Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Adam Berubah



Dua Minggu ini sikap Adam berubah kepada Vania, memang sebelumnya Adam telah memberitahukan bahwa dia memiliki banyak pekerjaan sehingga dia tidak dapat meluangkan waktu untuk Vania. Vania masih terlihat biasa saja, tetapi ada yang janggal saat Adam tidak mengantar jemputnya seperti biasa.


"Huek Huek." Pagi ini perut Vania seperti diaduk-aduk entah karena apa. Dia merasa tidak salah memakan apa pun yang dapat menyebabkan perutnya bergejolak.


Pusing melanda dirinya saat ini, tiba-tiba dia teringat dengan perkataan dari Adam saat menanti kelahiran Baby A.


"Hmm, anak itu rezeki. Siapa tahu justru dia sudah hadir di sini kan?" Adam menyentuh perutnya dengan lembut, Vania hanya menatap pria tersebut dengan canggung.


"Tidak-tidak mungkin aku hamil kan? Kami hanya melakukan hal itu sekali mana mungkin langsung ada janin dalam rahimku." Vania berusaha dengan keras untuk menolak hal yang mungkin saja terjadi. Memang Adam saat itu melakukannya hanya sekali namun berkali-kali pria itu mendapat pelepasan yang tidak diingat oleh Vania karena saat itu dalam pengaruh obat.


"Apa yang harus kulakukan bila memang aku hamil? Ah, bodohnya aku. Sebentar lagi kan aku memang akan menikah dengan Pak Adam. Apa yang harus aku khawatirkan." Vania berusaha meyakinkan dirinya agar tidak begitu gugup bila memang dia positif hamil.


Vania menghubungi Adam lewat ponselnya dia ingin sekali hari ini dijemput oleh Adam, namun sudah berapa lama menunggu deringan telepon belum juga dijawab. Padahal hari masih sangat pagi, seharusnya pria tersebut belum ke kantor karena jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Mendadak Vania sangat rindu dengan Adam, seolah jarak di antara mereka sangatlah jauh.


...🍃🍃🍃...


Adam menghela napasnya melihat deringan ponsel yang sedari tadi dia diamkan, dia ingin mengangkatnya namun dia tidak mempunyai alasan untuk menghindari pertemuan dengan Vania. Saat ini dia ada di rumah sakit menemani perempuan yang pernah hadir dalam hidupnya. Perempuan yang meninggalkannya dengan keterpurukan hidup sehingga dia tidak pernah berpikir untuk mencintai seseorang sebelum dia bertemu dengan Vania.


"Mengapa kamu tidak mengangkat telepon itu? Dari tadi ponselmu berbunyi." Wanita cantik yang berbaring di ranjang pasien itu melihat ponsel yang ada digenggaman tangan Adam namun dia tidak mengangkat panggilan ponsel tersebut.


Wanita cantik itu adalah Clara Harrison yang merupakan mantan kekasih Adam. Mereka berkencan saat Adam baru saja diterima di Perusahaan Wijaya, mereka telah menjalani hubungan dengan serius bahkan sampai ingin bertunangan. Namun, tiba-tiba Clara memutuskan hubungan mereka hanya melalui pesan singkat dan menghilang tanpa meninggalkan jejak.


"Tolonglah aku ingin mengenang kebersamaan kita berdua. Aku ingin kita bersama di sisa hidupku." Clara senang Adam mau datang menjenguknya yang saat ini sudah kehilangan semangat hidup.


Kedua orang tua Clara hanya meminta Adam untuk menemaninya di sisa-sisa terakhir hidupnya. Dokter mengatakan Clara kemungkinan hanya dapat bertahan 3 bulan. Saat ini, seperti pasien kanker yang melakukan kemoterapi untuk memperpanjang hidupnya, rambut Clara yang tadinya sangat indah dan menjadi kebanggaan dirinya sudah rontok bahkan Clara telah mencukur habis rambut di kepalanya. Dia hanya berharap Adam dapat memaafkannya dan dapat menemaninya di sisa hidupnya.


"Maaf Clara, aku sudah memaafkanmu namun aku tidak bisa terus bersamamu dan mendampingimu. Saat ini, aku sedang merencanakan pernikahanku dengan seseorang yang telah kembali mengisi hidupku dengan penuh warna." Adam mengatakan hal tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman. Awalnya Adam marah mengapa Clara dan keluarganya tidak terus terang saja tentang keadaan yang dialami oleh Clara. Namun, itu adalah masa lalu yang tidak perlu disesali. Saat ini, Adam ingin menatap masa depannya dengan Vania.


"Aku mohon Adam, waktuku tidak lama lagi. Aku juga ingin berkenalan dengan calon isterimu. Mungkin dia akan dengan lapang dada bersedia agar kamu menemani keseharianku di sisa-sisa kehidupanku," ucap Clara yang terdengar sangat egois namun Adam tidak dapat memarahinya karena mungkin inilah keinginan Clara.


"Tidak, Vania tidak boleh mengetahui tentangmu. Aku hanya bisa sesekali saja menjengukmu Clara, kamu harus mengerti posisimu. Lagi pula siapa yang awalnya meminta untuk berpisah dan meninggalkanku begitu saja dengan keterpurukan." Adam mengatakannya sambil mengingat masa lalu saat dirinya terpuruk karena ditinggalkan oleh Clara.


"Aku mohon Adam. Kalau bukan demi cinta kita di masa lalu lakukanlah demi kemanusiaan." Clara memohon yang kemudian dianguki oleh Adam. Jadilah, Adam saat ini mengisi hari-hari Clara dan terkesan mengabaikan Vania. Adam sangat merindukan calon isterinya itu, dia sangat ingin bertemu. Namun, Clara seperti melarang mereka berdua bertemu.


Adam masih termenung sambil melihat ke arah Clara yang masih menampilkan wajah yang penuh tanya. Clara mengetahui kemungkinan itu adalah calon isteri Adam. Akan tetapi, dia ingin sekali saja bersikap egois dengan memiliki Adam sebentar untuk dirinya sendiri. Dia ingin menebus kesahalannya yang telah dia perbuat di masa lalu saat meninggalkan Adam begitu saja tanpa alasan. Tanpa sadar perilakunya itu, telah menyakiti hati wanita lain yang saat ini telah berada dalam kebimbangan.


...🍃🍃🍃...


Hallo, aku kembali merekomendasikan bacaan seru sambil menunggu Author update ke bab selanjutnya ya. Yuk dibaca karya temanku ini.