CEO And The Twins

CEO And The Twins
Membayar Kesalahan



"kon-tak lens?" eja Noura.


"Kau punya mata yang indah. Kenapa harus kau sembunyikan?"


"Mmh?" Noura menatap suaminya yang menatap lembut ke arahnya. Noura, kuat-kuat, Noura. Jangan sampai kamu dibohongi lagi.


"Kau terlihat lebih tua dari umurmu bila memakai kacamata. Coba pakai kontak lens. Ada pilihan warna juga untuk bola matamu agar terlihat lebih indah." Ian kemudian meminta seorang pramuniaga membantunya mencarikan kontak lens yang cocok untuk istrinya.


Pramuniaga itu kemudian memasangkan pada mata Noura.


"Bagaimana, Sayang?" Ian menatap cermin di mana istrinya sedang menghadap. "Kau mau warna bola matamu yang asli terlihat, mmh?" Ia mendekatkan wajahnya di samping Noura.


"Rasanya aneh."


"Apanya yang aneh? Wajahmu terlihat lebih cantik dan muda sesuai usiamu."


Wanita itu menoleh pada suaminya. "Tapi rasanya aneh tidak pakai kacamata, Bang. Seperti ada yang kurang. Aku tidak berani tanpa kacamata. Rasanya kok seperti, mmh ... bukan aku."


Pria itu tersenyum lebar. "Coba kamu lihat lagi dirimu di cermin. Lebih cantik 'kan?"


Noura kembali melihat dirinya di cermin. "Tapi aku gak nyaman, Bang," ungkap wanita itu sedikit cemberut.


"Aku suka, Noura. Kamu terlihat cantik. Coba kau pergi ke kantor dan perlihatkan pada teman-temanmu. Pasti mereka akan mengatakan hal yang sama seperti yang aku katakan."


Namun Noura setengah hati untuk mengiyakan. Ia menatap suaminya dengan ragu-ragu.


"Kamu cuma tak terbiasa. Ini perubahan untuk kamu menjadi cantik. Apa kamu tidak mau dibilang cantik?"


Noura kembali menatap wajahnya di cermin. Akhirnya wanita itu keluar dari toko itu dengan menggunakan kontak lens bersama suaminya.


Ia tanpa sengaja melihat seorang pria berpakaian baju koko. "Hari ini hari Jum'at 'kan? Abang lupa sholat Jum'at ya?"


Ian baru sadar. "Oh, iya. Aku lupa."


"Kenapa Abang tidak sholat Jum'at, Bang?" protes Noura.


"Iya maaf aku lupa, tapi aku menemanimu 'kan?" kilah pria itu.


Wanita itu mengerut dahi menatap suaminya kesal dan Ian hanya bisa salah tingkah.


Setelah merapikan make up di salon dengan sedikit paksaan dari suaminya, Noura ke kantor dengan diantar pria itu.


Di kantor Noura, ternyata heboh. Orang-orang kini memandang wanita itu dengan cara berbeda. Dia kini terlihat cantik hingga banyak yang menganggap Noura cocok bersanding dengan suaminya yang sekarang yang juga tampan. Sebelumnya, orang-orang menyangsikan pernikahan Noura dan Ian karena yang pria terlalu tampan.


Ryan juga salah satu yang terkesima melihat penampilan baru Noura. Dengan pakaiannya yang baru, wanita itu terlihat cantik dan berkelas membuat dirinya merasa wanita itu semakin jauh untuk digapai.


"Noura, kamu cantik sekali hari ini. Ada acara apa?" tanya salah seorang teman wanitanya.


"Tidak ada apa-apa, Wuri. Cuma temani suami makan di Mal aja. Ini aja, aku sudah datang telat," jawab wanita itu tersipu-sipu.


"Biasa Wuri, mereka 'kan masih pengantin baru. Kemarin saja, saat sedang tugas bersama Ryan, suaminya menculiknya pulang. Mmh ... lagi hangat-hangatnya tuh, " ledek teman wanita yang lain hingga seluruh orang-orang yang hadir di sana tertawa.


Noura tersipu malu.


"Hei, Ian! Kau apakan istrimu jadi cantik begitu?" tanya Vincent. Pria itu akhirnya mendengar gosip yang beredar dan melihat sendiri perubahan Noura. "Banyak yang melirik istrimu sekarang," ledek pria itu.


"Hei, jaga istriku baik-baik ya? Awas saja kalau ada pria lain yang menggodanya," ucap Ian bercanda sambil tertawa. Ia bangga hasil kerja kerasnya tak sia-sia walaupun di sisi lain ia juga khawatir. Ia tak tahu caranya membuat hati istrinya gembira. Ia sudah melakukan yang terbaik, walaupun terasa masih saja ada yang kurang.


"Oh, kamu menyerahkannya padaku? Bagaimana kalau aku khilaf?"


Dan keduanya tertawa.


-----------+++---------


Mobil Ian memasuki halaman rumahnya. Keduanya turun, Ian dan Noura dan keduanya masuk ke dalam rumah.


"Noura?"


Wanita itu terlihat canggung saat ibunya memanggilnya.


Wanita paruh baya itu datang mendekat untuk memastikan. "Kamu berubah jadi cantik, Nak. Apa kamu pakai kontak lens?" Wanita itu memperhatikan kedua bola mata anaknya yang malu-malu itu. "Wah, kamu berubah."


"Ibu ... aku tidak berubah," rengek Noura pada ibunya.


"Iya, Sayang. Kau tak berubah. Kau tetap jadi anak kesayangan Ibu, Nak." Ibu memeluknya.


"Ibu." Noura menerima pelukan hangat Ibunya.


"Ayo, kalian belum makan malam 'kan?" Ibu melepas pelukan.


Noura mengangguk. Keduanya kemudian melangkah ke meja makan.


--------------+++------------


"Benar 'kan ibumu suka penampilan barumu?"


Noura mengangguk. Wanita itu mendatangi meja rias dan mulai melepas kontak lensnya. Ia kemudian memasukkan keduanya kontak lens itu pada sebuah kotak berisi air kemudian menutupnya. Terakhir, ia naik ke atas tempat tidur.


Ian mengikuti dengan naik dari sisi yang satunya. Ia ikut berbaring di samping Noura saat istrinya tengah terbaring di sana. Digeser tubuhnya mendekati wanita itu. Perlahan ia menyentuh lengan istrinya.


Noura menoleh, dan menarik lengannya menjauh.


"Nou-Noura, apa aku tidak bisa memelukmu saat tidur?" Ian terbata-bata mengungkapkan keinginannya pada istrinya. Ia sedikit gugup melihat penolakan Noura.


"Sejujurnya, bila tak ada Ibu, aku ingin sekali tidur di kamar sebelah. Bersamamu aku tidak nyaman."


Ian kecewa tapi ia tahu awal dari segala kecewa itu adalah dirinya, yang mematahkan hati seorang bidadari yang kini rapuh. Rapuh karena ia buat kecewa berkali-kali tanpa jeda. Yang begitu percaya tapi dibuat tak bahagia.


Hati wanita mana yang mau terjerat janji kalau janji itu hanyalah tinggal janji di alam mimpi. Bagaimana kini ia harus menembus semua dosa-dosanya dari orang yang paling mengasihi? Adakah masih sepotong harap agar dunia bisa di balikkan, waktu bisa terulang, dan hati bisa lupa akan lukanya? Noura ... sejauh mana ia telah melukainya hingga wanita itu tak ingin kembali?


"Noura ...." Derasnya air mata pria itu takkan mampu menghapus apapun. Bahkan luka yang ia pernah torehkan. "Aku minta maaf pernah melukaimu, tapi ... aku sungguh-sungguh mencintaimu." Ia menahan isak, tapi sulit menerima kenyataan dirinyalah yang salah dalam hal ini.


Wanita itu memainkan pinggiran selimutnya. "Mungkin ... kau sudah terlambat. Aku tak lagi bisa mempercayaimu. Sulit bagiku melihat ke belakang, karena aku ingin melaluinya, tapi kenapa melihat ke depan pun sama sulitnya." Kini wanita itu mulai menangis pelan-pelan. "Kenapa kau tega ... orang yang ku percaya tega melakukan itu padaku. Tidak saja mengobral janji tapi ... kau juga menyakitiku, Bang."


Ian memejamkan mata. Ia kini tahu, sudah terlalu jauh ia salah melangkah dan ia ... apakah pengampunan itu ada?


"Noura, aku mencintaimu itu bukan janji. Itu benar bahwa aku mencintaimu."


"Tapi aku sudah terluka, Bang. Aku bisa maafkanmu, tapi untuk kembali ...."


"Beri aku kesempatan lagi. Akan kubuktikan aku benar-benar mencintaimu," pinta pria itu penuh harap. Ia mencoba menyelami kedua bola mata Noura yang melihatnya nanar. Ia meraih kedua tangan istrinya dan berkata, "aku tak bisa hidup tanpamu, Noura. Tolong aku ...."


___________________________________________


Masih semangat reader, bacanya? Author bakal tambah semangat bila dikirimi like, komen, vote atau hadiah lainnya. Ini visual Noura saat mencoba kontak lens. Salam, ingflora 💋