Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Baby A



Sebelum membaca, Author ingin memberikan rekomendasi karya yang bagus banget. Yuk, kepoin dan baca karya temanku yang ceritanya sangat keren.



πŸƒπŸƒπŸƒ


Setelah menanti sembilan bulan, Arga gelisah menanti kelahiran buah hati mereka. Berbanding terbalik dengan Alena yang masih santai saja, menurutnya ketenangan dapat membawa pikiran positif kalau Alena juga panik dan gelisah tidak memberikan kenyamanan bagi dirinya yang akan melahirkan.


Seperti hari ini, Alena mengeliling mall bersama dengan sahabatnya Vania, padahal sudah masuk HPL (Hari Perkiraan Lahir). Entah mengapa menjelang detik-detik kelahiran baby A. Dia sangat menyukai berbelanja, setiap hari ada saja yang ingin dia beli untuk keperluan baby A. Sampai banyak barang belanjaan menumpuk di kamar baby A.


"Alena, aku sudah lelah. Kita istiharat dahulu ya, aku sudah lapar. Kamu tidak lapar?" Vania bertanya kepada Alena yang masih ingin berbelanja. Alena mengerutkan keningnya, tanpa disadari olehnya dia juga lapar.


"Baiklah, ayo kita makan dulu." Alena lalu menggandeng Vania yang masih setia mengikuti sahabatnya. Meskipun lelah dia tetap menemani Alena karena itu adalah tidak dari CEOnya langsung hari ini karena tidak bisa membersamai Alena untuk berbelanja. Mereka akhirnya menjatuhkan pilihan ke salah satu restoran.


"Akhirnya aku bisa jalan-jalan bebas dan berdua denganmu. Aku ingin sekali jalan-jalan ke mall bersamamu tetapi Arga belum memperbolehkannya. Baru kali ini dia memperbolehkan aku pergi bersamamu." Alena mengatakannya sambil tersenyum.


"Tapi Van, aku sangat penasaran loh, bagaimana awal hubunganmu dengan Adam. Ayo coba ceritakan padaku." Alena mendesak Vania untuk bercerita namun wajah Vania yang tadinya cerita jadi tersenyum kecut. Wajah sahabatnya ini tidak seperti orang yang kasmaran karena dimabuk cinta.


"Aku sedang tidak ingin membicarakannya, Len." Vania menjawab seadanya, namun rasa penasaran yang dimiliki ibu hamil itu ternyata sangat besar. Dia terus mendesak Vania untuk bercerita namun tetap saja sahabatnya itu bergeming. Perasaan Alena menjadi tidak tenang, dia tahu sahabatnya ini tidak sembarangan menjalin hubungan. Malah bisa dibilang selama mereka bersahabat, Vania tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.


Alena hanya terdiam menikmati makanannya. Setelah makanan mereka tandas, mereka ingin berkeliling mall kembali karena Alena masih ingin berbelanja, namun sesuatu mengusik Vania.


"Alena, kamu ngompol?" Vania melihat dress yang Vania pakai basah di bagian bawah. Refleks Vania mengatakan hal tersebut.


"Mana? Ah tidak aku..." Perkataan Alena terhenti ketika Alena merasakan air yang sepertinya keluar dari bagian bawah tubuhnya. Tiba-tiba Baby A menendang-nendang, perutnya terasa sangat mulas.


"Van, hubungi Arga sekarang. Kamu jangan panik dulu, kita harus segera ke rumah sakit. Sepertinya aku akan segera melahirkan." Muka Vania seketika memucat, dia baru kali ini menemani seorang ibu hamil yang hendak melahirkan. Alena malah kesal dengan Vania yang tidak cekatan. Akhirnya, Alena yang malah menyeret Vania keluar dari mall menuju rumah sakit.


Vania yang telah sadar sepenuhnya segera membantu Alena masuk ke dalam mobil kemudian dia menyetir dengan hati-hati karena dia tidak bisa mengendarai mobil bila kepanikan melandanya.


"Santai saja Vania, aku masih bisa menahan rasa sakitku." Alena yang melihat Vania yang malah terlihat panik mencoba menenangkan sahabatnya itu. Untungnya jarak mall dengan rumah sakit sangatlah dekat, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Vania segera membantu Alena untuk memasuki ruang bersalin. Alena akan diperiksa terlebih dahulu oleh dokter untuk memastikan pembukaan.


"Hallo, Tuan Arga. Alena sekarang ada di rumah sakit, tolong segera datang sepertinya Alena akan segera melahirkan." Setelah dapat mengendalikan dirinya Vania segera menghubungi Arga agar suami sahabatnya itu segera datang ke rumah sakit.


Arga yang sedang meeting segera menghentikan kegiatannya. Dia meminta maaf kepada cliennya karena harus mendampingi isterinya melahirkan. Tentu cliennya tidak masalah karena keluarga apalagi isteri merupakan hal nomor satu yang harus didahulukan. Dengan secepat kilat Arga dan Adam menuju rumah sakit. Arga terlihat sangat gugup menghadapi kelahiran anak pertamanya.


"Bagaimana Alena?" tanya Arga ketika telah sampai di rumah sakit dan mendapati Vania di luar ruangan.


"Masih pembukaan 5, Tuan. Sebaiknya, Anda mendampingi Alena karena dia membutuhkan dukungan Anda." Tanpa menjawab perkataan Vania, Arga segera memasuki ruangan dan menuju brankar tempat Alena saat ini berbaring.


"Sayang, apa yang kau rasakan?" tanya Arga kepada Alena yang terlihat memegangi perutnya dan meringis kesakitan.


"Aku merasakan mulas dan gelombang cinta dari baby terus berputar. Sakit sekali." Arga yang melihat Alena kesakitan tidak tega.


"Bagaimana kalau operasi saja, Sayang?" tanya Arga lagi, dia tidak ingin melihat Alena sakit sehingga mengeluarkan opsi untuk di operasi.


"Kalau bisa aku ingin normal saja, operasi itu sakitnya di akhir, bukannya mereka tidak merasakan sakit. Semua calon ibu pasti harus melewati hal ini. Kamu harus mendukungku." Yang dibutuhkan oleh Alena saat ini adalah dukungan dari orang terdekatnya yaitu Arga.


"Ah, sakit sekali." Tanpa sadar Alena mencengkram tangan Arga dengan kuat dan meninggalkan beberapa bekas di tangannya.


Dokter kemudian memeriksa kembali Alena dan ternyata pembukaan telah lengkap. Beberapa petugas kesehatan mengelilingi Alena untuk membantu persalinannya.


"Baik kalau saya bilang mengedan, Anda mengedan ya Bu," kata Dokter yang membantu persalinan Alena. Alena masih menahan agar tidak mengedan sebelum dokter memerintahkannya.


"Ayo mengedan Bu," perintah dokter tersebut segera dilakukan oleh Alena dan persalinan berlangsung dengan lancar. Arga berkali-kali menciumi wajah dan tangan Alena yang menyaksikan langsung isterinya berjuang untuk melahirkan.


"Oaaaa Oaaa." Terdengar tangisan dari bayi kecil yang terlihat sangat tampan itu, dia telah dibersihkan dan sekarang akan diletakkan di p*yudara Alena untuk menyusui pertama kali.


"Hallo, baby A..." Alena menitikkan air mata melihat betapa indah karunia yang diberikan oleh Tuhan untuknya. Arga tersenyum melihat keduanya, dia sangat bahagia karena kelahiran baby A yang membuat pernikahan keduanya semakin erat.


"Welcome Baby A. Terima kasih sayang," ucap Arga sambil mencium Alena kemudian mengecup pipi baby A. Keduanya merupakan harta yang berharga yang dia miliki.


...πŸƒπŸƒπŸƒ TAMATπŸƒπŸƒπŸƒ...


Hallo semua pembaca Blind Date With CEO. Kisah tentang Alena dan Arga telah selesai ya, untuk bab selanjutnya saya akan mengisahkan tentang Adam dan Vania. Ikuti terus kisah mereka. ❀️