Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Harus Menikah



"Tidak perlu, Pak!" ucapan Vania yang lantang membuatnya menjadi pusat perhatian dari delapan pasang mata yang memandangnya dengan berbeda.


Gio menatap adiknya dengan pandangan miris. Dia sangat tidak percaya bahwa masa depan adiknya hancur. Bagi sebagian besar orang, kesucian wanita merupakan hal penting. Apalagi mereka tinggal di Indonesia yang menjunjung adat ketimuran.


"Kau harus menikahi dengan Adam." Gio mengatakan hal itu dengan tatapan tajam, dia tahu adiknya tidak menginginkan pernikahan yang tidak didasari oleh cinta. Terlihat jelas dari tatapan adiknya, kalau dia tidak mencintai Adam.


"Tidak, aku tidak ingin Pak Adam menikahiku karena terpaksa. Aku tidak apa-apa, aku masih dapat menjalani hidupku dan mempunyai masa depan." Vania mengatakan dengan lantang di depan kedua orang tua, kakak dan, Adam.


"Tapi, Bagaimana kalau kau mengandung anakku? Aku tidak akan membiarkan anakku lahir tanpa status yang jelas." Pemikiran Adam membuat Vania terperangah, dia tidak memikirkan keadaan yang menimpanya sampai sejauh itu. Yang ada dipikirannya saat ini adalah dia dapat menjalani hidup seperti biasa dan hal yang terjadi kemarin tidak akan mempengaruhi hidupnya.


"Aku.. aku.." Vania tidak dapat mengatakan apa pun. Keheningan melanda di ruang tamu itu. Mama Heni dan Papa Doni melihat Adam yang masih memandangi Vania.


"Jadi, apa kamu bersedia bertanggung jawab atas perbuatanmu? Kami mengerti perbuatan yang kamu lakukan bukanlah kesalahanmu sepenuhnya. Bahkan seharusnya kami berterima kasih karena Anda menolong Vania dari kejadian awal yang direncanakan oleh pria brengs*k itu." Papa Doni bertanya kembali dengan Adam. Adam mengalihkan pandangannya dan menatap pria paruh baya di depannya. Adapun, Mama Heni terus menangis membayangkan nasib putrinya.


"Ya, saya siap bertanggung jawab penuh atas Vania. Saya akan menikahi anak Anda." Adam mengatakan dengan tenang keinginannya untuk menikahi Vania.


"Mungkin cara kami bersatu memang berawal dari suatu kesalahan, tetapi saya ingin menikahi Vania dan menua bersamanya." Adam melanjutkan kembali perkataannya yang membuat orang tua dan kakak Vania cukup mengakui bahwa Adam adalah pria yang bertanggung jawab.


Vania menatap Adam dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Dia belum begitu mengenal Adam, namun dia tahu bahwa pria di depannya itu adalah pria yang bertanggung jawab. Sejujurnya, Vania akui bila mereka menikah, dia menjadi wanita yang paling beruntung. Di perusahaannya selain Arga, Adam juga merupakan idola setiap karyawati di kantor. Muda, tampan, dan mapan, itulah image dari Adam. Setelah Arga memberitakan pernikahannya dengan Alena, tentu semua perhatian karyawati jadi beralih ke Adam yang masih berstatus single. Apa jadinya bila Vania menikahi Adam? Vania bergidik mengingat kejadian yang pernah dialami Alena. Dia tidak ingin menjadi musuh banyak orang karena menikah dengan Adam.


Adam melihat Vania yang terlihat berpikir keras. Pasti wanita itu ingin menyangkal lagi keinginannya untuk menikah. Baru kali ini Adam mendapatkan penolakan dari wanita. Biasanya, para wanita dengan sukarela melempar dirinya sendiri ke dalam pelukannya. Adam terheran-heran dengan wanita cantik ini, apakah hal yang membuatnya tidak ingin menikah dengannya?


"Tapi, Pa? Aku tidak mau dib*lly seperti Alena karena fans fanatik Pak Adam!" Vania setengah berteriak mendengar perkataan Papanya. Namun, dengan cepat dia menutup kembali mulutnya.Dia sudah membayangkan hal yang belum tentu terjadi. Perempuan itu mengkhawatirkan fans dari Adam, reaksi yang ditunjukkan oleh mereka pasti seperti saat mengetahui kalau Alena dekat dengan Arga.


Adam tersenyum tipis mendengar perkataan Vania. Dia jadi mengetahui hal yang dari tadi dipikirkan oleh wanitanya. Dia tidak akan membiarkan Vania menjadi bahan b*lly seperti yang dialami oleh Alena, isteri bosnya itu.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku pasti akan melindungimu dan mencegah kasus seperti yang dialami oleh Nona Alena terjadi." Dengan yakin, Adam mengatakannya, saat setelah dia memutuskan untuk memiliki hubungan dengan Vania saat itu juga Adam telah merencanakan semuanya.


"Memangnya, Apa posisimu di perusahaan? Sampai mempunyai fans?" Gio yang tadinya hanya memperhatikan interaksi Adam dan Alena ambil suara. Dari awal Adam hanya memperkenalkan diri sebagai teman kantor Vania, dia tidak memberitahukan kalau dirinya adalah sekretaris sekaligus tangan kanan Arga Satria Wijaya, CEO dari PT Wijaya. Dia berusaha untuk tidak menonjolkan jabatannya terlebih dahulu di depan keluarga Vania.


"Kamu belum memberitahukan keluargaku?" Vania menatap dengan bingung Gio dan beralih bertanya pada Adam. Dia pikir Adam langsung mengatakan jabatan dan posisinya di perusahaan. Mungkin hal tersebut dapat mengubah pikiran buruk keluarganya kepada Adam, tetapi ternyata pria dihadapannya ini tidak mengatakan apa pun mengenai jabatannya di perusahaan.


"Dia adalah sekretaris Tuan Arga sekaligus tangan kanannya. Bisa dibilang Pak Adam adalah orang kepercayaan Tuan Arga." Mendengar perkataan Vania, orang tua dan kakaknya terkejut. Mereka tahu siapa Arga, tetapi tidak pernah mengetahui pria yang duduk di depan mereka dengan penuh senyum.


"Apa? Jadi, dari tadi aku menghajar bosmu!" Teriak Gio dengan pekikan tertahan. Dia jadi takut dengan kelakuannya yang telah menghajar atasan Vania sampai memar merah terlihat di wajah tampan Adam.


...🍃🍃🍃...


Hallo, sambil menunggu Author update bab selanjutnya, Author ada rekomendasi bacaan yang bagus banget untuk kalian. Yuk dibaca karya temanku ini. ❤️