Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Derita Silvia



Silvia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wanita cantik itu sangat lelah, keluarganya yang hanya memedulikan harta tanpa mengetahui bahwa Silvia sudah muak dengan segalanya. Seperti sebelum mendatangi Arga di kantornya, Helga berpesan agar dia dapat merebut perhatian. Arga. Jangankan merebut perhatian, membuat Arga menolehpun tidak dapat dia lakukan.


Hembusan angin berlalu dan mengiringi perjalanan Silvia yang entah ingin menuju ke mana. Suara dering ponsel dari tadi memenuhi pendengarannya, namun dia enggan untuk mengangkat panggilan tersebut. Sudah dipastikan, itu adalah ayahnya Handoko yang selalu menuntutnya untuk sempurna. Bahkan, Aldo yang merupakan selingkuhannya saat masih menjadi kekasih Arga saat ini sudah menjauhinya. Namun, Silvia sangat memahaminya karena Aldo telah memiliki isteri tidak mungkin dia akan meninggalkan isterinya, sama seperti Arga yang dengan pendiriannya tetap bersama Alena.


"Aku tidak bisa terus bersamamu, Silvia. Lagipula karir kita telah hancur karena perselingkuhan kita yang diketahui publik." Aldo mengatakan hal itu saat karir Silvia di dunia modeling hancur karena skandal mereka.


"Tapi, kamu tidak bisa meninggalkanku begitu saja. Aku sangat mencintaimu. Bahkan lebih mencintaimu, dibandingkan dengan Arga." Silvia memohon untuk tidak ditinggalkan juga oleh Aldo. Dia sudah kehilangan semuanya, paling tidak dia mempunyai cinta walaupun dia tahu itu hanyalah cinta semu. Dia tidak memiliki masa depan bersama dengan Aldo.


"Maaf, aku mencintai isteriku. Yang kita lakukan selama ini hanya karena sama-sama menginginkan kesenangan." Setelah mengatakannya Aldo pergi meninggalkan Silvia yang menderita.


Dua tahun kehidupannya sangat menderita, dia mencoba untuk melamar pekerjaan namun tidak diterima. Ayahnya tidak bisa membantunya karena Silvia telah mencoreng nama keluarga. Adapun Helga terus menyalahkannya karena perselingkuhan Silvia membuat Arga dan Silvia putus. Saat itulah, Silvia dan Helga mendatangi Arga kembali sampai terjadi hal yang sangat mengguncang Silvia. Dia hampir saja berbuat perbuatan yang telah mencelakai Alena. Dia merasa yang dikarang oleh Helga benar, dia merupakan anak yang tidak berguna. Lebih baik dia tidak ada di dunia ini.


Tiba-tiba dari arah berlawanan terdapat suara klakson yang menggema, Silvia yang masih berada dalam pikirannya sendiri itu tidak mendengar suara klakson tersebut. Di depannya, terdapat truk yang oleng sepertinya pengemudi kehilangan kendali. Sinar lampu mobil menyorot ke arah Silvia, dengan panik Silvia membanting stirnya ke arah kiri namun naas di kiri jalan terdapat pula mobil yang berjalan. Tabrakan tidak terhindari, Silvia tidak sadarkan diri dan menutup matanya. Namun, dia tersenyum seolah lega karena doa dari ibunya terkabul.


[Ma, semoga kau akhirnya bahagia karena anakmj yang tidak berguna sudah pergi meninggalkan dunia ini. Sesuai dengan keinginanmu]


***


Alena yang masih dirawat di rumah sakit sedang memakan buahnya pagi ini. Dia melihat berita kecelakaan di jalan tol kemarin sore.


"Berita hari ini, sebuah mobil mengalami kecelakaan beruntun kemarin. Korban terdiri dari empat orang, satu orang luka berat telah dilarikan ke rumah sakit terdekat, sedangkan tiga orang lain mengalami luka ringan." Pembawa berita itu membacakan berita tentang kecelakaan itu dengan lugas.


Terlihat dua mobil sedan yang telah rusak parah dan sebuah truk yang juga sama rusaknya. Di berita tersebut terdapat seorang wanita seperti yang Alena kenal. Alena menyipitkan matanya, ya benar itu adalah seseorang yang dia kenal, dia adalah Silvia. Kemarin, mereka baru saja bertengkar dan dia meminta maaf. Jantung Alena bertalu, entah mengapa dia khawatir dengan wanita yang kecelakaan tersebut.


Arga yang sedang mengupas buah Apel menghentikan kegiatannya karena melihat Alena begitu serius melihat berita tersebut. Arga mengambil remot televisi dan ingin mengganti channelnya.


"Tunggu, itu Silvia kan? Aku tidak salah lihat," Tanya Alena sambil meminta Arga untuk memperhatikan berita yang ada di depannya. Arga melihat mobil yang rusak itu, bagian depannya sudah rusak parah. Mustahil pengemudinya akan baik-baik saja.


"Kamu tidak mencari tahu, bagaimana keadaan Silvia? Kasihan sekali dia, melihat keadaan mobilnya seperti itu pasti kondisinya saat ini tidak baik," Ungkap Alena kepada Arga yang masih telaten mengupas apel untuk dimakan Alena.


"Sudah, kita tidak perlu mengurusi orang lain. Silvia mempunyai keluarganya sendiri. Pasti saat ini, keluarganya sudah berada di sisinya. Lebih baik kamu menjaga kesehatanmu dan baby." Selesai mengupas Arga menyuapkan apel tersebut kepada Alena. Alena hanya memanyunkan mulutnya kesal dengan jawaban Arga.


"Ih, Arga." Alena tetap ingin mengetahui kondisi Silvia saat ini.


"Kalau kita sudah mengetahui kondisi Silvia lalu kamu mau apa? Memaafkannya? Sudahlah, cukup sampai di sini saja kita berurusan dengannya. Kalau aku mencari tahu tentang Silvia, pasti Tante Helga akan memanfaatkan kondisi Silvia saat ini." Ungkapan Arga yang panjang lebar itu membuka pikiran Alena.


Alena sendiri belum tentu dapat memaafkan Silvia karena hampir mencelakainya. Tentu saja dia tidak ingin kondisi Silvia dimanfaatkan untuk mendekatkan suaminya kembali dengan mantan pacarnya. Walaupun, dia tahu itu merupakan sebatas perasaan curiga. Namun, melihat sikap Helga, Alena jadi lega Arga sama sekali sudah tidak peduli kepada Silvia. Bahkan melihat berita Silvia kecelakaan dia tidak berkomentar apa pun jika Alena tidak menyadari korban kecelakaan itu adalah Silvia.


Ketukan terdengar dari arah pintu, pintu ruangan di buka dan terlihat wanita paruh baya yang sedari tadi menjadi perbincangan sepasang suami isteri. Ya, dia adalah Helga. Tanpa permisi Helga berlutut di depan Arga dan Alena. Arga ingin mencegahnya namun Helga tetap berlutut.


"Aku mohon maafkan aku dan anakku. Tolong bantu kami sekali saja Arga. Aku tahu yang terjadi pada Silvia saat ini adalah buah dari perbuatannya kemarin. Aku mohon kamu dapat membiayai pengobatan Silvia. Setelah itu, aku berjanji kami akan pergi dari kehidupan kalian selamanya." Dengan sedikit terbata-bata, Helga mengatakan hal tersebut. Dahi Arga berkerut, dia bukannya tidak ingin membantu Tante Helga namun Silvia masih memiliki ayah mengapa bukan ayahnya saja yang membiayai pengobatan Silvia?


"Maaf Tante. Tetapi, kemana Om Handoko. Mengapa Tante harus memohon kepada kami seperti ini. Bangunlah Tante." Arga meminta wanita itu untuk bangun, dia sangat risih dengan Helga yang berlutut di depannya.


"Suamiku sudah tidak mau mengurusi Silvia. Baginya Silvia sudah tidak berarti apa pun." Helga mengatakan sambil terbata-bata dan menangis. Dia meruntuki suaminya sendiri yang sedang asik dengan selingkuhannya. Dia sadar obsesinya pada keluarga Wijaya menghancurkan segalanya, tetapi suaminya dengan tega telah mengkhianatinya


Arga menatap Alena seolah meminta persetujuan isterinya untuk dapat membantu Silvia.Dia membantu Silvia semata-mata karena rasa kemanusiaan saja, tidak ada rasa yang tersisa antara dirinya dan Silvia.


"Baiklah, nanti aku akan mengurus semuanya. Namun, Tante harus menepati janji Tante. Jangan pernah mengusik kembali keluargaku." Perkataan Arga tersebut disambut dengan sumringah oleh Helga, dia tidak ingin kehilangan anak semata wayangnya. Sungguh menyesal dia mengatakan bahwa anaknya merupakan anak yang tidak berguna dan lebih baik tidak ada di dunia ini.


"Terima kasih Arga dan Alena. Semoga keluarga kalian selalu diberikan keberkahan." Tante Helga lalu berpamitan kepada sepasang suami istri tersebut. Dengan langkah yang ringan dia menuju ruangan di mana Silvia dirawat karena ternyata Silvia dirawat di rumah sakit yang sama dengan Alena saat ini.