
"Kenapa, kok seperti terkejut? Apa ada sesuatu?" tanya ibu heran.
"Ah, tidak Ibu. Aku rindu Ibu." Noura memeluk ibunya.
"Eh, Ibu sudah lama?" Ian mulai menyapa.
"Yah, lumayan." Ibu melepas pelukannya pada anaknya.
"Ibu, kenapa Ibu tidak bilang? Aku kan bisa jemput Ibu." Pria itu menawarkan.
"Yah, aku pikir Noura sudah di rumah."
"Noura aku bawa ke kantorku, Bu, takut kesepian di rumah."
"Oh, begitu."
"Ibu akan berapa lama di sini?"
"3 hari sampai hari Sabtu karena Ayah baru pulang hari itu. Kalian tidak keberatan 'kan?"
Noura dan Ian saling berpandangan.
"Oh, tentu saja tidak, Bu tapi kami 'kan bekerja, jadi hanya pagi dan malam saja adanya, Bu. Tidak apa-apa 'kan?" tanya Ian lagi. Ia sebenarnya terkejut dengan kedatangan mertuanya dan terlebih khawatir jangan sampai istrinya menceritakan masalah mereka pada Ibu mertuanya.
"Tidak apa-apa. Ini Ibu bawakan martabak untuk kalian." Ibu menunjuk bawaannya yang telah diletakkan di atas meja.
Ian meliriknya. "Bukannya martabak yang isinya daging ya?" Ian melihat ke dalam bungkusannya.
"Oh, kamu suka martabak daging?"
"Bukan. Aku bingung. Ada yang bilang, yang pakai daging itu yang disebut martabak, tapi ada juga yang menyebutkan seperti ini, pakai coklat dan keju ini juga martabak. Jadi aku bingung, Bu," terang pria itu.
Ibu tersenyum dan melirik Noura yang juga tersenyum simpul. "Kalau yang pakai daging itu namanya martabak asin, sedang yang seperti ini namanya martabak manis. Kedua-duanya benar kok."
"Oh, begitu ...."
Mendengar menantunya bule bertanya soal makanan Indonesia, terdengar lucu bagi ibu dan pengalaman baru baginya. "Ayo, di makan."
"Ibu sudah makan malam? Apa martabak ini makanan pencuci mulut?" Ian yang lahir dari keluarga kaya raya terbiasa makan sesuai urutan. Kebiasaan itu berusaha dihilangkannya ketika tinggal di Jakarta tapi tetap saja ia sering menanyakan makanan sesuai fungsinya.
"Rasanya, makan martabak saja cukup."
"Tidak bisa, Bu. Ini desserts, makanan pencuci mulut. Biar saya pesankan makanan ya, Bu. Kami juga belum makan."
Setengah jam kemudian, mereka telah kembali berkumpul di meja makan menikmati makan malam bersama. Ian sangat menikmati martabak yang dibawa ibu mertuanya sementara yang lainnya sudah kekenyangan setelah usai makan malam."
"Noura, ini kamu gak mau coba? Enak lho!" Ian menawarkan martabak itu pada istrinya.
"Sudah, aku sudah kenyang."
"Noura memang jarang makan malam," sahut Ibu memberi tahu.
"Oh, begitu ya? Pantas badannya kurus sekali." Ian menatap istrinya.
"Tapi sekarang, kenapa lebih kurus ya?" tanya ibu heran.
"Oh, belakang dia ada lembur, makanya pulangnya kelelahan," kilah Ian. Ia tak mau dituding sebagai penyebabnya. "Karena itu sekarang aku sering menjemputnya saat pulang."
"Iya, tolong jaga Noura ya, Nak Ian. Mungkin dia punya banyak kekurangan tapi semoga kalian bisa saling melengkapi."
Ian hanya tersenyum. Ia kembali mengambil satu potong martabak isi coklat. "Enak juga ya, martabak isi coklat ini. Aku suka yang berbau coklat seperti ini." Ian berkomentar.
"Atau besok, Ibu masakan saja ya, makan malamnya?"
"Oh, Ibu tidak usah repot-repot. Ibu tamu di sini, Bu. Sudah ada pembantu yang mengurusi itu di rumah ini," sahut Ian cepat.
"Tidak apa-apa. Biar pembantu itu membantu Ibu."
Ian menoleh pada istrinya yang hanya diam saja.
-----------+++-----------
"Noura."
"Mmh."
"Terserah kamu saja."
"Kalau bersama Ibu, jangan bicarakan apa-apa tentang pernikahan kita, mengerti?"
Wanita itu hanya diam.
"Besok, terpaksa aku pulang on time(tepat waktu) agar Ibumu tidak menunggu terlalu lama untuk makan malam."
"Mmh."
Dan pembicaraan di atas tempat tidur itu pun selesai. Kemudian mereka pergi tidur.
-----------+++----------
Paginya, keduanya, Ian dan Noura turun bersamaan. Pria itu menahan istrinya turun lebih dulu karena ia tidak ingin Noura bicara hanya berdua dengan ibunya. Ia masih belum bisa percaya kalau tidak mengawasi istrinya dengan mata kepalanya sendiri.
Ibu ternyata membuatkan sarapan nasi goreng.
"Ibu buat nasi goreng?" tanya Noura heran.
"Iya, kenapa?"
"Bang Ian tidak bisa makan pedas, Bu," terang Noura.
"Oh, pedas ya?" tanya Ian.
"Oh, Ibu tidak tahu," sesal Ibu.
"Ya, sudah. Biar Noura saja yang makan." Noura tidak tega masakan ibunya tidak ada yang memakannya, sedang ia juga membuatkan suaminya roti bakar seperti kemarin.
"Maaf, Ibu tidak tahu."
"Tidak apa-apa, Bu." Ian tersenyum.
"Kamu suka yang manis-manis ya?"
"Eh, iya."
"Bagaimana kalau Ibu buat ayam teriyaki untuk nanti malam."
"Oh, good Idea.(ide bagus) Aku akan cepat pulang." Seandainya Noura yang membuatnya, pasti aku takkan sungkan-sungkan untuk menambah makananku, pikir Ian.
-----------+++-----------
Setengah jam sebelum jam makan siang, Ian sudah keluar. Ia ingin memberi kejutan untuk istrinya dengan mendatanginya pada jam makan siang. Ia ingin tahu, dengan siapa saja istrinya berteman.
Ketika mobilnya baru sampai di depan gedung kantor istrinya, pria itu terkejut. Ia melihat Noura keluar dari pintu utama dan naik taksi yang baru saja datang.
Ke mana dia? Ian segera membuntuti dengan mobilnya. Apa dia punya pria lain lagi? Pikirannya dipenuhi dengan berbagai macam prasangka. Awas saja kalau kau benar melirik pria lain. Atau ... bertemu Vika?
Taksi berhenti di sebuah restoran dan Noura turun. Ia segera masuk.
Ian segera mencari tempat parkir dan memarkir mobilnya di sana. Ia ragu-ragu untuk masuk. Ia masih menimbang-nimbang apa sebaiknya melihat langsung ke dalam atau melihat saja diluar, tapi kemungkinan, orang yang diajak bertemu belum tentu keluar bersama istrinya karena itu ia berniat mengintip ke dalam.
Memang ia agak kesulitan, karena pria itu orang bule yang saat berdiri di depan pintu saja mungkin jadi perhatian umum, padahal ia juga ingin mendengarkan percakapan yang terjadi.
Untung saja ia masih menyimpan topi di dalam mobil. Pria itu segera memakainya dan keluar mendekati restoran. Ia tidak langsung masuk tapi malah mengitari bagian luar gedung. Ia mencari-cari istrinya dari jendela dan betapa terkejutnya ia, dengan siapa Noura berbicara ... Vika! Noura sedang berbicara dengan Vika!
Ada apa ini? Kenapa mereka bertemu di restoran ini? Ian mengendap-endap mendekati tempat mereka bicara dan kebetulan meja mereka dekat dengan pintu keluar di belakang. Pria itu berdiri dekat pintu dan dengan leluasa mendengar semuanya.
"Alah, mengaku saja. Kamu 'kan yang menyebarkan foto pernikahan kamu ini, biar terkenal kalau kamu menikah dengan orang kaya. Sekarang foto pernikahan kamu viral di antara teman SMA dan teman kuliah kita. Bahkan ada yang mengetahui kalau suamimu lebih kaya dari pada suamiku," serang Vika sengit.
"Sungguh Ka, aku gak tahu," terang Noura pada kembarannya.
"Jangan bohong deh, untuk apa kamu mengundang Ibu datang ke rumahmu? Mau memamerkan harta kekayaanmu?"
"Kan Ayah memang keluar kota, Ka." Noura tidak tahu lagi bagaimana menerangkan pada kembarannya karena bila Vika sedang emosi, apapun yang dikatakannya tidak akan didengarkan.
"Sini, ikut aku!" Vika menarik kembarannya dengan gemas ke pintu belakang sambil membawa minumannya. Ia tidak ingin apa yang dilakukannya terlihat oleh orang lain.
Di sana, di luar pintu, Vika menyiram wajah kembarannya itu dengan teh dingin dan tentu saja, Ian melihat segalanya karena berada tepat di depan matanya!