
"Alena." Pria tersebut berkata lalu memegang tangan Alena.
"Aku mohon, bicara padaku sekali saja." Pria tersebut terus saja memegang tangan Alena. Alena mencoba melepaskan pegangan pria tersebut namun sangat sulit. Alena sudah tidak ingin bertemu dengan pria yang telah menorehkan luka dalam pada hatinya. Akan tetapi, takdir seperti mengejeknya karena selalu mempertemukan Alena dengannya.
"Yudha, lepaskan tanganku." Alena yang tangannya dipegang erat oleh Yudha berusaha melepaskan cengkeramannya. Dengan mukanya yang memendam amarah Alena terus mencoba cengkeraman tangan Yudha.
"Lepaskan tanganmu, dari calon istriku." Arga yang melihat Alena kesakitan segera menghempaskan tangan Yudha. Tangan Yudha yang mencengkeram pergelangan tangan Alena akhirnya dapat terlepas. Setelah pergelangan tangannya terlepas, Alena segera berlindung dibelakang punggung Arga.
"Apa? Calon istri?" Yudha yang mendengar perkataan Arga bertanya dengan dipenuhi rasa penasarannya. Perasaannya tidak menentu, sangat sakit hingga menimbulkan rasa tidak nyaman. Ya, Yudha masih sangat mencintai Alena. Yudha yang mendengar Alenanya akan menikah sangatlah sulit untuk menerima kenyataan yang terjadi.
"Iya, Alena adalah calon istri saya. Anda siapa?" Arga menatap tajam Yudha. Terdapat sekelumit perasaan kesal karena calon istrinya dicengkram sedemikian rupa hingga kesakitan. Walaupun belum ada perasaan cinta di hati Arga. Alena adalah miliknya, tidak ada yang boleh menyakiti apa yang menjadi miliknya.
Yudha yang ditanya balik oleh Arga mengabaikan pertanyaan Arga. Pria tersebut menatap Alena yang terlihat kesal dengannya. Sedih sekali rasanya melihat wanita yang dicintainya menghindarinya. Selama ini, Yudha telah sering menghubungi Alena namun semua akses komunikasi diputus olehnya semenjak Alena mengetahui Yudha dan Dania mengkhianati Alena.
"Benarkah itu Alena? Kamu akan menikah dengan pria ini?" tanya Yudha kepada Alena yang semakin merapatkan tubuhnya ke Arga.
"Iya benar. Kami akan segera menikah." Nada bicara Arga yang tegas membuat Yudha bungkam. "Lalu, apa mau Anda? Memaksa berbicara dengan tunangan saya?" Kata-kata tersebut seperti menancapkan ribuan panah di hati Yudha.
"Saya tidak berbicara dengan Anda, saya ingin Alena yang menjawab pertanyaan saya. Benarkah Anda adalah calon suami Alena?" Terdapat penekanan dalam perkataan yang dilontarkan oleh Yudha.
Alena yang sudah bisa menguasai dirinya memajukan sedikit tubuhnya yang tadinya tertutup oleh Arga untuk dapat menjawab pertanyaan Yudha.
"Ya, Arga adalah calon suamiku. Jadi, aku harap kamu tidak perlu menggangguku lagi. Aku tidak ingin bertemu lagi denganmu." Alena bersuara dengan keras dan terdapat penekanan di setiap kata yang dilontarkan olehnya.
Perkataan Alena yang keras tersebut mendapatkan perhatian dari pengunjung pusat perbelanjaan. Beberapa orang yang melintas terlihat penasaran dengan yang terjadi antara mereka bertiga. Hal tersebut membuat Alena risih dan tidak nyaman.
"Ayo, Arga kita pergi dari sini." Alena mengajak Arga untuk pergi meninggalkan tempat mereka saat ini. Alena mengamit lengan Arga manja dan segera berlalu meninggalkan Yudha. Yudha hanya bisa terpaku ditempatnya berdiri.
"Tidak. Tidak bisa Alena, kau itu adalah takdirku. Tidak ada yang bisa mendapatkanmu selain aku." Yudha bermonolog sambil menatap tajam kedua orang yang telah berjalan menjauhinya.
***
"Adam, aku ingin informasi mengenai Alena yang mendetail. Bukan hanya tentang sekadar hobi, pekerjaan atau yang lainnya. Aku juga ingin informasi tentang masa lalunya." Arga berbicara pada Adam keesokan harinya saat mereka berada di kantor.
"Memangnya ada apa? Sampai kau ingin mengetahui masa lalu Alena." Adam yang diminta malah penasaran alasan dari Arga yang sangat ingin tahu masa lalu Alena.
"Kemarin kami bertemu dengan seorang pria. Pria tersebut memaksa Alena untuk berbicara. Alena saat itu terlihat sangat kesal. Aku jadi penasaran apa penyebabnya." Mendengar perkataan Arga yang panjang lebar Adam malah menyunggingkan senyumnya.
"Wah, jangan-jangan kamu cemburu ya?" goda Adam.
"Cemburu apanya. Aku hanya penasaran, kenapa Alena bersikap seperti itu." Arga berusaha menyangkal perkataan dari Adam. Akan tetapi, terdapat perasaan aneh saat mengingat Alena yang dipaksa untuk berbicara dengan pria lain apalagi sampai menarik pergelangan tangan gadis itu.
"Aku hanya tidak suka milikku direbut." Arga berujar dengan sangat pelan ,tetapi Adam tetap dapat mendengar perkataan dari Arga.
"Ingat Arga, jangan terlalu kuat kau menggenggamnya. Nanti, dia akan terlepas dan meninggalkanmu." Adam yang mengetahui watak Arga dari kecil tahu bahwa Arga sangat tidak menyukai segala sesuatu miliknya diusik. Akan tetapi, Alena bukanlah barang yang seenaknya dapat digenggam dengan erat. Justru genggaman itu akan menjadi bumerang bagi Arga sendiri.
"Sudahlah, kau kerjakan saja apa yang aku perintahkan." Perkataan Arga tersebut seperti pengusiran secara halus darinya.
Tidak berapa lama waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Waktu untuk beristirahat, Arga ingin memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat sebentar di ruangan pribadinya. Namun hal tersebut terganggu dengan deringan ponselnya.
"Hallo, Ya Mom. Ada Apa?" Ternyata panggilan tersebut berasal dari Mommy Leona.
"Baiklah, Arga akan segera ke rumah sakit sekarang." Gurat kekhawatiran tercetak di wajah tampan pria tersebut.
"Ya. Aku akan datang bersama dengan Alena." Arga menjawab lagi lalu kemudian menelepon seseorang di seberang sana yang sebenarnya masih berada satu gedung dengannya.
***
"Alena, Ayo kita ke kantin," ajak Vania yang saat itu terlihat mematikan komputer di depannya. Alena yang diajak oleh Vania juga ikut mematikan komputernya.
"Ayo." Alena berdiri sambil menyematkan tasnya dibahu. Dering ponsel berbunyi, menghentikan langkah kaki Alena.
"Sebentar, aku angkat dulu teleponnya." Alena mengangkat telepon tersebut yang ternyata dari Arga.
"Hallo. Ada Apa?" Alena langsung pada pembicaraan ini karena tidak ingin bertele-tele. Waktu istirahat di kantornya hanya satu jam dan setiap karyawan harus tepat waktu kembali bekerja bila waktu istirahat telah habis.
"Apa? Baiklah. Aku izin terlebih dahulu oleh atasanku." jawab Alena.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan segera ke sana." Alena mengakhiri perkataannya dan menatap Vania dengan ekspresi khawatir yang terlihat jelas di matanya.
"Ada apa, Len?" tanya Vania.
"Aku tidak bisa ikut makan siang bersama kamu, Van. Saudaraku masuk rumah sakit, aku harus menjenguknya sekarang." Alena menerangkan hal yang menjadi kekhawatirannya.
"Baiklah, kalau begitu kamu jenguk saja saudaramu. Minta izin dulu sama Bu Dian." Vania menyarankan Alena.
"Iya nih, aku izin dulu ya sama Bu Dian. Kamu makan siang aja sama Candra. Sekalian pendekatan gitu." Alena menyunggingkan senyum khas meledek pada Vania sambil berlari kecil menuju ruangan atasan mereka ingin meminta izin.
"Dasar nyebelin." Vania yang diledek hanya bisa mengerucutkan bibirnya karena kesal.
Alena yang telah mendapatkan izin dari Bu Dian segera menuju ke area parkir. Gadis yang berjalan tergesa-gesa itu menuju tempat di mana mobil Arga terparkir. Alena segera memasuki mobil tersebut.
"Kenapa lama sekali?" tanya Arga terlihat sedikit kesal.
"Maaf, aku harus meminta izin dulu sama atasanku." Alena yang mengetahui Arga kesal menangkupkan kedua tangannya tanda permohonan maaf. Arga hanya terdiam dan menyalakan mobilnya lalu mereka berdua menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit telah banyak orang yang menunggu dari pihak keluarga Arga. Mommy Leona terlihat sangat sedih. Selain, keluarga Arga ternyata pihak dari keluarga Alena juga sudah datang.
"Mom, bagaimana keadaan Kakek?" tanya Arga.
"Arga. Kakek. Huhuhu." Mommy Leona hanya bisa berkata dengan suara yang lirih karena disertai tangisan.