CEO And The Twins

CEO And The Twins
Lega



Hari berlalu, tapi tak ada kabar dari Noura. Ian tetap sabar menanti. Ia tahu, selama istrinya sudah ada di Jakarta, suatu saat mereka pasti akan bertemu dan ia berharap saat itu emosi istrinya sudah mulai berkurang dan sudah bisa diajak bicara.


Pagi itu Ian akan bersiap berangkat ke kantor ketika seorang pembantunya memberi tahu ada seorang tamu di luar mencarinya.


"Siapa?"


"Aku tidak tahu, Tuan. Aku belum pernah melihat dia datang."


Pria itu mengerut kening. "Biarkan dia masuk." Namun Ian terkejut melihat siapa yang datang. "Ryan?"


"Maaf, aku sedang terburu-buru tapi aku butuh jawaban jujur darimu."


Ian mengeratkan gerahamnya. Ia mengambil istriku, ia pula yang mengatur mauku? Sebenarnya apa yang dia inginkan? Namun Ian berusaha sabar. "Maksudmu apa?"


Ryan bisa melihat wajah marah Ian yang berusaha diperhalus lewat ucapan, tapi ia tak peduli. Ia butuh kepastian. "Apa kamu mencintai Noura?"


Ian hampir tertawa. "Iya, tentu saja." Pria itu memastikan.


"Dengan seluruh kekurangannya?"


"Pertanyaan apa ini? I love her.(aku mencintainya)" Ia meyakinkan pria itu.


"Walaupun ia sakit parah sekali pun?"


Wajah pria bule itu berubah khawatir. "Apa? Noura sakit?" Ia menarik kerah baju Ryan dengan sedikit kasar untuk memastikan pendengarannya. "Katakan ... dia sakit apa?" ucapnya. Napasnya terdengar berat. Saat itu, dunia serasa hampir runtuh di hadapan.


"Kau masih tetap mencintainya?" Ryan mengangkat kedua alisnya.


Ian masih tertegun hingga ia tak menyadari pegangannya pada kerah baju Ryan mulai melonggar. Benarkah Noura sakit? Kepalanya hampir pecah mendengarnya.


Ryan bergerak mundur dan merapikan kerah bajunya. "Kau tak mencintainya?"


"Apa?" Ian tersentak kaget. "Di-dia sakit apa?" Lutut pria itu serasa goyah. Apa ia punya penyakit parah yang ia tidak tahu?


"Miom. Dia tahu, kau takkan menerimanya karena dia mungkin takkan bisa memberimu keturunan. Karena itu aku datang untuk memastikan."


"Itu tidak benar, AKU MENCINTAINYA." Ian kembali menarik kerah baju Ryan dan menatap kedua bola mata pria itu untuk mencari kebenaran. "Katakan padaku sekarang, di mana dia? Di mana DIA?!!"


Ryan terkejut, tapi seperti yang diharapkan, suami Noura memang orang yang bisa dipercaya. "Cepat susul dia ke bandara. Ia menunggu kedatanganku untuk mengantarnya berangkat ke Malaysia. Rencananya, ia akan berangkat sendirian."


Tanpa pikir panjang, Ian segera berlari ke arah pintu utama. Sebelum menghilang di balik pintu, ia menoleh pada Ryan. "Eh, Ryan. Terima kasih." Ia bergegas pergi.


Ryan menghela napas pelan. Kenapa aku begitu bodoh hingga menyatukan mereka kembali?


------------+++---------


Noura gelisah menanti Ryan yang tak kunjung datang padahal sebentar lagi pesawat boarding(persiapan untuk berangkat).


Dari kejauhan, ia melihat seorang pria berlari-lari ke arahnya. Pria itu adalah Ian, suaminya. Noura yang duduk tak jauh dari tempat boarding pesawat, terkejut dan segera berdiri lalu berniat melarikan diri.


Dengan cepat ia menarik kopernya agar bisa lekas masuk ruang boarding, tapi ia kalah cepat. Sang suami segera datang dan menyambar tubuhnya dan memeluknya.


"Noura, jangan kabur lagi." Pria itu mengatur napasnya. "Kenapa kamu selalu saja kabur bila ada masalah?"


"Karena kau menyebalkan!" Wanita memukul dada bidang pria itu dan berusaha melepaskan diri tapi pria itu tak kunjung melepasnya.


Ian bahkan semakin mengeratkan pelukan.


"Sudah, lepaskan aku!" Noura hampir menangis.


"Aku tahu kenapa kau berbohong padaku."


"Tolong lepaskan aku." Wanita itu mengiba.


"Aku mencintaimu, apa itu saja tak cukup bagimu?"


"Jangan kasihan padaku! Apa Ryan meminta tolong padamu?" ucapnya kesal.


"Ryan hanya datang ingin memastikan apakah aku mencintaimu dan jawabannya, aku mencintaimu."


Tubuh Noura yang tegang kini sudah lemas.


"Anak mungkin bukan sesuatu yang pasti tapi cintaku ini pasti, Noura. Ada atau tanpa anak."


Tiba-tiba terdengar tepuk tangan yang bergemuruh di bandara itu. Ternyata, karena mereka berdiri di dekat pintu masuk, semua orang mendengarkan dan melihat adegan itu. Mereka bertepuk tangan dengan kesetiaan pria itu mencintai istrinya.


"Sudah jangan pisah lagi, Mbak." Seorang pria datang menepuk-nepuk lengan Noura, dan kemudian ia melangkah masuk ke tempat boarding. Satu-satu, penumpang yang mengantri masuk tempat boarding, memberi semangat.


"Semangat, Mbak."


"Semoga bahagia."


"Jangan berpisah ya?"


"Peluk erat-erat suaminya, Mbak."


"Semangat."


"Aku doakan bahagia."


Ian dan Noura yang sedikit malu akhirnya pamit mundur dan menepi. Mereka mencari tempat duduk untuk berdua, yang sepi.


"Bang, aku tidak mau dikasihani. Aku tidak mau kau bersamaku karena kasihan."


"Kata siapa kasihan? Aku mencintaimu. Harus berapa kali kuulangi, agar kau percaya?" Pria itu menatap wajah istrinya yang masih saja cemas.


"Karena aku tahu kau sangat menginginkan anak."


"Oh, Noura." Pria itu kembali memeluk istrinya. "Apa kau tidak lihat orang tuamu? Seberapa besar kita menginginkan anak, ketika besar, mereka akan meninggalkanmu. Jadi pada dasarnya orang yang setia itu pasanganmu. Aku ingin dari awal hingga akhir aku selalu bersama denganmu. Kalau soal anak, kalau tidak bisa, kita 'kan bisa ambil anak angkat."


"Bukankah Abang ingin punya anak dariku?"


"Benar, dan aku tak ingin dari orang lain. Oh, Noura. Bisakah kamu mengerti kegelisahanku ini? Aku hanya ingin hidup denganmu selamanya."


Noura terdiam. Pria itu masih memeluknya beberapa saat dan kemudian melepaskan, tapi kali ini wanita itu yang tidak ingin melepaskannya sehingga pria itu kembali memeluknya.


Terdengar pengumuman boarding pesawat hingga wanita itu menegakkan kepala. "Oh, pesawatku."


"Tidak apa-apa, tidak usah." Ian melepas pelukan. Ia melihat kedua pipi istrinya yang basah karena air mata. "Kau dirawat di sini saja ya?" Ia menghapus bekas air mata itu dengan kedua ibu jarinya. "Aku akan menemanimu sampai kau sembuh dan kita akan pergi bulan madu."


Noura tersenyum seraya mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. Segera ia melepas kacamatanya yang mulai berembun. Di saat itu ....


Cup!


Suaminya mencuri kecupan di bibir istrinya. Noura tersenyum malu.


----------+++----------


Hari itu juga, Ian membawa istrinya ke rumah sakit dengan pemeriksaan menyeluruh. Noura di pastikan harus menjalani operasi. Wanita itu sedikit ketar ketir tapi Ian menguatkan dengan genggaman.


"Aku akan menemanimu terus selama di rumah sakit."


Ian pun memberi tahu kedua orang tua Noura dan mereka mendukung untuk menjalani operasi.


Noura akhirnya dioperasi. Pria itu menemaninya terus selama di rumah sakit.


Pintu diketuk dan dibuka. Kedua orang tua Noura datang dan melihat Ian duduk di samping tempat tidur putrinya, menemani.


"Noura ...." Ibu datang lebih dulu menghampiri putrinya yang masih terbaring lemah. Dengan mata berkaca-kaca ia menyentuh tepian tempat tidur putrinya dan menatap wajah anak kesayangannya.


"Ibu," ucap Noura lemah. Ia sepertinya baru sadar dari obat biusnya.


"Kau baik-baik saja, Nak." Ibu mengusap pucuk kepala Noura yang tidak berjilbab.


"Aku belum pakai jilbab, Bu."


"Sini ibu pakaikan."


Ian segera mengambilkan jilbab istrinya dan memberikannya pada ibu. Ibu memakaikan jilbab pada anaknya dengan terharu. Ia melihat wajah Noura yang sedikit pucat. "Cepat sembuh ya, Sayang." Ibu menahan tangisnya.


"Ibu."