Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Status Alena



Pertanyaan dari Vania tersebut membuat Adam ragu bahwa Alena telah memberitahukan sahabat dari istri CEOnya tersebut. Adam menatap Vania cukup lama sebelum menjawab pertanyaan dari Vania.


"Memangnya Anda pikir apa status Nona Alena sekarang?" Ditanya balik oleh sekretaris Tuan Arga tersebut membuat Vania meneguk ludahnya sendiri.


Pikiran liar Vania merujuk pada gosip dan rumor yang ada bahwa Alena adalah simpanan Tuan Arga. Namun, mendengar perkataan Tuan Arga terlebih kekhawatiran yang terlihat jelas, Vania berpikir pasti Alena merupakan istri dari CEO mereka.


"Bagaimana bisa? Alena tidak pernah menceritakan hal tersebut padaku." ucap Vania pelan sambil masih memikirkan kejadian yang dilihatnya di rumah sakit.


"Apa kamu mempercayai rumor yang terlanjur tersebar di antara para karyawan? atau kamu percaya pada yang terlihat hari ini?" Lagi-lagi sekretaris Arga tersebut malah bertanya balik kepadanya.


Kesal dengan jawaban Adam dia berdiri dan menghentak-hentakan kakinya kemudian berjalan menuju ruangan rawat Alena. Ternyata Alena sudah sadar ,tetapi masih dalam keadaan lemah.


"Vania, kamu di sini?" Alena terkejut melihat sahabatnya berada di ruang rawatnya. Tangan Arga yang masih menggenggam tangan Alena serta wajah yang masih khawatir itu menjelaskan semua hal dengan jelas.


"Iya Alena. Aku... Hmm." Vania terbata-bata sambil melirik Arga yang masih setia berada di dekat Alena.


"Arga, aku ingin bicara berdua saja dengan Alena. Kamu bisa meninggalkan aku sebentar?" Alena yang mengerti kecanggungan Vania , dengan pelan mencoba berbicara agar Arga meninggalkan mereka berdua sebentar sehingga mereka lebih leluasa untuk berbicara.


"Tidak, aku akan tetap di sini. Kalian berdua berbicara saja," ujar Arga dengan tegas. Alena menghela napasnya, memang hubungan keduanya baik malah sangat baik. Arga yang sekarang sangat posesif dengannya, apalagi setelah kejadian ini menimpa Alena.


"Kamu pindah dulu ke sofa sebentar aku ingin berbicara dengan Vania. Please." Alena memohon sambil menampilkan raut muka yang benar-benar membuat Arga tidak bisa menolak permintaan Alena.


"Baiklah kalau begitu. Aku tunggu di sofa saja." Bangkit dari duduknya, Arga menuju sofa yang ada di surut ruangan. Dia membuka tabletnya sambil mengecek email mungkin masuk.


Keadaan kedua sahabat tersebut diliputi keheningan. Vania yang memang sudah beberapa hari ini mendiamkan Alena serta bersikap ketus terhadapnya menjadi canggung. Apalagi ada kejadian yang membuat Alena harus berbaring di rumah sakit dengan luka di sekujur tubuhnya. Alena yang mengerti kecanggungan Vania ingin berusaha duduk terlebih dahulu agar nyaman untuk berbicara dengan sahabatnya tersebut.


"Aduh. Aw.." Ternyata menggeser badannya saja, terasa sangat sakit bagi Alena. Pinggang dan perutnya sangat nyeri karena tendangan yang diberikan oleh Anggi dan Intan.


"Alena, kamu tidak perlu duduk. Berbaring saja." Vania membantu Alena untuk berbaring di kondisi semula. Arga yang duduk di sofa sudah ingin bangkit namun Alena memberikan kode dengan matanya meminta pria tersebut untuk tetap duduk di tempatnya sekarang.


"Iya, badanku sakit semua. Huh." Alena mendengus kesal karena keadaannya.


"Aku minta maaf, Alena. Ini semua mungkin tidak terjadi kalau kamu ikut dengan mobilku." Dengan sedih Vania menggenggam tangan dari Alena. Matanya sudah berkaca-kaca melihat keadaan Alena, di pipi sahabat cantiknya itu bahkan tercetak bekas tangan dan meninggalkan memar-memar yang kini sedikit membiru. Sedikit meringis, Vania menitikkan air matanya.


"Tidak Van, ini bukan salahmu. Dasar mereka saja yang julid dan aneh. Mau tahu saja urusan orang lain." Alena mengungkapkan kekesalannya sambil bersungut-sungut.


"Tapi, aku yang memberitahukan kepada Anggi dan Intan kalau kamu pernah makan siang bersama Tuan Arga bahkan berciuman." Alena memelototkan matanya mendengar perkataan Vania.


"Aku pernah mengikutimu karena penasaran dan juga terdapat gosip tentang dirimu," jelas Vania yang menundukkan kepalanya.


Terdiam beberapa saat, Alena menghembuskan napasnya. Alena menyadari bahwa statusnya sebagai isteri dari Arga tentu tidak dapat terus disembunyikan. Cepat atau lambat tentu hal ini akan terkuak. Dari awal Arga sudah mengatakan bahwa dia tidak keberatan bila status mereka diketahui oleh publik, tetapi Alena masih belum menginginkan hal tersebut diketahui oleh orang lain selain keluarganya. Sehingga, terjadilah kejadian yang menimpanya saat ini.


"Itu aku yang salah. Seharusnya aku memberitahukannya paling tidak padamu agar kamu tidak salah paham dengan hubunganku dengan Arga," jelas Alena.


"Jadi, benar kamu adalah isteri Tuan Arga?" Akhirnya pertanyaan tersebut keluar dari mulut Vania, pertanyaan yang sudah dari tadi sudah mengganjal di hatinya.


"Iya benar, aku adalah isteri Arga." Alena mengaku pada Vania sambil tersenyum kaku.


"Hah? Bagaimana bisa?" tanya Vania kembali sambil memekik kaget. Alena yang melihat reaksi dari sahabatnya tersebut malah memonyongkan mulutnya. Arga yang berada di sofa melirik dan menyunggingkan senyumnya, sedari tadi pria tersebut mencuri dengar perkataan kedua wanita di sampingnya namun dia pura-pura sibuk dengan memainkan gawainya.


"Memangnya aneh ya kalau aku adalah isterinya Arga? Kamu yang sahabatku saja malah ikutan mendugaku adalah simpanan Arga." Pertanyaan Alena itu membuat sahabatnya nyengir. Dia mengerti kekesalan Alena yang hanya dianggap simpanan CEO mereka.


"Ya, tentu saja aneh. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba kamu sudah menikah. Bahkan menikah dengan CEO di perusahaan kita. Siapa yang menyangka kalau kamu adalah isterinya?" ujar Vania dengan jujur.


"Ya bisalah. Buktinya aku sekarang isterinya Arga." Alena mengatakan hal tersebut dengan raut wajah kesal.


"Apa Arga adalah teman kencan butamu itu? Yang diminta Kakekmu untuk bertemu?" tanya Vania yang masih penasaran kisah Alena dan Arga.


"Iya, Arga adalah pria itu, teman kencan butaku." kata Alena.


"Wah, hebat sekali Kakekmu ya bisa berkenalan dengan Tuan Arga." Vania mengagumi Kakek Aditya yang bisa berkenalan dengan Arga.


"Bukan, bukan dengan Arga. Kakekku adalah teman baik Kakeknya Arga. Jadi, ya begitulah kami dijodohkan." Alena merasa tidak perlu ada yang disembunyikan di antara mereka. Sehingga wanita tersebut mengobrol ringan sampai tidak terasa waktu telah larut malam.


Arga menghampiri kedua wanita tersebut dan meminta Alena untuk beristirahat agar Alena dapat segera pulih. Vania akhirnya berpamitan kepada Alena dan Arga, namun Alena meminta Adam untuk mengantarkan Vania pulang karena sudah larut malam.


"Tuan, ada yang ingin saya bicarakan terlebih dahulu." Adam yang diminta mengantarkan Vania memasuki ruangan dan meminta berbicara terlebih dahulu pada Arga.


"Ada apa?" tanya Arga.


"Bagaimana dengan perbuatan kedua wanita tersebut? Apakah perlu melaporkan kasus kekerasan ini ke polisi?" tanya Adam dengan raut muka serius.


"Jangan!!!" Semua mata yang berada di ruangan ini tertuju pada Alena yang mengatakan hal tersebut dengan lantang.