Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Pernyataan Arga



Setelah kepergian Helga, Arga bernapas lega. Tadinya, dia sudah berpikiran yang buruk tentang kedatangan Helga. Namun, hal itu dapat ditepis dari perkataan dan janji Helga. Arga meminta Adam untuk mengurus semua yang berkaitan dengan Silvia. Dia tidak ingin berhubungan langsung dengan hal itu, karena fokusnya sekarang adalah isterinya.


"Kamu tidak menjenguk, Silvia?" Tiba-Tiba Alena berkata kepada Arga yang telah menghubungi Adam untuk mengurus keperluan Silvia.


"Hmm, untuk apa?" Arga mengatakan dengan nada datar seperti mengomentari cuaca hari ini. Alena memandang Arga dengan tatapan tajam. Dirinya teringat dengan perkataan Arga kepada Silvia tentang pernyataan cinta Arga kepadanya. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu pada Silvia.


"Kamu berhutang kepadaku!" Pikiran random yang dimiliki oleh Alena memang sudah menjadi hal biasa bagi Arga. Saat ini, pria yang diteriaki Alena itu berpikir hutang yang mana yang harus dia bayar. Dia tidak memiliki kesalahan apa pun.


"Apa maksudmu?" Arga melihat Alena memanyunkan bibirnya, wanita yang telah menarik semestanya itu mengalihkan pandangan ke arah lain. Arga jadi gemas karena kelakuan ibu hamil di depannya ini.


"Hmm.. Aku.. Aku.." Alena hanya gugup dan memegangi rambutnya. Dia malu untuk mengatakan kepada Arga jika dia ingin mendengar kembali pernyataan cinta Arga. Bukan karena dorongan dari Silvia atau siapapun tetapi dari keinginan Arga sendiri untuk menyatakan cintanya kepada Alena.


"Apa? Kamu kenapa?" Arga memegang bahu Alena dan mengalihkannya sehingga mereka berdua saat ini berhadapan. Pria itu mengerinyit bingung karena Alena masih tidak ingin berbicara.


"Aku bukan dukun yang bisa tahu hal yang ingin kau sampaikan. Cepat katakan!" Arga malah terus mencoba untuk membujuk Alena agar mengatakan hal yang diinginkannya. Dengan ragu-ragu Alena mengeluarkan yang ada dipikirannya saat ini.


"Aku tidak suka saat kamu mengatakan cinta padaku hanya saat ada Silvia. Aku merasa hanya sebagai pengalih perhatian agar Silvia tidak menggodamu lagi." Arga terkejut dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Alena. Dia bahkan sudah lupa kalau mengatakan mencintai isterinya saat ada Silvia. Namun, dengan cepat dia dapat menguasai diri dan tersenyum.


"Maafkan aku. Lagi pula memang yang kukatakan benar bukan. Aku mencintaimu," kata Arga dengan santai. Mendengar perkataan Arga seperti itu Alena malah merajuk.


"Apa-apaan itu! Kamu tidak ada romantisnya ya, Arga. Huh." Alena lalu berbaring dan memunggungi Arga. Arga hanya menghela napasnya, ya dia adalah pria yang tidak romantis. Tidak bisa dipaksakan bukan sifat seseorang. Arga membiarkan Alena berbaring saja, pikirnya mungkin wanita yang sedang hamil memang memiliki mood yang suka berubah-ubah. Jadi, tanpa memikirkan kelanjutan pernyataan cintanya, Arga malah ikut memejamkan mata sambil duduk. Dia sangat lelah dan ingin memejamkan matanya walau sesaat.


Alena yang merasa tidak ada suara dari Arga menahan kekesalan dalam hati. Dia pikir Arga aja memohon maaf dengan lebih baik, namun yang dia dapatkan malah Arga membiarkannya saja. Alena menoleh melihat suaminya itu, mata Arga terpejam tanda dia telah tertidur. Alena hanya mendengus.


"Huh, dasar pria tidak peka. Dia tidak mengerti cara memperlakukan wanita." Alena yang mendumal dengan suara keras menyebabkan tidur Arga terusik. Posisi Arga tertidur mamang bukan merupakan posisi yang baik, dia hanya memejamkan matanya sambil duduk.


"Ada apa lagi Alena?" tegur Arga yang saat ini sudah membuka matanya. Alena hanya memanyunkan matanya, yang bagi Arga sangat lucu. Pria yang akan menjadi seorang ayah itu memegang dagu Alena dengan gemas.


"Sayang kita belum bisa melakukan hal yang lebih dari ini." Perkataan Arga membuat Alena memelototkan matanya. Setelah melakukan malam pertama mereka memang Arga belum pernah absen dari kegiatan olahraga mereka.


"Dasar Mesum!" Alena menepuk pundak Arga dengan pelan. Dia malu dengan yang dikatakan oleh Arga.


"Yah, walaupun mesum aku adalah suami yang kau cintai." Dengan percaya diri Arga mengatakan bahwa dirinya dicintai Alena. Terbersit ide Alena ingin mengerjai suaminya.


"Kata siapa aku mencintaimu?" Perkataan Alena sontak membuat Arga kalang kabut. Dia menatap Alena dengan tajam.


"Apa maksudmu? Apa kamu masih menyukai mantan kekasihmu?" Pertanyaan Arga membuat Alena mengerinyit, mantan kekasih yang mana yang dibicarakan oleh Arga.


"Mantan kekasih? Siapa maksudmu?" Alena malah balik bertanya. Dia tidak mempunyai pikiran untuk menuju ke mantan kekasihnya, lagi pula dia sudah lama tidak berpacaran.


"Ya itu, mantanmu Dokter Yudha. Bahkan aku sudah mengirimnya jauh ke Kalimantan, tetapi kamu masih saja memikirkan dokter pengkhianat itu. Percuma aku memutasinya." Tanpa sadar Arga memberitahukan Alena bahwa dia adalah dalang dari kepindahan Yudha.


"Apa? Jadi karena kamu Yudha pindah?" Alena terkejut dengan perkataan Yudha. Dia tidak menyangka suaminya akan bertindak jauh seperti ini.


"Maafkan aku, aku tidak ingin pernikahan kita terus dibayangi masa lalu. Baik Yudha maupun Silvia tentu memiliki tempat di hati kita, namun aku ingin kita menatap masa depan tanpa adanya bayang-bayang dari keduanya." Terlanjur sudah tindakannya diketahui akhirnya Arga hanya bisa pasrah, terserahlah kalau isterinya ini marah dengan tindakannya. Dia hanya mengikuti instingnya untuk mempertahankan apa yang dimiliki.


"Ya, Aku juga tidak keberatan dengan tindakanmu. Lagipula aku juga tidak ingin kedua orang itu menjadi bayang-bayang di antara kita. I Love you." Alena mengatakan hal itu sambil tersenyum. Arga mendekatkan wajahnya kembali ke wajah Alena.


"Tuan, aku telah melaksanakan tugasmu. Upsss... Sorry." Ditengah tindakan dari Arga, Adam datang dan membuka pintu. Arga menjadi kesal dengan tingkah sekretarisnya itu.


"Dasar Adam!!!" teriak Arga.