Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Dijenguk Mama Mertua



Alena masih tertidur di ranjang rumah sakit, Arga yang berada disampingnya memeluk erat dirinya. Sepasang suami isteri tersebut masih tidur dengan nyenyaknya di pagi hari ini. Terdapat beberapa kali ketukan di daun pintu, namun karena tidak terdengar suara apapun di dalam ruangan. Seorang wanita paruh baya akhirnya membuka pintu tersebut, melihat dua insan yang sedang berpelukan dia malah tersenyum tak ingin mengganggu keduanya.


"Ehm.." Alena melenguh pelan dan mencoba menggerakkan tubuhnya yang dikukung oleh Arga. Arga yang masih tertidur mengeratkan pelukannya pada Alena.


"Ekhm... Sudah pagi saatnya bangun," ucap wanita paruh baya yang berdiri di samping ranjang tempat tidurnya. Mata Alena membola melihat mama mertuanya datang menjenguknya. Segera Alena menyingkirkan Arga yang masih setia melingkarkan tangannya di pinggang Alena.


"Ada apa sih, Len. Aku masih mengantuk. Kita tidur lagi saja," ujar Arga yang masih memejamkan matanya.


"Bangun Arga. Itu ada Mommy." Alena mendorong kuat pria disampingnya tersebut hingga Arga hampir terjatuh dari ranjang tersebut.


"Aduh, Alena. Aku masih mengantuk." Arga terlihat kesal karena memang dia masih mengantuk.


"Hei, sebenarnya yang sakit di sini siapa? Kamu atau Alena?" Suara Mommy Leona membuat Arga segera terbangun. Dengan cengirannya Arga menatap Mommynya yang datang menjenguk Alena.


"Ya tentu Alena, Mom," jawab Arga yang melangkahkan kakinya menuju sofa. Dia memberikan ruang untuk Mommy Leona yang baru saja datang.


"Bagaimana keadaanmu, Alena? Sudah lebih baik?" Mommy Leona bertanya sambil memperhatikan keadaan Alena. Pipi Alena yang tadinya merah sudah membiru akibat tamparan dari Anggi dan Intan.


"Sudah lebih baik, Mom," jawab Alena yang memamerkan senyumnya kepada Mommy Leona.


"Mommy membawakan sup ayam kesukaanmu. Nanti kamu makan ya? Atau mau sekarang saja kamu makan?" tanya Mommy Leona kembali. Alena tersenyum dan sangat senang karena dari awal pernikahannya Mommy Leona sangat memperhatikannya dengan baik.


"Nanti saja mam, aku pasti akan memakan supnya," jawab Alena.


"Arga, bagaimana dengan orang yang menyebabkan Alena seperti ini? Apa dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal?" Mommy Leona sebenarnya sangat kesal karena Arga tidak langsung menghukum kedua orang yang telah menyebabkan menantunya sakit seperti ini.


"Mommy tenang saja. Arga pastikan kedua orang tersebut tidak akan berani menampakan batang hidungnya di depan Alena." Arga berkata dengan dingin. Alena bergidik mendengar ucapan Arga tersebut, bukankah kemarin mereka telah setuju kalau tidak membawa kasus ini ke jalur hukum. Akan tetapi, mengapa Arga bisa sangat yakin kalau Alena tidak akan bertemu kembali dengan kedua orang itu?


"Baguslah. Mommy sangat khawatir dengan keadaanmu. Sudahlah Alena, kamu berhenti bekerja saja ya. Kita bisa melakukan berbagai aktivitas bersama. Seperti berbelanja atau bertemu dengan teman-teman sosialita Mommy," bujuk Mommy Leona dengan sangat gigih. Alena yang mendengar hal tersebut memahami kekhawatiran mertuanya.


Terdengar ketukan dari daun pintu kemudian disusul dengan daun pintu yang dibuku dari luar. Terlihat dua orang perawat dan satu orang dokter memasuki ruangan rawat Alena.


"Selamat pagi. Mohon maaf mengganggu, saatnya kunjungan oleh dokter," ucap salah seorang perawat sambil mengecek cairan infus Alena.


Mommy Leona bergerak untuk memberikan ruang bagi dokter untuk mengecek keadaan Alena. Saat itulah, terlihat pria yang sangat tidak ingin Alena temui di dunia.


"Alena? Kamukah itu, Len?" tanya sang Dokter.


Alena melengoskan pandangan matanya tidak ingin menatap orang yang bertanya tersebut. Arga yang melihatnya segera mendekat ke Alena. Mata tajam Arga menatap dokter yang saat ini masih terpaku menatap Alena. Dia mengingatnya, dokter tersebut adalah mantan pacar Alena yang kala itu pernah bertemu dengan Alena. Ya. Dokter tersebut adalah Yudha yang menjadi dokter yang menangani Alena saat ini.


"Ehm.. bisakah Anda segera memeriksa isteri saya dokter?" ucap Arga yang memecahkan lamunan Yudha.


"Apa? Is.. Isteri?" Yudha terkejut mendengar perkataan Arga. Jadi, wanita di depannya ini sudah menjadi milik orang lain. Tidak adakah kesempatan baginya untuk masuk kembali ke kehidupan Alena. Sesakit itukah Alena karena pengkhianatan yang sebenarnya hanya salah paham.


"Iya, dia isteri saya. Jadi, bisakah Anda segera memeriksanya dan bersikap profesional?" tanya Arga yang menatap tajam dokter di depannya ini. Benar-benar takdir itu tidak ada yang tahu, bisa-bisanya Alena malah ditangani oleh mantan pacarnya sendiri. Arga jadi merasa kesal karena melihat mantan pacar dari isterinya tersebut.


Alena hanya terdiam mendengar percakapan dari kedua orang dihadapannya ini. Dia sedari tadi memang tidak berniat untuk menjawab apa pun pertanyaan yang keluar dari Yudha. Yudha akhirnya memeriksa Alena dia mengeluarkan stetoskopnya dan mengarahkannya ke bagian dada Alena. Arga sebenarnya sangat kesal melihat hal tersebut. Hanya saja, dia cukup tahu diri bahwa itu merupakan bagian dari pekerjaan Yudha sebagai dokter.


"Keadaan Nyonya Alena sudah cukup baik," kata Yudha memberitahukan hal tersebut kepada Alena.


"Bisakah isteri saya segera pulang dan dirawat jalan saja?" tanya Arga.


"Sebaiknya Nyonya Alena perlu menginap sehari lagi untuk observasi." Jawaban Yudha tersebut membuat Arga memandangnya sinis. Arga berpikir itu hanyalah akal bulus Yudha untuk terus dapat menemui Alena.


"Baiklah, cukup untuk kunjungan kali ini. Nanti aku akan memeriksa kamu lagi Alena. Semoga lekas sembuh," ucap Yudha sambil tersenyum kepada Alena.


Alena hanya terdiam, tidak menjawab ucapan dari Yudha. Setelah dokter dan perawat tersebut keluar, Arga duduk kembali ke sofa dan menelepon seseorang untuk mengganti dokter yang menangani Alena. Dia benar-benar tidak suka kalau Alena harus kembali bertemu dengan pria masa lalunya. Arga tidak sadar perilakunya sudah menunjukkan keposesifannya terhadap Alena.