
Setelah Arga memberikan mandat kepada Adam untuk mengumpulkan seluruh karyawan di Aula karena dia akan mempublikasikan hubungannya dengan Alena agar tidak adalagi pembicaraan sumbang mengenai isterinya. Adam dengan cepat mengatur acara tersebut dan membuat pengumuman yang disebarkan di semua karyawan PT Wijaya.
Pengumuman telah disebarkan, sebelum para karyawan melakukan aktivitasnya seperti biasa. Mereka semua dikumpulkan di Aula tempat biasanya diadakan acara. Para karyawan bingung mengapa mereka dikumpulkan di dalam Aula, padahal tidak ada acara kantor yang membutuhkan kehadiran semua orang.
"Van, untuk apa kita dikumpulkan di tempat ini?" Tanya Candra yang berjalan beriringan dengan Vania. Sebagai satu divisi di finance tentunya mereka sering bersama karena memang dibutuhkan kolaborasi dalam satu tim.
"Entahlah aku tidak tahu, Can." Vania menjawab pertanyaan Candra sambil menggedikkan bahunya tanda dia memang benar-benar tidak tahu alasan mereka dikumpulkan di tempat ini. Mendengar jawaban Vania, Candra terdiam dan dia menduduki kursi sebelah Vania.
Ketika semua karyawan telah duduk di tempat mereka masing-masing. Datanglah Adam terlebih dahulu yang langsung menuju mimbar. Pria tersebut memakai setelan jas abu-abu yang senada dengan warna celananya. Semua mata tertuju pada pria yang masih single itu.
"Selamat pagi, semua." Adam mengawali dengan menyapa para karyawan. Dia melihat ke sekeliling para karyawan yang duduk di hadapannya.
"Selamat pagi, pak." Serempak seluruh karyawan membalas sapaan dari sekretaris Arga yang tampan itu. Para karyawan yang berjenis kelamin perempuan langsung sumringah saat melihat Adam di depan matanya. Kapan lagi bisa cuci mata melihat yang tampan.
"Kalian semua dikumpulkan di tempat ini tidak tanpa alasan. CEO kita Tuan Arga Satria Wijaya akan membuat sebuah pengumuman, saya harap Anda semua menyimak hal yang disampaikan oleh Tuan Arga." Setelah Adam mengatakan hal tersebut datanglah Arga bersama Alena yang berjalan beriringan. Semua mata menuju sepasang suami isteri tersebut, beberapa orang yang mengenal Alena melototkan matanya di antaranya ada juga yang berbisik membicarakan Alena.
"Wah, kira-kira hal apa yang akan disampaikan oleh Tuan Arga. Apa benar Alena merupakan simpanannya? Atau justru Alena adalah kekasih Tuan Arga," bisik salah satu karyawan wanita kepada temannya yang duduk di sampingnya.
"Hmm, untuk selama ini aku bersikap baik kepada Alena. Aku tidak ingin mengambil risiko yang dapat menghancurkan karirku seperti Anggi dan Intan." Tentu saja kejadian yang menimpa Anggi dan Intan telah diketahui oleh seluruh karyawan. Hal tersebut bukanlah sebuah kejadian yang dapat ditutupin dengan mudah. Bahkan kekuasaan Arga tidak dapat menenggelamkan rumor yang berhembus di antara karyawan.
"Selamat Pagi," Sapa Arga kepada seluruh karyawan yang berada di hadapannya saat ini.
"Selamat Pagi, Pak," jawab seluruh karyawan serempak sambil menatap atasan yang usianya masih lebih muda dibandingkan dengan beberapa karyawan.
"Saya selaku CEO PT Wijaya mengucapkan atas kedatangan kalian di aula ini. Saya ingin meluruskan beberapa hal yang mungkin telah berkembang ke arah yang tidak baik. Di samping saya berdiri seorang yang sangat special dan berarti dalam hidup saya." Arga terdiam sejenak, dia melihat reaksi dari pada karyawan yang beragam. Ada yang tersenyum, ada yang memandang Alena dengan senyuman yang sinis, ada juga yang bernapas lega karena selama ini bersikap baik dengan Alena dan tidak memiliki masalah dengan wanita itu.
"Ya, tentu saja wanita di samping saya merupakan wanita yang sangat berarti dalam kehidupan saya karena Alena merupakan isteri sah saya." Lagi-lagi berbagai ekspresi terlihat dari wajah para karyawan, namun kali ini tidak ada lagi yang memandang sinis Alena. Mereka terkejut sekilas tetapi langsung menetralkan wajah mereka. Ternyata Alena adalah isteri sah Tuan Arga, rumor yang berhembus tersebut 100% salah kecuali kedekatan Alena dan Arga.
"Tentu kalian bertanya-tanya alasan saya belum mempublikasikan hubungan kami, sehingga kalian dapat berasumsi dengan pikiran kalian masing-masing. Namun, menurut saya hal tersebut merupakan privasi yang tidak berhak kalian tahu. Untuk kejadian yang ada akhir-akhir ini saya menyayangkan tindakan yang terjadi kepada isteri saya. Kejadian tersebut membuktikan bahwa kalian yang telah direkrut dengan cukup ketat sehingga menjadi bagian dari perusahaan ini ternyata tidak cukup baik dalam mengontrol emosi." Beberapa karyawan menunduk saat Arga mengucapkan hal tersebut. Mereka menyesali mempercayai rumor yang beredar, bahkan pemecatan Anggi dan Intan telah menimbulkan kebencian di hati mereka terhadap Alena yang merupakan korban dari keduanya.
"Kedepannya saya akan memberikan peraturan dan sanksi. Saya tidak ingin ada lagi kasus perundungan, penganiayaan, dan pencemaran nama baik di perusahaan ini. Saya akan menindak tegas setiap orang yang melanggar peraturan di perusahan ini." Arga masih menatap tajam seluruh karyawannya, dia berharap dengan perkataannya kali ini dapat membuat seluruh karyawannya selain memiliki otak yang cerdas juga memiliki sikap yang baik. Hukuman dan sanksi tentunya diperlukan seiring dengan diberlakukannya peraturan yang baru.
"Baiklah, sekian pengumuman yang dapat saya sampaikan, saya ingin kedepannya kalian semua dapat bekerja dengan baik dan profesional." Ucapan Arga tersebut mengakhiri pengumuman kali ini. Tidak ada sesi tanya jawab karena ini murni pemberitahuan tentang Alena yang merupakan isteri sahnya serta konsekuensi yang akan mereka tanggung bila kedapatan terjadi kasus-kasus serupa yang dialami oleh Alena.
Di sisi lain, seorang wanita bersama mamanya sedang mengatur rencana dan siasat agar dapat menyingkirkan Alena dari hidup Arga.