
Setelah pertemuan di Aula Perusahaan untuk mengklarifikasi hubungan antara Alena dan Arga. Tentunya semua pemikiran buruk mengenai Alena telah berkurang apalagi diberikan peraturan baru bahwa dilarang melakukan perundungan baik untuk karyawan lama maupun baru. Ternyata bukan Alena saja yang pernah mengalami hal tersebut. Namun, beberapa karyawan pernah mengalami kasus perundungan tersebut. Oleh karena itu, banyak karyawan yang bersyukur dengan peraturan baru tersebut.
Saat ini, Alena tidak lagi bekerja sehingga dia mempunyai banyak waktu luang untuk mengeksplor masakannya. Seperti saat ini dia memasak capcay dan sapi lada hitam kesukaan Arga. Hubungan mereka telah menjadi sangat dekat namun Alena masih sedikit meragukan Arga karena pria tersebut belum pernah mengatakan pernyataan cinta secara gamblang.
"Alena, kamu masak apa, Nak?" Tanya Mommy Leona yang sedang melihat Alena sibuk di dapur. Mencium wangi masakan dari Alena tersebut membuatnya penasaran.
"Aku masak capcay dan sapi lada hitam, Mom. Aku ingin membawa makan siang ini ke kantor Mom," Jawab Alena sambil tersenyum. Mommy Leona yang mendengar jawaban Alena tersenyum, dia sangat senang menantunya itu perhatian sekali dengan Arga.
Setelah selesai menyiapkan bekal makan siang, Alena segera bersiap. Dia mengenakan dress selutut berwarna peach yang tampak sangat elegan. Alena berangkat dengan supir, semenjak kejadian yang menimpa Alena, Arga sangat posesif kepadanya. Untuk keluar saja dia harus menggunakan supir, malah Arga mengatakan akan menyewa bodyguard untuk menjaga Alena. Alena menolaknya karena dia tidak menginginkan kebebasannya terusik.
Setelah kurang lebih 45 menit, Alena sampai di perusahan. Dia segera menuju lantai tempat Arga bekerja, namun karena dia merasa kangen dengan teman-temannya dan dilihatnya ini masih terlalu pagi untuk makan siang. Alena menuju ruangan finance terlebih dahulu karena dia juga membawa beberapa jenis kue untuk dibagikan kepada teman-temannya. Beberapa orang yang dia temui bersikap dengan baik tidak seperti dahulu ketika masih salah paham dengan Alena, apalagi Alena merupakan isteri CEO mereka.
"Hai, apa kabar semua?" Alena menyapa teman-temannya yang masih sangat sibuk dan berkonsentrasi dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Beberapa orang menoleh ke arah Alena. Di antara mereka tentunya ada Vania. Alena sangat rindu dengan sahabatnya itu karena terakhir kali mereka bertemu adalah saat di rumah sakit. Selanjutnya, mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel.
Alena meletakkan paper bag berisi makanan tersebut di meja. Dia menghampiri Vania yang masih serius dengan pekerjaannya. Vania tidak menyadari kedatangan Alena dan masih fokus kepada pekerjaannya. Alena menepuk pundaknya pelan, khawatir mengganggu konsentrasi sahabatnya tersebut. Vania menolehkan kepalanya melihat Alena dan tersenyum senang.
"Wah, Alena kamu datang? Aku tidak menyadari kedatanganmu." Vania berdiri dan memeluk sahabatnya itu, dia mengetahui bahwa Alena sudah sembuh. Namun, sedih juga karena Alena sudah tidak bekerja lagi. Mereka tidak bisa bersama-sama makan siang dan melakukan hal yang biasa mereka lakukan. Vania memaklumi keadaan Alena yang tentunya telah berubah menjadi seorang isteri.
"Dari tadi. Kamu sih tidak mendengar sapaaku." Alena sedikit merajuk kepada Vania. Hal yang selama ini dia lakukan. Vania hanya tersenyum melihat sahabatnya itu. Mereka berdua melanjutkan obrolan ringan mereka, beberapa teman satu divisi juga bergabung dengan perbincangan mereka.
Di sisi lain, ada seorang wanita yang ingin masuk ke ruangan Arga namun dicegah oleh salah seorang karyawan Arga.
"Saya ingin bertemu dengan Arga." Seorang wanita yang berpenampilan sexy tersebut terlihat angkuh saat menghampiri resepsionis.
"Maaf, apa Anda telah memiliki janji?" Tanya sang resepsionis dengan sopan kepadanya.
"Janji, janji. Memangnya kalian tidak tahu aku siapa? Aku itu adalah tunangan dari Arga, bos kalian. Jadi, jangan menghalangiku untuk bertemu tunanganku sendiri." Mendengar perkataan wanita itu, sang resepsionis hanya tertawa. Dia telah mengetahui bahwa Arga telah menikah dengan Alena. Jadi, mana mungkin Tuannya itu mempunyai tunangan?
"Maaf Bu, tetapi hanya yang sudah memiliki janji yang dapat bertemu dengan Tuan Arga." Resepsionis itu tetap dengan sabar menghadapi wanita yang halu di depannya.
"Ah sudahlah, aku akan ke atas sendiri. Kamu akan tahu akibatnya karena telah menghalangiku bertemu dengan Arga." Ancam wanita yang ternyata adalah Silvia.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Arga.
"Aku hanya mengunjungi calon suamiku." Jawab Silvia dengan penuh percaya diri. Dia menghampiri Arga dan duduk dimeja di hadapan Arga. Dia ingin menggoda mantan kekasihnya tersebut, dia yakin Alena tidak akan datang ke kantor Arga.
Alena yang telah cukup puas mengobrol sebentar dengan teman-temannya menuju ruangan Arga. Dia ke lantai atas dengan hati yang cukup senang karena telah bertemu dengan teman-temannya.
"Sayang, aku datang." Alena membuka pintu Arga dan terperangah mendapati Silvia sedang memegang bahu Arga. Arga hanya terdiam dan menatap kedatangan Alena.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Alena yang masih mencoba mengontrol emosinya yang hampir meledak.
"Tentu saja aku mengunjungi calon suamiku." Silvia mengatakan hal tersebut sambil tersenyum mengejek.
"Apa yang kau katakan? Dasar ulat bulu! Beraninya kamu menempel dan dekat-dekat dengan suamiku." Alena maju dan menepis kasar tangan Silvia. Silvia yang tidak sigap dengan kedatangan Alena sedikit oleng dan hampir terjatuh.
"Beraninya kamu!" Silvia hendak menampar Alena namun tangannya ditahan oleh Arga yang langsung mencegahnya.
"Jangan berani-beraninya kamu meletakkan tanganmu ke isteriku!" Perkataan Arga penuh dengan ketegasan.
"Pergi dari sini atau aku panggilkan security untuk menyeretmu keluar! Kita sudah tidak ada hubungan dan tidak perlu bertemu kembali! Aku harap kedepannya kamu bisa menjaga perilakumu," Ucap Arga kepada Silvia. Dia tidak ingin ada salah paham dengan Alena, dia harus tegas dan memiliki pendirian.
"Tetapi Arga aku tahu kamu masih mencintaiku kan. Tidak akan semudah itu kamu berpaling dariku. Cintamu sangat besar kepadaku." Silvia mengatakan hal tersebut dengan penuh percaya diri. Dia yakin dia akan bisa menggoyahkan pernikahan Alena dan Arga.
"Tidak ada lagi yang tersisa di antara kita. Aku kini telah menikah dan sangat mencintai isteriku." Kali ini bukan hanya Silvia yang tercengang dengan kata-kata Arga. Alena yang sedari tadi hanya mendengar percakapan antara Arga dan Silvia ikut terkenjut. Dia belum pernah mendengar perkataan cinta dari bibir Arga. Dengan mudahnya Arga mengatakannya di depan mantan kekasihnya. Alena sungguh sebal dengan ulat bulu di depannya ini.
"Jadi, kali ini ku minta kamu pergi dari hidupku! Tidak perlu lagi mengusik kehidupanku." Perkataan Arga tersebut menyurutkan semangat Silvia yang tadinya berniat menghancurkan pernikahan Arga. Silvia yang kesal melampiaskan dengan mendorong Alena dengan penuh tenaga. Alena terkejut dan terdorong hingga perutnya mengenai ujung meja.
"Aw. Sakit." lirih Alena. Arga yang juga terkejut dengan sigap memegang Alena sehingga badan ya tidak terbentur dengan lantai.
"Sakit sekali, Ga. Perutku sakit." Arga melihat yang panik segera menggendong Alena dan keluar dari ruangannya. Silvia yang juga panik mengikuti Arga , dia merasa bersalah telah mendorong Alena.