
Saat ini, kondisi Alena telah membaik dan dia sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Arga selalu mendampingi Alena dua hari ini, dia menyerahkan semua pekerjaannya kepada Adam. Hal itu membuat sekretarisnya sangat sibuk dan kesal pada Arga, namun dia tidak dapat berbuat apapun karena perintah atasannya itu.
Alena masih pulang ke Mansion Keluarga Wijaya. Mommy Leona ingin selalu mendampingi Alena dalam masa-masa kehamilannya. Alena yang telah pulih tetap dilarang melakukan apa pun. Dia tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan ringan, bahkan untuk memasak sang koki malah di marahi oleh Arga.
Suatu sore, Alena berinisiatif untuk memasak untuk makan malam karena dia sedang sangat ingin memasak sendiri. Koki tersebut awalnya tidak ingin membiarkan Alena untuk memasak karena titah dari Tuan Mudanya tidak boleh membiarkan Alena melakukan apa pun. Alena dengan tegas mengatakan bahwa akan bertanggung jawab bila terjadi sesuatu dan dia mengatakan ini merupakan keinginan bayinya, akhirnya sang koki luluh dan membiarkan Alena untuk memasak tentunya dia tetap membantu Nyonya Mudanya dalam menyiapkan bahan makanan seperti memotong sayuran dan sebagainya. Tidak semua pekerjaan dikerjakan oleh Alena.
Saat itu, Mommy Leona dan Kakek Danu sedang tidak ada di rumah karena itulah Alena jadi bisa meminta koki untuk menggantikannya memasak. Namun, tiba-tiba saja Arga datang dan melihat Alena yang sedang memasak. Melihat hal tersebut, Arga langsung saja memarahi sang koki yang sebenarnya juga membantu Alena memasak
"Apa aku menggaji kalian untuk bersantai-santai?" Arga membentak koki yang malang itu, sang koki sebenarnya telah berusaha membujuk Nyonya Mudanya agar tidak melakukan aktivitas di dapur. Akan tetapi, Alena tetap bersikeras untuk memasak agar Arga mau memakan masakannya.
Alena yang melihat Arga memarahi sang koki menjadi tidak enak. Dia tidak ingin koki tersebut mendapatkan masalah karena dirinya. Alena telah berjanji akan mempertanggung jawabkan semua bila ketahuan oleh Arga, Mommy Leona, maupun Kakek Danu.
"Arga sudahlah, aku itu sedang mengidam ingin memasak untukmu. Jadi, kamu tidak boleh memarahi Koki ini karena memasak adalah keinginan anakmu." Alena mengatakan sambil tersenyum memohon kepada Arga agar tidak memarahi Koki di Masion Wijaya.
"Maafkan Mama ya, Nak. Kamu Mama jadikan kambing hitam." batin Alena kepada anak yang ada dalam kandungannya.
"Apa maksudmu mengidam?" Arga terlihat heran dengan perkataan Alena. Dia tidak pernah mendengar hal tentang mengidam ini. Tidak, bukan tidak pernah mendengar lebih tepatnya tidak mau tahu karena memang dahulu menikah baginya bukan merupakan suatu tujuan hidup. Awal dia menikah dengan Alena juga karena perjodohan yang dipaksa oleh Kakeknya. Jadi, dia sama sekali tidak mengetahui tentang mengidam.
"Ah, tidak tahulah. Kamu cari tahu sendiri, makanya peka sedikit kondisi isteri!" Bukannya menjawab pertanyaan Arga, Alena malah menyuruhnya mencari tahu sendiri arti mengidam. Alena melenggang ke kamarnya karena acara masak memasaknya telah selesai. Dia ingin mandi sore ini dan berganti baju.
"Jadi, apa maksud dari Alena? apa itu mengidam? Jika kalian dapat menjawab pertanyaan tersebut kalian akan aku loloskan dari hukuman karena membiarkan Alena memasak." Mendengar perkataan Tuan Mudanya itu, mereka semua tersenyum. Koki di Mansion Wijaya ada 7 orang, beberapa diantaranya sudah menikah sehingga tahu apa arti dari mengidam. Sebenarnya, tidak hanya orang yang sudah menikah yang mengerti arti mengidam, banyak orang yang belum menikah pun tahu artinya.
"Izin menjawab Tuan Muda. Mengidam itu bagi wanita hamil seperti menginginkan sesuatu hal yang sangat ingin dilakukan, seperti memakan sesuatu atau melakukan suatu hal. Contohnya seperti Nona Alena yang ingin memasak untuk Tuan Muda, mungkin bawaan hamil sehingga Nona ingin memasak. Ada mitos yang mengatakan bila mengidam wanita hamil tidak dilakukan katanya anaknya akan ileran." Captain dari pada koki itu menjawab pertanyaan Arga sambil tersenyum.
"Memangnya ada hal seperti itu?" tanya Arga lagi dengan bingung. Sepertinya dia harus lebih peka dengan perasaan Alena juga. Sejauh ini dia belum mencari tahu hal yang kemungkinan dialami oleh Alena selain morning sickness setiap pagi. Arga selalu membuatkan sendiri teh manis untuk meredakan morning sickness Alena agar mengurangi rasa mual yang dialami isterinya.
"Ada Tuan, dulu saya pernah mengidam ingin memakan buah duku. Padahal saat itu, belum musimnya duku untuk berbuah. Alhasil, suami saya berburu duku ke seluruh pasar dan pusat perbelanjaan akhirnya kami menemukannya." Seorang koki wanita yang masih terlihat berumur 35 tahun menjawab pertanyaan Arga.
"Iya Tuan. Bisa dikatakan begitu," jawab Captain Koki lagi.
"Baiklah kalau begitu kalian teruskan pekerjaan kalian. Aku tidak akan menghukum kalian kali ini." Setelah mengatakan hal tersebut Arga melenggang meninggalkan para koki yang mendesah lega karena tidak jadi dihukum oleh Arga.
Arga mencari-cari isterinya, isterinya tidak ada di kamar tidur mereka. Dia terus menelusuri semua ruangan, ternyata Alena berada di ruang kerja Arga. Dia sedang mencoret-coret bosan pada kertas kosong.
"Sayang, apa yang sedang kamu lakukan?" Arga melihat wajah Alena yang cemberut.
"Aku kesal sama kamu. Kenapa kamu tidak segera menyusulku." Alena terus merajuk sambil memanyunkan bibirnya. Arga jadi gemas melihat tingkah ibu hamil kesayangannya ini.
"Maafkan aku, aku harus menerima penjelasan dulu dari para koki yang membiarkanmu memasak," jawab Arga sambil mengangkat Alena dan mendudukkannya dipangkuannya. Alena yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum malu sambil menunduk.
"Arga, aku ingin..." kata Alena dengan ragu-ragu. Dia malu untuk mengatakan hal yang ada dibenaknya.
"Apa yang kamu inginkan?" Arga mendekatkan wajahnya kepada Alena sambil tersenyum menggoda.
"Aku ingin itu..." jawaban Alena yang ambigu malah membuat Arga ingin mengerjai isterinya itu. Alena saat ini memainkan dasi Arga, dia melonggarkan dasi tersebut sambil tersenyum. Hal itu semakin membuat Arga ingin menggoda isterinya.
"Apa yang kamu inginkan? Aku bukan peramal yang bisa tahu isi hatimu. Ayo katakan apa yang kamu inginkan." Arga yang masih berniat menggoda Alena masih memancing perkataan isterinya itu. Dipancing terus untuk mengatakan hal yang diinginkan malah membuat Alena cemberut dan marah, dia berdiri dari pangkuan Arga dengan wajah kesalnya. Namun, Arga yang melihat kekesalan di wajah Alena segera mendekapnya erat. Pria tampan itu mencium lembut bibir Alena, awalnya Alena tidak ingin terhanyut dengan ciuman suaminya. Namun, apa boleh buat ciuman dari Arga membuatnya mabuk hingga terbuai dengannya.
"Jadi, apa yang kamu inginkan?" tanya Arga lagi saat menghentikan ciumannya.
"Aku menginginkanmu, sekarang." Alena menjawab pertanyaan Arga dengan malu.
"As you wish, baby." Arga menggendong Alena ke sofa yang berada di ruangannya, dia tidak menggendong isterinya ke kamar tidur mereka karena akan membutuhkan waktu yang lama. Setelah itu, mereka melakukan hal yang diinginkan oleh Alena.