
Fina yang merasa tertipu dengan Anggi dan Intan sangat merasa malu apalagi dirinya hampir melakukan tindakan yang tidak terpuji kepada Vania. Dia menundukkan kepalanya tidak berani untuk memandang Adam yang ada di depannya. Ketegangan tiba-tiba terjadi di ruangan Adam yang luas ini, Fina masih saja menundukkan kepalanya dia berpikir cara yang tepat untuk menghilangkan rasa bersalahnya ini kepada Vania.
"Maaf Pak. Saya tidak mengetahui kejadian tersebut, saya kira mereka hanya merundung Alena seperti layaknya adu mulut dan tidak terjadi tindak kekerasan. Hal tersebut karena saya memercayai rumor yang beredar. Saya mohon maafkan kesalahan saya, Pak." Fina yang tadinya hanya menundukkan kepala mulai mendongakkan kepalanya menghadap Pak Adam. Adam menatap wanita di depannya ini dengan pandangan yang menilai, menimbang sanksi apa yang harus diberikan olehnya untuk Fina. Kalau kali ini Fina diberikan sanksi yang berat tentunya hal tersebut dapat membuat masalah kembali karena dia belum melakukan tindakan kekerasan yang ekstrim. Namun, bila tidak diberikan sanksi dikhawatirkan akan ada yang melakukan perundungan kembali kepada Vania.
"Seharusnya kamu meminta maaf kepada Vania. Bukan kepadaku." Adam menaikkan alisnya sambil memberikan kode bahwa dia harus meminta maaf kepada Vania. Fina dengan ragu menatap wajah Vania yang melihat wanita disampingnya dengan tatapan datarnya.
"Maafkan aku, Van. Aku tidak mengetahui kejadian yang terjadi pada Alena." Dengan tulus Fina meminta maaf kepada Vania. Adam yang melihat hal tersebut hanya tersenyum, dia merasa seperti Guru Bimbingan Konseling yang mendamaikan muridnya setelah mereka berkelahi.
"Baiklah, aku memaafkanmu." Setelah lama Vania terdiam akhirnya dia membuka suaranya. Vania memaafkan Fina karena sudah meminta maaf dengan tulus.
"Baiklah kalau begitu masalah ini telah selesai. Untuk Fina kamu tetap akan saya berikan surat peringatan sebagai sanksi untukmu agar tidak melakukan hal seperti ini lagi," kata Adam sambil melipat kedua tangannya.
"Kalian bisa kembali lagi ke tempat dan langsung bekerja. Jangan melakukan hal yang tidak perlu dan jangan mempercayai rumor kalau belum memiliki bukti yang konkret." Adam memberikan peringatan kepada Fina maupun Vania. Kedua wanita tersebut berdiri dan hendak keluar ruangan.
"Tunggu Vania. Tetap di sini, ada yang saya ingin bicarakan denganmu." Vania akhirnya duduk kembali di depan kursi yang berhadapan langsung dengan Adam. Fina mengerling Vania sebentar, jiwa penasarannya ikut bergejolak tetapi dia segera sadar bila rasa penasarannya tersebut kelak bisa menjadi bumerang bagi dirinya. Fina keluar dari ruangan ini dengan cepat dan mengenyahkan rasa penasaran yang melanda dalam dirinya.
***
Sementara itu, Alena yang telah mengetahui kejadian yang menimpa Vania mengkhawatirkan sahabatnya tersebut. Dia mencuri dengar pembicaraan antara Arga dan Adam yang kebetulan setelah pulang kerja Adam mengunjungi Mansion Wijaya untuk meminta tanda tangan beberapa berkas. Setelah kepulangan Adam, Alena termenung di kamarnya sambil duduk ditempat tidur yang berada di kamarnya. Sudah dua hari semenjak kepulangan Alena dari rumah sakit Arga selalu berada di sampingnya. Pria tersebut belum datang ke kantor karena kegiatannya masih dapat dihandle oleh Adam. Arga memasuki kamar mereka dan melihat Alena yang termenung, dia mendekati Alena.
"Aku tadi mendengar pembicaraan antara dirimu dan Adam. Apakah Vania mengalami kejadian seperti yang aku alami?" Raut wajah Alena seperti memiliki banyak beban di dalamnya..
"Tidak, itu hanya kejadian kecil saja. Mereka tidak melakukan tindakan kekerasan seperti yang terjadi pada dirimu." Jawaban Arga tersebut membuat Alena menghembuskan napasnya, dia sangat lega mengetahui sahabatnya tidak mengalami hal yang dia alami. Namun, wanita ini nampak berpikir kembali. Kalau seperti ini terus sampai kapan rumor itu terus berhembus.
"Ada apa lagi?" Arga yang sepertinya telah mulai memahami karakter Alena yang tidak enakan atau sering overthinking menjadi bertanya kembali kepada Alena.
"Itu, apa tidak sebaiknya aku kembali bekerja saja? Sehingga, rumornya akan menghilang begitu saja kan? Kalau aku tiba-tiba resign memang mereka pasti bertanya alasanku. Mereka akan terus penasaran akan hubungan yang kita miliki." Alena mengusulkan hal yang tidak akan mungkin Arga izinkan. Setelah kejadian tersebut Arga berjanji tidak akan membiarkan lagi Alena bekerja apalagi bekerja kembali di kantornya.
"Tidak! Aku tidak setuju. Lebih baik kita umumkan tentang pernikahan kita dibandingkan dengan kamu kembali lagi bekerja di perusahaan. Tidak menutup kemungkinan ada orang yang berperilaku sama seperti kedua orang yang menyakitimu." Alena memaklumi kekhawatiran Arga sehingga dia terdiam saja dan tidak dapat menanggapi perkataan Arga.
"Bagaimana? Apa kau setuju mempublikasikan hubungan kita? Hal tersebut juga akan menolong temanmu Vania, dia tidak akan terus diberondongi pertanyaan tentang hubungan kita. Sehingga orang di kantor juga tidak ada yang berani menghina bahkan membicarakanmu dengan pemberitaan yang tidak baik." Alena membenarkan perkataan yang diutarakan oleh Arga. Dengan mempublikasikan pernikahan mereka tentunya para karyawan jadi tidak memiliki pikiran yang negatif terhadap Alena. Apalagi mereka selama ini hanya menduga bahwa Alena adalah simpanan Arga.
"Baiklah. Kita publikasikan saja hubungan pernikahan kita di perusahaan agar kedepannya tidak ada lagi yang bisa berbicara tidak baik tentang hubungan kita." Arga tersenyum mendengar perkataan Alena tersebut. Dia sudah menunggu Alena sendiri yang ingin mempublikasikan pernikahan mereka walaupun hanya dalam lingkup perusahaan tentunya itu merupakan langkah yang baik baginya.
"Baiklah, aku akan meminta Adam untuk mempersiapkan publikasi hubungan kita di perusahaan." Arga segera meraih ponselnya dan menghubungi sekretarisnya itu untuk menyiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk mempublikasikan hubungannya dengan Alena.