Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Vania Shock



Dua bulan setelah acara tujuh bulanan Alena, Vania dan Alena berbelanja ke sebuah Mall. Hasrat berbelanja yang dimiliki Alena tiba-tiba meningkat. Mungkin karena bawaan kehamilannya saat ini. Vania merasakan perutnya yang melilit karena lapar, dia tidak bisa menunda untuk makan siang karena mempunyai penyakif magh.


'Alena, aku sudah lelah. Kita istiharat dahulu ya, aku sudah lapar. Kamu tidak lapar?" Vania bertanya kepada Alena yang masih ingin berbelanja. Alena mengerutkan keningnya, tanpa disadari olehnya dia juga lapar.


"Baiklah, ayo kita makan dulu." Vania menghembuskan napasnya, dia senang Alena mau diajak untuk makan siang terlebih dahulu, karena perutnya sudah menuntut untuk diisi. Alena lalu menggandeng Vania yang masih setia mengikuti sahabatnya. Meskipun lelah dia tetap menemani Alena karena itu adalah tidak dari CEOnya langsung hari ini karena tidak bisa membersamai Alena untuk berbelanja. Mereka akhirnya menjatuhkan pilihan ke salah satu restoran.


"Akhirnya aku bisa jalan-jalan bebas dan berdua denganmu. Aku ingin sekali jalan-jalan ke mall bersamamu tetapi Arga belum memperbolehkannya. Baru kali ini dia memperbolehkan aku pergi bersamamu." Alena mengatakannya sambil tersenyum. Vania yang mendengarnya hanya mengangguk-angukkan kepalanya.


"Tapi Van, aku sangat penasaran loh, bagaimana awal hubunganmu dengan Adam. Ayo coba ceritakan padaku." Alena mendesak Vania untuk bercerita namun wajah Vania yang tadinya cerita jadi tersenyum kecut. Wajah sahabatnya ini tidak seperti orang yang kasmaran karena dimabuk cinta, malah cenderung biasa saja bila Alena ingin membicarakan tentang Adam.


"Aku sedang tidak ingin membicarakannya, Len." Vania menjawab seadanya, namun rasa penasaran yang dimiliki ibu hamil itu ternyata sangat besar. Alena terus mendesak Vania untuk bercerita namun tetap saja sahabatnya itu bergeming. Perasaan Alena menjadi tidak tenang, dia tahu sahabatnya ini tidak sembarangan menjalin hubungan. Malah bisa dibilang selama mereka bersahabat, Vania tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.


Alena hanya terdiam menikmati makanannya. Setelah makanan mereka tandas, mereka ingin berkeliling mall kembali karena Alena masih ingin berbelanja, namun sesuatu mengusik Vania.


"Alena, kamu ngomp*l?" Vania melihat dress yang Vania pakai basah di bagian bawah. Refleks Vania mengatakan hal tersebut.


"Mana? Ah tidak aku..." Perkataan Alena terhenti ketika Alena merasakan air yang sepertinya keluar dari bagian bawah tubuhnya. Tiba-tiba perutnya terasa sangat mulas.


"Van, hubungi Arga sekarang. Kamu jangan panik dulu, kita harus segera ke rumah sakit. Sepertinya aku akan segera melahirkan." Muka Vania seketika memucat, dia baru kali ini menemani seorang ibu hamil yang hendak melahirkan. Alena malah kesal dengan Vania yang tidak cekatan. Akhirnya, Alena yang malah menyeret Vania keluar dari mall menuju rumah sakit.


Vania yang telah sadar sepenuhnya segera membantu Alena masuk ke dalam mobil kemudian dia menyetir dengan hati-hati karena dia tidak bisa mengendarai mobil bila kepanikan melandanya.


"Santai saja Vania, aku masih bisa menahan rasa sakitku." Alena yang melihat Vania yang malah terlihat panik mencoba menenangkan sahabatnya itu. Untungnya jarak mall dengan rumah sakit sangatlah dekat, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Vania segera membantu Alena untuk memasuki ruang bersalin. Alena akan diperiksa terlebih dahulu oleh dokter untuk memastikan pembukaan.


"Hallo, Tuan Arga. Alena sekarang ada di rumah sakit, tolong segera datang sepertinya Alena akan segera melahirkan." Setelah dapat mengendalikan dirinya Vania segera menghubungi Arga agar suami sahabatnya itu segera datang ke rumah sakit.


"Bagaimana Alena?" tanya Arga ketika telah sampai di rumah sakit dan mendapati Vania di luar ruangan. Wanita itu tampak pucat dan masih terbengong saja, Vania duduk di ruang tunggu di luar ruang bersalin.


"Masih pembukaan 5, Tuan. Sebaiknya, Anda mendampingi Alena karena dia membutuhkan dukungan Anda." Tanpa menjawab perkataan Vania, Arga segera memasuki ruangan dan menuju brankar tempat Alena saat ini berbaring.


"Kamu kenapa?" Adam yang datang bersamaan dengan Arga heran dengan Vania yang hanya terdiam melihat Arga yang telah memasuki ruangan. Vania menoleh melihat Adam, pandangannya kosong dan wajahnya memucat.


"Mas, nanti kamu mau langsung punya anak tidak?" Tiba-tiba Vania mendengar pertanyaan random yang diajukan oleh Adam. Melihat wajah calon isterinya pucat dia segera duduk di sebelahnya dan menggenggam tangan Vania.


"Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?" Adam merasakan tangan dingin Vania, dia jadi mengkhawatirkan keadaan wanita yang telah berada di hatinya saat ini.


"Aku takut, tadi aku melihat Alena sepanjang perjalanan ke rumah sakit menahan sakit di perutnya. Dan tadi aku juga melihat air ketuban mengalir dari tubuhnya. Perutku tiba-tiba mendadak mulas mas," ucap Vania sambil terus menggenggam erat tangan Adam. Adam jadi mengetahui kalau saat ini Vania hanya sedang shock karena melihat proses Alena yang ingin melahirkan.


"Hmm, anak itu rezeki. Siapa tahu justru dia sudah hadir di sini kan?" Adam malah ingin menggoda Vania yang saat ini sangat terkejut dengan perkataan Adam. Tentu saja mereka tidak pernah melakukan hal itu lagi semenjak terakhir kali mereka melakukannya dua bulan lalu. Adam juga mengerti batasan dengan menunggu sampai mereka resmi menikah.


"Ah, tidak.. Tidak mungkin!" Vania malah menjadi panik, dan bersamaan dengan itu terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan bersalin.


"Oeeee Oeeeee." Mendengar tangisan bayi itu, Vania menghembuskan napas lega, tangisan bayi itu menandakan Alena telah melahirkan Baby dengan selamat.


...🍃🍃🍃...


Hallo, aku kembali menyapa kalian.


Sebelum Author melanjutkan update ke bab selanjutnya. Author ada rekomendasi lagi novel yang seru untuk dibaca. Yuk, baca karya temanku ini.