
Vania Larasati merupakan satu-satunya sahabat terdekat Alena. Usia yang sama dengan Alena yaitu 28 tahun membuatnya terus didesak untuk segera menikah. Mamanya sendiri acap kali menyindir dirinya yang masih belum memiliki kekasih.
"Van, Alena sudah menikah dan sebentar lagi akan melahirkan. Ayo kamu juga segera menikah." Mama Heni mengatakan hal tersebut sambil menyendokkan nasi ke piring Vania. Vania menghela napas karena mendengar perkataan Mama Heni. Ini sudah ke 3 kalinya dia mendengar perkataan yang memintanya untuk segera menikah.
"Aku belum ingin menikah, Ma." Vania mempercepat sarapannya agar segera terhindar dari perkataan Mamanya.
โKerap kali keluarga besarnya juga menanyakan "Kapan Menikah?" kepada Vania sehingga menyebabkan dia sangat sebal dan jarang mengikuti acara keluarga.
Setelah memakan sarapannya dengan cepat, Vania berpamitan kepada Mama dan Papanya yang baru bergabung di meja makan.
"Aku berangkat ya Ma, Pa." Dengan terburu-buru Vania melangkahkan kakinya untuk segera pergi ke kantor. Sungguh melelahkan kalau terus saja dicecar dengan pertanyaannya yang sama. Baginya usia 28 tahun masih tergolong muda, banyak teman di kantornya yang telah berumur 35 tahun tetapi belum berkeluarga.
...๐บ๐บ๐บ...
"Kenapa muka di tekuk begitu, Kak Van." Gina yang merupakan anggota staff finance yang baru menegur Vania yang sudah menunjukkan wajah cemberutnya saat pagi hari.
"Yah, biasa deh. Mamaku setiap hari di meja makan yang dibicarakan hanya menikah dan menikah. Dipikir aku bisa dengan cepat menikah? pacar saja aku belum ada." Gina mendengarkan curahan hati dari Vania, dilihatnya wajah Vania tampak suntuk dengan hal yang menderanya.
"Memangnya Kak Vania sudah siap menikah?" tanya gadis muda yang memang berusia jauh di bawah Vania. Dia merupakan lulusan fresh graduate yang sangat cemerlang karena itu dapat menggantikan posisi Alena yang saat ini kosong.
"Yah, siap tidak siap, kalau aku ditekan setiap hari seperti ini lebih baik aku tinggal di apartemen saja atau aku mengontrak. Agar hidupku lebih tenteram tanpa pertanyaan dari Mamaku." Vania serius berpikir untuk hidup mandiri bila terus menerus didesak untuk menikah. Vania merupakan putri bungsu dan kakak laki-lakinya telah lama menikah dan tinggal bersama isterinya sehingga hanya Vania yang tinggal di rumah kedua orang tuanya.
"Kak, kamu gabung ke aplikasi untuk kencan buta saja. Paling tidak ada usaha untuk mencari jodoh." Gina memberikan usul untuk mengurangi kegalauan Vania. Dia menyodorkan aplikasi di ponselnya, di dalamnya terdapat chat dari beberapa pria yang dapat Vania lihat.
"Memangnya ada aplikasi seperti itu?" Vania bertanya dengan penasaran dan melihat aplikasi yang disodorkan oleh Gina.
"Wah, kamu player juga ya ternyata, Gin. Aku tidak menyangka." Vania mengatakannya sambil tertawa.
"Namanya juga usaha kan ka? Tidak ada salahnya kita koleksi, seleksi, lalu resepsi." Gina tertawa renyah sambil menutup mulutnya. Vania yang mendengar perkataan juniornya ini hanya tercengang bisa-bisanya anak yang baru lulus kuliah itu mengatakan hal tersebut. Memang zaman sudah berubah. Vania hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun, dia tetap mengunduh aplikasi yang sama dengan Gina sambil tersenyum. Mungkin saja ini jalannya mencari jodoh.
...๐บ๐บ๐บ...
Setelah usul dari Gina itu dilakukan oleh Vania beberapa pria mengirimkan pesan singkat kepada Vania. Dengan susah payah, Vania menghilangkan egonya untuk memulai hubungan kepada salah satu pria yang mungkin akan menjadi teman kencannya. Salah satunya teman yang mengirimkan pesan kepadanya bernama Dewa. Dari pesan yang saling dikirimkan oleh keduanya, Vania mengetahui bahwa Dewa merupakan salah satu karyawan di Perusahaan Atmaja.
Keduanya masih terus berkirim pesan dan sepakat pada akhir pekan ini akan bertemu. Bagi Vania ini adalah kencan butanya yang pertama. Menurut Vania, Dewa merupakan orang yang menyenangkan karena kerap kali mereka mengobrol dalam komunikasi via telepon, Dewa kerap kali membuat Vania tertawa bahagia. Bagi Vania inilah awal mula kehidupan percintaannya, dia berharap percintaannya dapat semulus sahabatnya Alena yang telah lebih dahulu menikah.
Dewa:
Bagaimana kalau kita bertemu akhir pekan ini?
Vania:
Dewa:
Baiklah, kita bertemu di Cafe Lotus ya.
Vania:
Oke, see you tomorrow.
Itu adalah percakapan mereka saat Vania dan Dewa janji untuk bertemu. Perasaan Vania seperti remaja yang berbunga-bunga, dia sangat menantikan kencannya bersama dewa. Bahkan, Vania sempat kebingungan saat mencari pakaian yang pantas untuk dikenakan pada kencannya malam Minggu nanti. Dengan perasaan tidak sabar menanti kencannya dengan Dewa.
"Semoga saja Dewa adalah jodohku." Vania kerap kali berdoa agar diberikan jodoh secepatnya karena dia sudah resah dengan desakan keluarganya, namun dia berharap mendapatkan jodoh yang mencintainya dan juga dia cintai.
Saat ini, Vania sudah berada di Cafe Lotus. Jam menunjukkan pukul 8 malam. Waktu yang tepat untuk makan malam, Dewa sengaja ingin bertemu saat makan malam karena dia ingin suasana romantis saat pertama kali bertemu dengan Vania.
"Hai Van, sudah menunggu lama?" tanya seorang pria yang tampan sambil tersenyum menatap wanita di hadapannya ini. Vania sangat cantik mengenakan gaun selutut berwarna merah dengan balutan bolerro hitam.
"Ah, tidak menunggu lama, aku baru saja sampai. Kamu Dewa?" Vania menatap pria tampan yang memakai kemeja merah di depannya. Bahkan, tanpa janjian mereka memakai pakaian dengan warna senada.
Setelah berbincang-bincang ringan sambil makan malam. Vania merasa sangat senang dan menikmati makan malam sekaligus kencan pertamanya dengan Dewa. Gadis itu kerap kali menunjukkan wajah memerah karena malu pada perkataan Dewa yang menurutnya sangat romantis.
Tanpa disadari keduanya, kegiatan Vania dan Dewa dilihat oleh sepasang mata tajam yang telah mengawasi Vania dari awal kedatangan gadis itu. Dia merasa kesal dengan senyuman yang ditampakkan oleh Vania kepada Dewa.
"Apa yang dilakukannya sampai gadis itu dapat tersenyum lebar seperti itu?" Pria yang masih mengawasi keduanya hanya mampu bermonolog sambil memakan hidangan makan malam yang sudah tersaji di hadapannya. Pria itu memesan meja yang cukup dekat dengan meja Vania dan Dewa.
"Van, kita ke Club dulu yuk, baru nanti aku akan mengantarmu pulang." Terdengar ajakan Dewa kepada Vania. Awalnya Vania tidak ingin mengikuti saran dari Dewa, dia ingin segera pulang karena memang hari sudah larut. Namun, Dewa memasang tampang memelas dan sedikit memaksa Vania.
"Ayo Van, kamu bilang kamu belum pernah ke Club kan? Nanti aku pasti akan mengantarkanmu pulang. Kita ke sana hanya sebentar saja. Please" Dewa mengatakannya sambil memohon kepada Vania, tentu Vania menjadi tidak enak bila tidak ikut ke Club. Dewa berkata dia hanya ingin bertemu dengan temannya sebentar kemudian akan pergi mengantar Vania.
"Baiklah, tetapi kamu nanti mengantarkanku pulang ya." Vania menuju ke cafe memang tidak menggunakan kendaraanya, Dewa sudah berjanji akan mengantarkan gadis itu pulang setelah makan malam mereka selesai.
Dewa tersenyum mendengar perkataan gadis cantik dihadapannya, dia sudah merencanakan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh Vania.
...๐บ๐บ๐บ...
Hallo, Sebelum aku update bab selanjutnya, aku punya rekomendasi bacaan yang bagus banget.
Yuk baca juga karya temanku ini, dijamin seru. โค๏ธ