu."
"Cemangat Mami!" teriak Sabine seraya Ian mengangkat tangannya. Bocah perempuan itu tersenyum lebar.
"Terima kasih, Sayang." Noura menyentuh pipi anaknya.
"Ayo, Sayang. Kita makan dulu." Ian menarik tangan istrinya.
"Mmh."
"Lagipula kau tidak bisa bekerja kalau perusahaan mengetahui kau hamil, saat pertama masuk, Sayang."
Noura menoleh pada suaminya. Ia tahu, ia tak mungkin lagi memikirkan karirnya. Jalan lain kini telah jelas terpampang di depan mata.
--------+++---------
Kini Noura mencoba menikmati hidup sebagai ibu rumah tangga. Mungkin memang ini jalan hidupnya tinggal di rumah dan mendukung anggota keluarganya yang lain.
Seperti pagi itu, setelah memandikan Sabine, Noura sarapan bersama suami dan anak. Setelah Ian berangkat ke kantor, ia mengurus ayam-ayamnya di taman belakang bersama Sabine. Sabine membantu ibunya menyapu daun-daun kering di taman, walau ujung-ujungnya kembali disapu Noura karena gadis kecil itu sudah pindah dan bermain yang lain.
Wanita itu juga membersihkan kotoran kucing dan memberi makan.
Di sore hari saat ia bosan, ia membuat kue. Ia membuat apple pie untuk suami dan anaknya.
"Mama, enak!" sahut Sabine. Ia menggoyang-goyangkan kakinya saat disuapi Noura.
"Mmh, anak Papa Ian." Noura mengusap pucuk kepala putrinya.
Sabine berdiri di atas kursi lalu mendekatkan wajah mereka. "Anak Mama Nola." Gadis kecil itu memeluk leher ibunya dan mengecup pipinya.
Noura tersenyum lebar, dan mengecup kening putrinya. "Iya, anak Mama Noura."
Ternyata hari itu, suaminya pulang cepat. Wajahnya tak seperti biasanya, terlihat muram.
"Kenapa, Bang?" tanya Noura saat menyambutnya di depan pintu rumah.
"Daddy sakit."
"Oya?"
"Tapi Kakak sudah di sana mendampingi."
"Kau ... mau ke Amerika?"
"Aku tidak tahu karena aku tidak dapat izin di kantor. Pekerjaan lagi sedang banyak, tapi aku malas di kantor jadi pulang saja."
Noura menatap suaminya. "Apa sakit Daddy parah?"
"Aku belum tahu, tapi pikiranku tidak bisa fokus."
"Apa kau akan berhenti bekerja?"
___________________________________________
Un Familiar Brother
Author: Kaka Shan
Kerumitan hidup membawa 3 saudara bermarga Natadisastra berurusan dengan seorang gadis dari kalangan biasa bernama Aleanska Nara. Rasa benci, obsesi, serta mencintai, membuat mereka harus berkorban, saling membohongi, bahkan saling menyakiti.
"Kembaran gue suka kakak tiri gue, kakak tiri gue suka adek gue. Cih, takdir Tuhan macam apa ini?"