Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Selamat Tinggal



Adam terlihat kebingungan mendapati Vania yang berada di ruang rawat Clara. Pria yang dipenuhi kebimbangan itu masih tidak dapat menentukan isi hatinya sendiri. Tadinya dia ingin mengejar Vania yang pergi meninggalkannya di taman rumah sakit. Namun, hal itu diurungkan dan jadilah dia datang ke ruang rawat Clara.


Vania yang melihat Adam menjadi acuh tak acuh karena kebimbangan pria yang berjanji menikahinya. Dia sudah muak berada di tempat ini dan ingin segera beranjak dari rumah sakit. Mungkin dia tidak akan memeriksakan dirinya sekarang mengingat Clara berada di rumah sakit ini. Rasa pusingnya menjadi sirna karena melihat Adam yang sangat memperhatikan mantan kekasihnya.


Di depan Clara, Vania ingin meminta kejelasan kepada Adam dia tidak ingin Clara menjadi bayang-bayang pernikahannya kelak. Mungkin bila ditanya langsung di depan Clara dan dirinya Adam langsung dapat menentukan pilihannya.


"Kamu langsung tanyakan saja kepada orang yang bersangkutan. Tidak perlu meminjam orang yang jelas-jelas bukan milikku. Lagi pula dia bukanlah barang yang dapat dipinjam lalu dikembalikan." Vania menatap sinis Clara. Adam masih tidak mengetahui pembicaraan yang terjadi antara keduanya. Otak encernya seketika menjadi lumer ketika berhadapan dengan dua wanita di hadapannya. Yang satu merupakan mantan kekasih yang belum pernah mengucapkan kata putus untuknya, yang satu lagi adalah wanita yang telah memenuhi hari-harinya namun dia masih meragukan perasaannya sendiri.


"Baiklah kalau kamu ingin seperti itu. Langsung saja aku mengatakannya kepadamu, Adam aku ingin kamu terus menemaniku. Entah hal yang terjadi di masa depan seperti apa. Aku sembuh atau malah dipanggil Tuhan , tetapi aku ingin egois dengan mempertahankan dirimu menjadi bagian dari hidupku. Aku ingin selalu bersamamu. Maukah kamu selalu menemaniku?" Clara mengungkapkan keinginan dari hatinya yang terdalam di depan Adam dan Vania.


Adam masih terdiam mendengar hal tersebut, dia menolehkan wajahnya ke arah Vania yang melihatnya dengan tatapan tajam. Adam tahu yang akan dikatakan olehnya merupakan hal yang menyakiti wanita yang beberapa bulan mengisi hatinya, namun naluri kemanusiaannya tidak dapat menolak permintaan Clara. Menghembuskan napasnya dengan berat. Adam menatap Vania.


"Baiklah kalau itu maumu. Tidak perlu mengatakan akan menikahiku dan mengundurkan waktu pernikahan. Cukup kau temani saja wanita ini. Sepertinya dia lebih membutuhkanmu dibandingkan diriku yang baru datang di kehidupanmu beberapa bulan ini. Terima kasih telah memberikan harapan yang sempurna untukku dan terima kasih telah menghempaskannya sedemikian rupa. Kita batalkan saja pernikahan kita!" Vania masih menatap Adam, pria itu menahan napasnya selama Vania mengatakan hal tersebut. Setiap perkataannya seperti sembilu yang menggoreskan luka di dadanya, tetapi dia tahu ini tidak seberapa dengan luka yang ditorehkan dalam hati Vania.


"Dan untukmu, selamat kamu telah menghancurkan semua mimpiku dan masa depanku. Kamu boleh menang sekarang. Namun, aku ingatkan seorang yang telah merebut kebahagiaan orang lain pasti akan mendapatkan balasannya! Aku akan menanti untuk melihatnya!" Setelah mengatakannya, Vania pergi meninggalkan Adam dan Clara yang masih tercengang dengan kata-kata yang diucapkan wanita yang tengah terluka terlalu dalam akibat keegoisan mantan kekasih Adam.


Vania berlari dan terus berlari menjauhi ruangan tersebut, dia sudah muak dengan segalanya. Masa depan yang dijanjikan Adam telah sirna, dia tidak akan bisa mempercayai pria mana pun. Tangis terus menggenangi wajah wanita itu, tanpa sadar di telah berada di tempat parkir. Dia berjalan menuju mobilnya lalu masuk ke dalamnya kemudian melajukan mobilnya tanpa tentu arah, mobil tersebut melaju dengan kecepatan yang tinggi. Vania ingin menyalip sebuah mobil dan tanpa disadarinya terdapat truk yang melaju di arah yang berlawanan. Vania tidak dapat mengendalikan laju mobil hingga kecelakaan itu tidak terhindar. Vania membanting setir ke arah kiri yang justru mengakibatkan mobilnya menabrak mobil lain.


"Agghhhh...." Vania berteriak kesakitan karena tubuhnya terhimpit jok mobil dan dasboard mobil. Dia merasa mungkin inilah akhir dari segalanya. Dia dapat tenang meninggalkan semua kekacauan yang terjadi dalam hidupnya. Dimulai dari kehilangan kesucian, ingin dinikahi oleh Adam, sampai pembatalan pernikahan yang merupakan keinginananya. Mungkin dengan meninggalkan dunia ini, dia lebih bahagia.


"Selamat tinggal, Adam!" batin Vania kemudian menutup matanya.