Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Bertemu Calon Mertua



Selesai dengan sarapannya, Adam terlebih dahulu memesankan baju yang akan dipakai oleh Vania. Vania tidak mungkin memakai baju yang semalam telah dia pakai karena baju tersebut sudah tidak layak lagi untuk dipakai.


"Aku antarkan kau pulang sekarang? atau nanti siang setelah makan siang saja? Saat ini, aku sedang ada beberapa pekerjaan. Kalau kau bosan kau dapat menonton film sambil menungguku selesai memeriksa beberapa laporan." Vania hanya mengangguk saat Adam mengatakan hal tersebut, sehingga Adam melanjutkan pekerjaannya.


"Ya, setelah selesai makan siang saja kalau kau banyak pekerjaan," jawab Vania sambil fokus melihat channel film yang ingin dia tonton.


"Kamu selalu seperti ini? Bekerja saat hari libur?" Vania melirik pria yang sedang duduk di sampingnya dan sibuk dengan ponselnya.


"Ya begitulah. Banyak pekerjaan yang harus kulakukan dan tidak cukup jika hanya dikerjakan weekday." Adam menjawabnya sambil masih melihat pekerjaan yang ada di ponselnya.


"Dasar workcaholic." Vania mengalihkan fokusnya pada film yang dia tonton. Adam hanya tetap menatap layar ponselnya memeriksa pekerjaannya.


Setelah makan siang, Adam mengantarkan Vania ke rumahnya. Sepanjang jalan menuju rumah Vania, terdapat sebersit perasaan yang mendebarkan, Adam sedikit berdebar membayangkan bertemu dengan orang tua Vania. Namun, dia menutupinya dengan tetap bersikap tenang dan memakai topeng pria cool. Berbanding terbalik dengan Vania yang gugup, dia takut dan bingung pasti nanti orang tuanya sudah berpikiran macam-macam karena semalam dia menginap di tempat Adam.


...🍃🍃🍃...


Tiba di rumah Vania, dia disambut oleh orang tua dan kakak laki-laki Vania yang sudah ingin menyidang Vania. Vania memiliki kakak laki-laki yang bernama Gio, kakaknya sudah berumah tangga dan tinggal bersama keluarga kecilnya. Melihat Gio yang berada di rumahnya membuat Vania keringat dingin. Habis sudah!


"Masuk kamu ke kamar, Vania!" Dengan nada memerintah, Gio memerintahkan adik satu-satunya itu untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Tapi Bang." Vania menatap Adam dengan tatapan yang memelas, dia belum memberitahukan Adam tentang kakaknya. Kakaknya sangat protektif terhadapnya, kemarin saat melakukan kencan buta dia sengaja tidak memberitahukan kakaknya itu karena takut akan diikuti. Namun, kejadian semalam sangat memberikan Vania pelajaran bahwa kita memang harus berhati-hati bila ingin berkencan apalagi dengan orang yang baru pertama kali kita temui.


"Tidak usah tapi-tapian. Cepat kamu segera masuk." Dengan pasrah Vania masuk ke dalam rumah dan segera menuju ke kamarnya. Dia sebenarnya ingin mengintip dan mencuri dengar pembicaraan kedua orang tuanya, kakak, dan Adam. Dia khawatir Adam akan dijadikan s*msak oleh kakaknya yang sangat galak dan protektif.


"Ehm, silakan duduk." Setelah interaksi antara Vania dan abangnya yang cukup sedikit mendramatisir. Papa dari Vania tetap mencoba untuk berbicara dengan kepala dingin, Papa Doni mempersilakan Adam untuk duduk.


"Terima kasih, Pak." Adam dengan sopan dan bersikap dengan tenang duduk di hadapan tiga orang yang sepertinya siap untuk menginteogasinya. Dia harus tetap bersikap dengan tenang agar dapat mengatasi masalah yang dia timbulkan sendiri.


"Jadi, sekarang Anda bisa menjelaskan hal yang terjadi pada Vania." Papa Doni kembali membuka pembicaraan namun dia masih dapat bersikap dengan tenang berbeda dengan Gio yang sudah ingin menghajar orang yang ada di depannya tanpa tahu kejadian yang sebenarnya.


Adam menjelaskan dari awal tentang kencan buta Vania dengan orang yang bernama Dewa. Kejadian masuk ke dalam Club Malam juga tidak luput dari penjelasan Adam. Dewa yang dengan tega berbuat hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Vania, semua diceritakan oleh Adam. Hingga sampai pada akhirnya dia menceritakan tentang perbuatannya terhadap Vania.


"Seharusnya kau tidak melakukan hal tersebut pada adikku." Gio yang sudah diliputi dengan amarah, menghajar wajah Adam. Adam hanya pasrah menerima semua yang dilakukan oleh Gio.


"Hentikan! Adam sudah mengatakan tidak ada cara lain. Kalau tidak adikmu akan dalam bahaya." Papa Dion mencegah anaknya untuk menghajar Adam dengan emosi yang meliputinya saat ini.


"Tapi, Bagaimana dengan masa depan Vania? Siapa yang mau menikah dengannya." Gio masih dengan menahan amarahnya, menangisi nasib adik yang sangat dia sayangi. Gio menyesalkan Vania yang menggunakan aplikasi perjodohan tersebut untuk mencari teman kencan.


"Ini semua salah Mama. Seharusnya, Mama tidak mendesaknya untuk menikah sehingga Vania tidak melakukan kencan buta seperti itu." Mama Heni sangat terpukul mendengar kejadian yang menimpa putrinya, ingin menyalahkan Adam namun dia tidak kuasa karena berkatnya Vania awalnya terhindar dari bahaya.


"Aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahi Vania." Saat Adam mengatakan hal itu, Vania keluar dari kamarnya karena mendengar keributan di ruang tamu. Dia sudah tidak tahan untuk tidak melihat yang terjadi di ruangan itu.


"Tidak perlu, Pak!" ucapan Vania yang lantang membuatnya menjadi pusat perhatian dari delapan pasang mata yang memandangnya dengan berbeda.


...🍃🍃🍃...


Hai, sebelum aku update episode selanjutnya.


Aku punya rekomendasi bacaan bagus yang dapat dibaca. Yuk segera kepoin karya temanku ini..