
"Jangan!" Alena mengatakan hal tersebut dengan berteriak.
Teriakan Alena tersebut membuatnya ditatap oleh tiga orang yang berada di ruang rawat Alena. Arga mengerinyitkan dahinya, terkadang dia tidak habis pikir dengan Alena. Terlalu baik juga tidak baik karena kebaikan itu dapat dimanfaatkan oleh orang lain.
"Maksudku tidak perlu lapor polisi. Cukup menghukum biasa saja," jelas Alena yang masih ditatap oleh tiga orang tersebut yang malah menatap Alena dengan heran. Seharusnya Alena senang kedua orang yang telah melukainya mendapat hukuman yang setimpal.
"Hukuman biasa seperti apa hmm?" tanya Arga sambil memincingkan alisnya ke atas.
"Ya seperti surat peringatan mungkin." Tampak Alena berpikir sebentar sebelum mengatakan usulnya.
"Lalu, mereka bisa melakukan perbuatan ini kepadamu lagi atau mungkin kepada karyawan lain?" Wajah Alena nampak terkejut, dia tidak bisa berpikir hingga ke arah sana. Menurutnya, surat peringatan mungkin sudah dapat menjadi teguran bagi kedua orang tersebut.
"Aku akan memberikan mereka hanya surat peringatan, tetapi kamu tidak boleh lagi bekerja." Perkataan Arga sontak membuat Alena melebarkan bola matanya. Dia masih ingin bekerja, walaupun kerap kali Mommy Leona menyuruhnya untuk tetap di rumah saja.
"Tidak. Aku tetap ingin bekerja," ujar Alena yang tetap keras kepala.
"Kalau begitu, aku akan tetap memproses hukum kedua orang yang menyebabkan keadaanmu seperti ini. Aku tidak ingin ada kemungkinan lain yang terjadi kedepannya." Sama seperti Alena, dia juga bersikeras dengan pendapatnya.
"Tetap saja menurutku itu berlebihan, tolong hukum saja mereka dengan hukuman yang ringan." Alena memohon kepada Arga yang akhirnya menghela napasnya tanda menyerah dengan permintaan istrinya tersebut.
"Baiklah.Lakukan saja sesuai prosedur perusahaan!" perintah Arga kepada Adam yang sedari tadi menyimak perdebatan keduanya.
"Baiklah, Tuan," jawab Adam dengan singkat. Setelah itu, Adam dan Vania berpamitan pulang karena hari memang sudah sangat larut. Vania berjanji besok dia akan mengunjungi Alena kembali.
Kepergian mereka berdua menimbulkan keheningan di antara Alena dan Arga. Alena masih belum dapat tertidur, dia masih saja menatap langit-langit kamar.
"Tidurlah, Alena. Kau harus tidur." Arga yang telah pindah duduk di kursi di samping tempat tidur Alena memintanya untuk tidur. Arga masih memegang ponselnya dan mengecek beberapa pekerjaannya.
"Aku tidak bisa tidur." Alena seperti gelisah dan hanya miring ke kanan dan kiri.
"Kamu kenapa?" tanya Arga yang heran dengan tingkah Alena.
"Aku tidak bisa tidur. Tidak tahu kenapa," jawab Alena.
"Apa aku harus tidur di sampingmu agar kamu bisa tertidur?" Sontak ucapan Arga tersebut membuat wajah Alena merona. Hubungan mereka memang sudah baik namun mereka hanya sebatas mengenal satu sama lain. Arga sering kali menggoda Alena dengan rayuan yang jelas-jelas membuat Alena terkadang salah tingkah.
Tidak adanya jawaban dari Alena membuatnya menaruh ponselnya di atas nakas lalu dia bangkit dari tempat duduknya. Arga ingin membaringkan tubuhnya di samping Alena.
"Ya mau menemani kamu tidurlah. Kamu tidak bisa tidur kan kalau tidak dipelukku." Lagi-lagi Arga menggodanya. Alena melengos dan memiringkan tubuhnya ke kiri. Tentu saja Arga dengan mudah memeluknya dari belakang.
"Arga, kamu apa-apan ah. Nanti kalau ada yang masuk bagaimana?" Alena mengatakan hal tersebut seraya ingin melepaskan tubuhnya dari pelukan Arga.
"Ya tidak apa-apa. Kita kan suami istri. Sudah kamu tidur saja ya," ucap Arga sambil memejamkan matanya. Alena melihat Arga yang berada di belakangnya terpejam dan napasnya berada tepat di tengkung Alena. Akan tetapi, hal tersebut membuat Alena tenang lalu perlahan dia menuju alam mimpi.
***
Keesokan harinya, suasana di kantor seperti biasa terlihat sibuk. Di sudut ruangan pantry, terdapat kedua orang sahabat sedang berbincang sambil menikmati teh yang mereka buat pagi ini.
"Anggi, bagaimana ya nasib Alena adakah yang menemukannya?" Intan bertanya kepada Anggi, semenjak mereka meninggalkan Alena di kamar mandi dia dibayang-bayangi oleh perasaan bersalah.
"Biar sajalah, lagipula keadaan kantor tenang begini. Jadi, biarkan saja dia berada di sana atau dia memang sudah ditolong. Pasti ada yang ke toilet kan setelah kita keluar." Perkataan Anggi yang santai tersebut membuat Intan sedikit bergidik. Sahabatnya ternyata dapat berpikir sekejam itu.
"Kasian tapi Alena," ucap Intan sambil menyeruput tehnya.
"Yah, siapa suruh dia bersikap menyebalkan. Memang dia adalah simpanan bos kita sepertinya. Buktinya dia dapat bersikap sombong seperti itu," cerocos Anggi yang akhirnya terhenti karena melihat Vania datang ke pantry.
"Oh, kalian berdua dari tadi ada di sini. Kalian dipanggil oleh Tuan Adam, sekretarisnya Tuan Arga di ruangannya." Vania mengucapkan tersebut sambil memperhatikan Anggi dan Intan.
Sebenarnya dari tadi, dia telah mendengarkan perkataan kedua orang tersebut. Ingin sekali rasanya dia membalas perbuatan mereka, namun Adam sudah memperingatkan agar dia terlihat biasa saja saat berhadapan dengan kedua orang tersebut.
"Tuan Adam? Untuk apa beliau memanggil kami?" tanya Anggi yang terlihat panik. Anggi panik karena Adam tidak pernah turun tangan dan memanggil pegawai secara khusus hanya jika terdapat kasus tertentu saja yang membuat Sekretaris CEO mereka tersebut turun tangan langsung.
"Tidak tahu. Mungkin kalian melakukan kesalahan." Ucapan Vania tersebut sontak membuat kedua orang tersebut pucat pasi, pasalnya mereka teringat perbuatan yang telah dilakukannya pada Alena.
"Sudah sana kalian pergi. Jangan membuat Tuan Adam menunggu!" Vania memperhatikan kedua orang tersebut sambil tersenyum mengejek.
Anggi dan Intan dengan cepat berlalu dari pantry lalu menuju ke ruangan Adam. Baru kali ini keduanya menuju ke lantai dua puluh. Perasaan keduanya tentu saja berdebar tidak karuan, berharap apa yang mereka pikirkan tidak terjadi. Mereka berdua mengetuk pintu ruangan Adam.
"Masuk." Terdengar perkataan dari dalam ruangan dan kedua orang tersebut membuka pintu ruangan.
Keduanya melihat Adam yang sangat cool dengan kacamata yang semakin menambah pesona sekretaris tersebut. Namun, ketampanan tersebut seperti tertutup dengan wajah dingin dan tegas yang terpancar sehingga membuat kedua orang yang baru saja memasuki ruangan Adam meneguk ludahnya sendiri. Bertemu dengan Adam seperti bertemu dengan algojo yang siap menghukum tindakan mereka berdua yang melukai isteri dari Tuannya.