Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Tidak Bisa Memilih



"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, apa yang kamu lakukan di rumah sakit ini? Siapa wanita ini?" Vania bertanya dengan menatap Adam dengan sengit.


Adam menatap Vania dengan pandangan sendu, dia harus menjelaskan kepada Vania siapa Clara sebenarnya agar tidak terjadi kesalah pahaman yang terus berlanjut. Adam memerhatikan Vania yang terlihat pucat. 2 Minggu tidak melihat calon isterinya itu terjadi beberapa perubahan kepada dirinya. Wajah Vania terlihat sangat kusut dan seperti habis menangis. Adam merasa sangat bersalah karena mengira Vania menjadi seperti itu pasti dialah salah satu penyebabnya.


"Maaf Sus, saya mempunyai urusan terlebih dahulu. Bisa antarkan saja Clara untuk melakukan kontrol dengan dokter." Adam menyerahkan Clara kepada suster yang mendampingi mereka menuju ruang dokter.


"Tapi, Adam aku ingin kamu mendampingku." Clara merengek kepada Adam sambil memegang tangannya. Dia menginginkan perhatian Adam hanya tertuju padanya, dia tahu itu adalah bentuk keegoisan dirinya. Namun, dia sangat menginginkan Adam terus mendampingi dirinya di saat-saat terakhir hidupnya.


"Tolong mengerti Clara, aku harus menjelaskan kepada calon isteriku agar dia tidak salah paham." Adam masih dengan sabar memberikan pengertian kepada Clara, dia tidak ingin terus menerus terjebak pada kondisi ini. Namun, dia tidak kuasa untuk menolak permintaan Clara. Clara yang merupakan mantan kekasih yang pernah dia cintai, sedangkan Vania adalah calon isterinya, masa depannya berada bersama Vania.


Vania menatap wanita cantik yang duduk di kursi roda itu, pandangannya menelisik ingin mengetahui hubungan Adam dengan wanita yang sepertinya sedang memiliki penyakit serius. Dia tidak ingin berburuk sangka kepada kekasihnya, namun melihat interaksi keduanya tentunya Vania jadi salah paham dengan kedekatan mereka. Clara juga menatap Vania dengan pandangan menilai, dia dari kemarin sudah ingin mengetahui wanita yang akan mendampingi Adam seumur hidupnya. Posisi yang sangat diinginkan oleh Clara, tetapi tidak dapat dia raih. Namun, saat ini dia ingin terus bersikap egois dengan memanfaatkan penyakitnya untuk menahan Adam di sisinya kalau perlu Adam tidak boleh menikah dulu sebelum dia pergi meninggalkan dunia yang baginya kejam.


"Clara, please." Adam memohon agar Clara memberikan waktu kepadanya untuk menjelaskan kepada Vania.


"Baiklah, tetapi aku akan tetap menunggumu hari ini kamu harus menjagaku." Adam hanya menganguki perkataan Clara lalu menggandeng Vania. Vania menatap tajam Clara yang tersenyum sinis kepadanya, lalu dia mengikuti Adam.


Adam membawa Vania ke sebuah taman di belakang rumah sakit, saat ini mereka duduk berdampingan di sebuah kursi taman. Adam masih dengan diamnya belum memulai pembicaraan dengan Vania. Vania menunggu Adam memulai pembicaraan yang terasa seperti seabad, prianya seperti tidak dapat memulai penjelasan yang harusnya dia katakan kepada Vania.


"Jadi, siapa perempuan itu? Mengapa kamu tidak dapat aku hubungi selama 2 Minggu ini? Aku sangat lelah menanti kabar darimu. Ingin rasanya aku bertanya kepada Tuan Arga, namun aku sungkan." Vania meminta penjelasan kepada Adam karena melihat tidak ada inisiatif pria tampan berkacamata itu untuk menjelaskan kepadanya.


Adam menghela napasnya sejenak, dia sudah tahu akhirnya akan tiba. Dia harus menjelaskan semua tentang Clara kepada Vania. Dia berhak tahu karena nantinya Vania akan menjadi isteri Adam. Dua Minggu lagi seharusnya mereka menikah, namun Dirinya malah tidak dapat dihubungi dan membuat calon isterinya itu cemas.


"Dia adalah Clara, dua minggu yang lalu dia menghubungiku untuk bertemu. Dia adalah mantan kekasihku, aku menjenguknya saat itu lalu dia memintaku untuk menemaninya selama masa pengobatannya, dia mempunyai penyakit kanker otak stadium akhir." Adam dengan suara yang pelan dan tenang menceritakan tentang Clara dan penyakitnya kepada Vania.


"Lalu, sampai kapan kamu akan menemaninya? Sebentar lagi kita akan melangsungkan pernikahan, harusnya kamu dapat menceritakannya terlebih dahulu kepadaku jadi aku tidak mencemaskan keadaanmu. Membalas pesanku pun kamu tidak bisa." Vania menumpahkan segala kegundahan hatinya kepada Adam, dia tidak habis pikir pesan yang sudah diberikan kepadanya mengapa tidak dibalas. Sesibuk itukah menemani orang sakit sehingga tidak ada waktu untuk sekedar membalas pesannya.


"Mengapa kamu putus dari Clara?" Adam mengerinyit bingung menjawab pertanyaan Vania dulu Clara tanpa kata meninggalkannya lalu sekarang hadir kembali, bisa dibilang tidak ada kata putus di antara mereka.


"Kamu tidak pernah bisa dikatakan putus, dia yang meninggalkanku karena penyakit yang dideritanya. Dia tidak ingin aku mengetahui penyakitnya dan dia menjauhiku." Clara memang telah menjelaskan kepada Adam alasan dia pergi dari sisi Adam.


"Lalu, bagaimana dengan pernikahan kita?" Kali ini tidak ada ketegaran lagi di wajah Vania, wanita itu menatap Adam dengan sendu. Dia masih belum memeriksakan kondisinya sendiri yang kemungkinan sedang mengandung tetapi dia tidak ingin egois dengan memaksa Adam yang masih dipenuhi bayangan masa lalunya. Dia tidak ingin Adam memulai pernikahan mereka dibayangi oleh Clara, Vania masih dapat melihat cinta yang tersisa untuk Clara.


Adam tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan dari Vania. Dia saja belum dapat menentukan sampai kapan dia menemani pengobatan Clara. Namun, dia tidak ingin lari dari tanggung jawab, pria itu telah merusak masa depan Vania karena itulah dia harus menikahinya. Akan tetapi, kedatangan Clara membuatnya goyah dia tidak mungkin menikahi Vania sedangkan Clara terus merengek untuk minta ditemani. Orang tua Clara pun terus memohon untuk menemani Clara agar putri mereka memiliki semangat untuk terus hidup.


"Jadi, bagaimana? Apa keputusanmu? Apakah tetap menemani Clara sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan atau kita akan menikah dua minggu lagi? Aku tidak ingin menikah dengan dibayang-bayangi masa lalumu yang belum selesai. Kamu harus menyelesaikan dahulu masa lalumu dengan Clara." Vania mengucapkan kalimat demi kalimat dengan parau. Dia saat ini menahan tangisnya. Sudah dari pagi dia menangisi Adam yang tidak mempedulikannya, ternyata pria yang menjanjikannya masa depan yang manis sedang sibuk bersama mantannya.


"Aku ingin kita menikah, tetapi aku juga ingin terus menemani Clara. Kita mungkin bisa bersama mendampingi Clara untuk melewati masa sulitnya," ucap Adam dengan tidak memikirkan perasaan Vania.


"Jika kita menikah nanti aku harap tidak ada orang ketiga di antara kita. Maka, saat ini aku ingin kamu memilih. Aku atau Clara, mantan kekasihmu?" Dengan tegas Vania bertanya kepada Adam yang terkesan plin plan. Adam terdiam beberapa saat.


"Aku tidak bisa memilih. Kalian sama berartinya bagiku," jawab Adam yang membuat Vania menatapnya sendu dengan sikap pria di sampingnya.


"Haruskah kita membatalkan pernikahan ini?" Vania kembali bertanya, Adam yang mendengarnya terkejut dia tidak menyangka Vania berpikir untuk membatalkan pernikahan mereka yang sudah di depan mata.


...🍃🍃🍃...


Hallo, sebelum aku update bab selanjutnya. Aku punya rekomendasi bacaan seru sambil menunggu aku update. Yuk dibaca karya temanku ini. ❤️