Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Tujuh Bulanan



Tujuh bulan berselang, Alena seperti dapat memanfaatkan kondisinya dengan baik. Dia memang terkadang mengidamkan sesuatu hal yang membuat kepala Arga pusing tujuh keliling. Seperti malam ini, mereka sudah terlelap tidur, namun Alena terbangun karena dia menginginkan suatu hal.


"Arga, aku ingin makan soto mie Bogor." Alena menepuk-nepuk kecil lengan suami yang melingkari perutnya yang sudah membuncit.


"Sayang bangun, aku ingin makan soto mie Bogor." Alena lagi-lagi menepuk-nepuk lengan Arga.Arga yang sudah berkelana di alam mimpi perlahan membuka matanya. Dia sudah sangat lelah dan ingin tidur. Arga melihat jam dinding yang terletak di kamarnya, jam tersebut menunjukkan pukul 23.00. Mana ada tukang soto mie Bogor jam segini.


"Sayang, besok saja ya? Kita tidur dulu malam ini." Arga yang masih berbaring, menepuk-nepuk kasur di sebelahnya meminta Alena untuk kembali berbaring di sampingnya karena isterinya itu telah terbangun dan sedang duduk di tempat tidur mereka. Dia sudah sangat lelah dengan pekerjaannya yang saat itu membutuhkan perhatian ekstra dari dirinya. Pria tampan itu hanya ingin berbaring dan memeluk isterinya. Lalu menuju kembali ke alam mimpi.


"Hiks... Aku ingin sekarang." Alena menangis karena sangat ingin memakan soto mie Bogor. Arga yang melihat isterinya menangis bangun dan kemudian menenangkan isterinya tersebut.


"Baiklah, aku cari di pemesanan online saja ya. Kalau masih ada yang buka kita pesan saja." Arga membujuk Alena lalu mengambil ponselnya yang diletakkan di nakas samping tempat tidur. Alena hanya terdiam memerhatikan Arga yang sedang berselancar mencari soto mie Bogor.


"Aku tidak ingin pesan online, aku ingin kita ke tempat soto itu sekarang juga. Aku ingin yang ada di Bogor." Alena mengatakan hal itu lalu bangkit kemudian mengganti piyamanya dengan pakaian pergi. Arga terbengong-bengong melihat tingkah isterinya itu. Alena cemberut kemudian melihat Arga dengan tatapan marah.


"Ayo ikut, apa kamu tega aku menyetir sendirian ke Bogor? Ini sudah malam!" Arga langsung menepuk jidatnya, dia keheranan dengan tingkah ibu hamil didepannya.


"Untung aku sayang kamu." Arga lalu bergegas mengganti piyamanya juga. Jadilah malam itu digunakan untuk Arga berkendara dari Jakarta ke Bogor untuk mengabulkan permintaan Alena yang masih diselubungi dengan perkataan mengidam.


***


Kandungan Alena yang telah memasuki usia tujuh bulan membuat Mommy Leona ingin mengadakan syukuran di kediaman mereka. Alena setuju saja dan mengikuti semua keinginan dari Mommy Leona tentu juga disertai dengan ide dari Mama Amira. Seluruh keluarga datang beserta teman dekat dan kolega dari Arga semuanya mengucapkan selamat atas kehamilan Alena dan berdoa agar persalinan wanita itu dilancarkan.


Seorang wanita muda dan seorang wanita paruh baya datang dengan membawa paper bag. Dia mendekati Alena yang kemudian disambut dengan senyuman.


"Baik. Kamu apa kabar?" Alena balik bertanya kepada Silvia yang saat ini sudah dapat menerima pernikahan Arga dan Alena dengan lebih baik.


"Baik dan ini semua berkatmu dan Arga. Terima kasih telah menolongku. Aku tidak bisa berlama-lama. Aku harus segera pergi Alena. Maafkan aku, semoga persalinanmu lancar dan selalu disehatkan ibu dan bayinya." Silvia mengucapkan hal tersebut sambil tersenyum dan mengulurkan tangan ingin menjabat Alena.


"Kalian akan pergi kemana?" Tanpa sadar Alena bertanya kepada Silvia. Dia sebenarnya agak prihatin dengan keadaan keluarga Silvia yang saat ini sudah hancur. Mama Silvia yaitu Helga memergoki Handoko sudah berselingkuh dengan wanita yang lebih muda bahkan seumuran dengannya. Yang berujung dengan perceraian antara kedua orang tuanya. Yang dipunyai Silvia saat ini hanyalah Helga, mereka saat ini ingin memulai hidup baru dengan pergi ke kota lain.


"Aku akan memulai hidup baru dengan mamaku. Terima kasih, Alena. Semoga kamu dan Arga selalu dilimpahi kebahagiaan," ucap Silvia sambil tersenyum. Helga hanya menatap Alena dengan pandangan yang berterima kasih, dia seolah malu mengucapkan hal tersebut. Namun, dia menepis egonya saat ini dan mengatakan terima kasih kepada Alena dan Arga.


"Terima kasih Arga dan Alena. Saya sangat berterima kasih dengan bantuan dari kalian. Semoga Alena dan anak dalam kandungan kalian selalu sehat dan dilancarkan persalinannya." Arga hanya menganggukkan kepalanya kepada Helga, biar bagaimana pun Helga merupakan Tantenya. Sikapnya di masa lalu biarlah menjadi pelajaran yang berharga dan dapat bermanfaat untuk menatap kehidupan lebih baik kedepannya.


Setelah mengucapkan terima kasih kepada Arga dan Alena dan menemui Mommy Leona dan Kakek Danu. Silvia dan Helga berpamitan dan pergi dengan senyum yang menghiasi wajah mereka. (Nanti Author akan membuat kisah tentang Silvia secara khusus ya)


Tak berapa lama, perhatian tertuju kepada Vania dan Adam yang datang bersama dalam acara tujuh bulanan Alena. Dahi Alena berkerinyit melihat kedekatan antara keduanya. Sepertinya ada yang lain dan berbeda antara Adam dan Alena.


"Vania, kamu dan Pak Adam jadian?" Tanpa sadar Alena menanyakan hal tersebut dengan suara yang keras. Ibu hamil itu segera menutup mulutnya lalu tersenyum seolah meminta maaf kepada Vania karena telah bersuara sangat keras sehingga beberapa orang memusatkan perhatian kepada Vania dan Adam.


"Aku.. Aku..." Vania gugup.


"Kami akan segera menikah." Mendengar Vania yang gugup menjawab pertanyaan Alena dia mendahului Vania untuk menjawab pertanyaan dari isteri Tuannya.


"Apaaaa?" Alena berteriak sambil terkaget-kaget. Bahkan, anak dalam kandungannya menendang karena mendengar teriakan mamanya yang luar biasa keras. Refleks Alena mengelus perutnya yang membuncit itu, Arga yang sebenarnya telah mengetahui rencana Adam hanya menatap tajam sekretarisnya.