Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Permintaan Clara



"Membatalkan pernikahan?" Adam mengulangi perkataan Vania, dia tidak menyangka Vania ingin membatalkan pernikahan mereka.


"Tidak. Kita akan menikah, tidak ada yang namanya pembatalan pernikahan. Kita akan tetap menikah." Adam tetap tidak ingin membatalkan pernikahan mereka. Vania kesal dengan tingkah laku pria di sampingnya, untuk apa menikah bila pernikahan mereka dibayangi dengan masa lalu.


"Aku akan tetap memberitahukan orang tua kita bila kamu ragu untuk menikah." Vania sudah lelah dengan semua ini, mendadak kepalanya sangat pusing memikirkan masa depannya sendiri. Vania sudah akan berdiri meninggalkan Adam. Namun, Adam memegang tangan Vania untuk mencegah kepergiannya.


"Tolong, paling tidak kita tunda saja pernikahan kita sampai Clara sembuh, aku sangat tidak tega kepadanya. Aku hanya melakukannya demi kemanusiaan tidak ada hal lebih yang aku rasakan kepadanya." Adam memohon pada Vania untuk menunda pernikahan mereka, wanita itu menghela napasnya. Dia tidak menyangka pemikiran untuk menunda pernikahan dapat dilontarkan oleh Adam.


"Menunda sampai kapan? Sampai Clara sembuh? Kapan dia akan sembuh? Aku bukanlah orang yang begitu mudah membiarkan orang ketiga untuk masuk ke dalam hubungan kita. Dua Minggu ini saja kamu tidak pernah menghubungiku sama sekali. Kalau nanti aku mengiyakan usulmu, berapa lama aku harus menunggu? Sebulan, setahun, sepuluh tahun?" Vania mengatakan dengan menggebu-gebu. Dirinya sudah sangat terkejut mengetahui Adam selama ini menemani Clara di rumah sakit.


"Kamu menemani Clara dua Minggu ini saja tidak bisa memberitahukanku sama sekali. Lalu, kamu ingin menemaninya selama pengobatannya? Setelah sembuh kamu kembali bersama Clara kan? Lalu, Bagaimana denganku?" Vania bertanya pada Adam lagi, Adam hanya terdiam tidak dapat menjawab semua pertanyaan yang Vania lontarkan. Pertanyaan tersebut seolah memberitahukan bahwa dia adalah orang yang sangat plin plan dan tidak mempunyai pendirian.


"Aku saja yang akan mengatakannya pada orang tua kita. Aku akan membatalkan pernikahan kita!" Dengan penuh emosi Vania mengatakan hal tersebut, lalu dia pergi dan beranjak dari tempat mereka duduk.


Vania segera berlalu meninggalkan Adam yang hanya mematung mendengarkan perkataan Vania. Dia sendiri sangat heran dengan dirinya yang tidak memiliki pendirian, Adam mudah luluh dengan Clara yang setiap hari memohon untuk ditemani setiap harinya. Di satu sisi, dia sangat menginginkan Vania menjadi isterinya bukan hanya karena rasa tanggung jawabnya kepada wanita itu, ada perasaan yang dalam yang dia rasakan untuk Vania. Namun, Vania tidak mudah dibujuk dan menerima kehadiran Clara d iantara mereka.


Vania terus berjalan memasuki rumah sakit, dia ingin segera memeriksakan kondisinya sendiri. Dia harus memastikan kalau memang dia tidak berbadan dua dan tidak perlu meminta pertanggung jawaban dari Adam. Vania sudah tidak mempercayai janji Adam yang membuatnya melayang karena menginginkan pernikahan yang manis , tetapi pria itu malah menjatuhkannya sejatuh jatuhnya sebelum janji itu dapat dilaksanakan.


Vania berjalan tanpa melihat kanan dan kirinya karena fokusnya telah teralihkan oleh pembicaraannya dengan Adam yang berakhir tidak mengenakkan.Tanpa sengaja Vania ingin menabrak kursi roda seseorang.


"Ah, maaf maaf." Vania meminta maaf kepada seorang wanita yang duduk di atas kursi rodanya.


"Tidak apa-apa, Nona." Wanita tersebut tersenyum dan melihat orang yang menabraknya. Vania juga melihat wanita itu sehingga mereka berdua bertatapan. Vania langsung menegakkan tubuhnya dan ingin berjalan kembali. Namun, kepergiannya dicegah oleh suara wanita tersebut.


"Tunggu, Nona. Sebaiknya kita harus bicara!" Vania menoleh dengan malas, dia melihatnya mantan kekasih Adam. Sumber semua kegelisahannya dua Minggu ini, orang yang entah tahu atau tidak telah menghancurkan impiannya untuk menikah dengan Adam.


"Sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan." Vania sudah ingin berjalan meninggalkan Clara, namun dicegah oleh wanita yang terlihat sangat kurus itu.


"Kumohon, aku ingin mengatakan suatu hal kepadamu!" Clara memohon pada Vania agar mereka dapat berbicara.


Keheningan melanda ruang rumah sakit, Vania hanya terdiam tidak ingin memulai pembicaraan di antara keduanya. Clara mengamati Vania dengan intens, pantas saja Adam selalu memikirkan Vania. Wanita di depannya sangat cantik, dengan wajah yang sangat khas Indonesia berkulit kuning langsat dan rambut hitam lurus.


"Ehm, lebih baik kita saling mengenal dulu. Aku Clara," ucap Clara sambil mengulurkan tangannya.


"Vania," kata Vania yang menyambut uluran tangan Clara.


"Jadi, aku ingin meminjam Adam untuk menemaniku selama masa pengobatanku." Tanpa malu dia mengatakan hal yang membuat Vania meradang. Vania menaikkan alisnya dan tersenyum dengan sinis ke arah Clara.


"Adam bukan barang! Dia tidak bisa dipinjam!" Vania mengatakan dengan nada sinis yang dirasakan juga oleh Clara.


"Maksudku, dia hanya menemaniku selama masa pengobatanku. Lalu, kalian bisa tetap melangsungkan penikahan kalian," ucap Clara dengan senyum yang terbit di wajahnya.


"Aku hanya meminta kepadamu untuk mengizinkan Adam mendampingku karena di sisa hidupku ini ingin aku lalui bersama orang yang aku cintai dengan Adam." Clara mengucapkannya tanpa memikirkan perasaan Vania.


Pintu ruang rawat diketuk oleh seseorang, Adam terlihat masuk ke ruangan Clara di rawat. Vania hanya menatap Adam dengan tatapan datar, dia sudah tahu bahwa Adam akan kembali ke ruangan ini, namun tetap saja terasa sakit yang dia rasakan karena tadi Adam tidak mencegah kepergiannya sama sekali.


"Tidak perlu meminta izin kepadaku karena kamu bisa langsung menanyakan kepada orangnya langsung!" Vania menatap Adam yang terlihat kebingungan melihatnya di sini.


...🍃🍃🍃...


Hallo, sebelum aku update bab selanjutnya.


Aku punya rekomendasi bacaan seru nih. Yuk mampir ke karya temanku. ❤️