
Alena yang sudah lebih dahulu melenggang menuju kamar mereka menghentak-hentakkan kakinya. Saat dia ingin menutup pintu kamarnya, Arga menahan pintu tersebut. Alena yang melihat Arga menyusulnya hanya diam lalu berjalan menuju walk in closet untuk mengganti bajunya.
"Alena, kamu kenapa? Apa masih sakit?" tanya Arga dari luar walk in closet. Alena tidak menjawab pertanyaan Arga.
"Len, Alena," panggil Arga kembali, tetapi Alena belum menjawabnya juga. Sehingga, Arga hanya berdiri di depan walk in closet.
Alena keluar dari walk in closet lalu hanya mendiamkan Arga dan terus menuju tempat tidur. Arga yang melihat Alena memakai lingerie sexy berwarna merah terpana dengan penampilan Alena. Lingerie sexy itu sangat menggoda imannya. Sejak kejadian malam pertama mereka saat Alena memakai lingerie hadiah dari Mommy Leona, Arga memang sudah menahan sekeras mungkin untuk tidak menerkam Alena saat itu. Namun berbeda halnya dengan saat ini, dirinya dan Alena bahkan telah sering berciuman. Akan tetapi, untuk melakukan hal yang lebih dari ciuman Arga tentu perlu izin terlebih dahulu dari Alena meskipun itu merupakan halnya sebagai seorang suami.
Arga mendekati Alena yang sudah berbaring dengan miring. Alena memejamkan matanya, Arga tahu bahwa wanita di sampingnya ini hanya pura-pura tertidur.
"Alena, kamu kenapa? Ada yang sakit? Atau apa? Ku mohon bicaralah, jangan hanya diam. Aku tidak suka didiamkan." Arga dengan perlahan berbicara dengan Alena yang sedari tadi masih diam membisu. Saat berbicara dengan Alena, mata Arga tertuju pada tubuh Alena yang terlihat sangat jelas karena dia hanya mengenakan lingerie.
"Sial. Aku benar-benar tidak fokus berbicara dengan Alena." batin Arga dalam hati yang sedari tadi tidak bisa mengalihkan matanya dari tubuh sexy di depannya.
"Hey. Apa yang kau lihat." Alena menggeplak kepala Arga dengan sedikit keras. Membuat pria di depannya mengaduh.
"Alena, kamu sangat tidak sopan kepada suami. Tidak boleh isteri menggeplak kepala suami. Aduh, masih sakit." Arga mengaduh sambil mengusap-usapkan kepalanya dengan tangan. Melihat hal tersebut Alena merasa bersalah, dia ikut mengusap kepala Arga dan terpampanglah bukit indah Alena yang membuat Arga melengguhkan ludahnya. Alena benar-benar menguji kesabarannya.
"Maaf, maaf. Masih sakit kah? Perasaan aku tidak melakukannya dengan keras." Alena masih mengusap-usapkan tangannya ke kepala Arga. Arga memegang tangan Alena lalu menaruhnya ke bawah. Lalu Arga menatapnya dengan intens, ditatap seperti itu wajah Alena merona dan memerah.
"Ya ampun, aku benar-benar lupa berpamitan kepada Mommy dan Kakek. Itu semua karena kamu!" Alena mengucapkan hal tersebut sambil menunjuk-nunjuk Arga. Arga hanya mengerutkan dahinya yang menandakan dia keheranan dengan tuduhan dari Alena. Apa yang dia lakukan? Dia tidak merasa melakukan apa pun? Bukankah Alena yang tiba-tiba meninggalkan ruang tamu begitu saja tanpa pamit? Kenapa malah mengalahkan Arga?
"Memangnya aku melakukan apa? Aku tidak melakukan apa pun." tanya Arga yang masih bertanya-tanya kepada Alena.
Alena mendengus lalu segera membalik badannya, dia ingin tidur saja daripada menghadapi pria yang tidak peka seperti Arga.
"Dasar, suami tidak peka!" Dikatai seperti itu membuat Arga memutar otaknya dan mengulang kembali kejadian hari ini sejak kedatangan Helga dan Silvia memang perilaku Alena menjadi lebih banyak diam padahal Alena merupakan orang yang lumayan banyak berbicara dan dapat mencairkan suasana.
Tiba-tiba seperti ada lampu yang berpijar di otak jenius milik Arga, Arga telah mampu mengartikan sikap Alena yang diam dan seperti kesal. Arga melihat Alena yang memunggunginya dan berpura-pura tertidur. Arga segera memeluk Alena dari belakang dan membisikkan satu kalimat yang membuat Alena kembali kesal.
"Apakah kamu cemburu?" tanya Arga yang membisikkan kalimag tersebut tepat di telinga Alena. Alena yang dibisikkan kalimat tersebut membelakakan matanya, jantungnya juga berdebar dengan cepat.
"Apakah benar aku cemburu?" batin Alena yang bahkan tidak mengerti alasan dia dapat berperilaku demikian. Alena tindak menyukai kenyataan kalau Arga memiliki kekasih di masa lalu yang terlihat sangat cantik. Rasanya kesal sekali melihat mantan kekasih Arga itu.
"Betul kan? Kamu cemburu kepada Silvia. Aku tahu kamu belum tertidur, kamu masih dapat mendengar perkataanku." Arga terus membisikkan kalimat tepat di telinga Alena. Kali ini, Arga menggigit pelan telinga Alena yang membuat Alena tidak lagi bisa berpura-pura tertidur. Alena yang digigit mengaduh dan ingin melepaskan pelukan dari belakang yang dilakukan oleh Arga. Namun, hal tersebut malah membuat keduanya berhadapan dan Arga menatap Alena kembali dengan intens.
"Ap..." Belum sempat Alena berbicara dengan lengkap. Arga sudah membungkam bibir Alena dengan bibirnya.