Blind Date With CEO

Blind Date With CEO
Melihat Adam



Tidak bisa menghubungi Adam 2 Minggu ini membuat Vania sedikit gelisah. Kemanakah Adam? Bila ada tugas di luar kota seharusnya dia menghubungi Vania terlebih dahulu agar tidak merasa khawatir dengan keadaan Adam. Dia sudah menanyakan kepada bagian HRD dan jawabannya Adam sedang cuti. Hanya saja dia segan bertanya kepada Alena karena takut dikira memanfaatkan kedekatannya dengan isteri dari tuan Arga.


"Huek Huek." Vania memuntahkan cairan kuning saat pagi hari setelah dia terbangun dari tidurnya.


Rasa mual di pagi hari terus melandanya karena itu hari ini dia ingin memeriksakan dirinya ke dokter. Apa pun yang terjadi dia harus siap dengan berbagai kondisi yang kemungkinan dia alami. Vania sebenarnya khawatir bila memang dia hamil, Adam tidak dapat dihubungi membuatnya gundah gulana.


"Aku harus memeriksakan dulu keadaanku ke dokter bila seperti ini terus bisa kacau semua aktivitasku." Sambil mengatakan hal tersebut, Vania masih berusaha menghubungi Adam.


"Halo Mas Adam, Kamu kemana saja? Sudah 2 Minggu ini aku tidak bisa mengubungimu." Vania langsung menghujani pertanyaan ketika telepon tersebut terangkat.


"Halo, maaf Mas Adam sedang di kamar mandi sehingga dia tidak dapat mengangkat teleponnya. Dari tadi ponselnya berbunyi, aku berinisiatif mengangkatnya," jawab suara seorang perempuan yang terdengar begitu lembut.


"Kamu siapa?" tanya Vania dengan penasaran, dia tidak pernah tahu Adam dekat dengan seorang wanita. Selama ini dia hanya melihat kekasihnya sibuk dengan pekerjaannya di kantor dan pulang juga selalu larut malam.


"Saya Clara, teman dekat Adam." Mendengar jawaban wanita yang ada di seberang telepon, Vania terdiam dia tidak pernah mengetahui tentang Clara bahkan tentang teman dekat wanita yang dimilikinya.


"Apa yang kamu lakukan Clara?" terdengar suara sayup yang Vania yakin itu adalah milik Adam. Adam yang mengambil ponsel yang masih tersambung dengan Vania seketika tersentak. Berani sekali Clara mengangkat telepon dari kekasihnya?


"Halo, Mas Adam kamu di mana? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Dengan panik Adam mematikan komunikasi antara mereka.


"Mas Adam! Mas Adam! Ah Si*l!" Vania kesal dengan Adam yang terkesan menghindarinya, dia jadi menangis karena Adam tidak ingin berbicara dengannya padahal komunikasi mereka telah tersambung


Vania terus menangis hingga tanpa sadar dia tertidur. Vania yang tidak keluar dari kamarnya tidak dicurigai oleh keluarganya karena mereka melakukan aktivitasnya masing-masing. Saat ditanya oleh mamanya dari luar kamar, dia hanya berkata sedang sakit karena datang bulan. Mama Heni memaklumi hal tersebut karena memang Vania sering kali sakit saat datang bulan.


...🍃🍃🍃...


"Mengapa kau berani mengangkat telepon dari Vania?" Adam sudah menceritakan tentang Vania kepada Clara karena hal itu Clara berani mengangkat telepon yang berasal dari kekasih Adam.


"Aku tidak ingin menyakitinya. Lagi pula aku tidak dapat terus menemanimu. Aku sudah menemanimu 2 Minggu ini dan aku harus menjalani aktivitasku seperti biasa. Tindakanmu ini malah menjadikanku seperti pria yang mengabaikan kekasihnya." Adam menyesali tindakannya tidak berbicara terlebih dahulu kepada Vania, tetapi dia ingin menjelaskan secara langsung kepada calon isterinya itu kalau dia hanya menemani Clara 2 Minggu ini dan akan tetap melanjutkan pernikahan mereka.


"Tapi kamu sudah mengatakan ingin menemaniku berjuang!" Clara terus memaksa Adam untuk menemaninya di rumah sakit.


"Maaf Pak, saat ini jadwal untuk Bu Clara periksa." Perdebatan mereka dihentikan dengan perkataan seorang suster. Akhirnya Adam mengantarkan Clara untuk menuju ke ruangan periksa untuk menjalani kemoterapi.


...🍃🍃🍃...


Vania yang terbangun saat siang hari langsung merasakan pusing, dia juga kelaparan karena belum makan dari pagi hari. Akhirnya dia bersiap untuk keluar sekaligus ingin memeriksakan keadaan dirinya yang sudah sangat lemas. Vania makan siang di restoran cepat saji, namun setelah makan dia terus mengeluarkan makanan yang sudah dia makan. Dia memuntahkan semua makanannya, kemudian dengan kondisinya yang lemas dia melakukan mobilnya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, dia langsung saja ke ruang UGD. Saat dia ingin menuju ruang UGD, dia melihat postur tubuh seorang pria yang sangat dia kenali. Pria yang sudah 2 Minggu ini tidak dapat dia hubungi. Pria yang sangat dia rindukan.


"Mas Adam! Mas!" Vania meneriaki Adam yang sedang mendorong seorang wanita yang duduk di kursi roda.


Adam melihat Vania yang sedang meneriakinya, dia melihat wanita itu sangat pucat dan memegangi perutnya.


"Vania, mengapa kamu ada di sini?" Adam bertanya kepada Vania yang sudah berdiri di dekatnya.


"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, apa yang kamu lakukan di rumah sakit ini? Siapa wanita ini?" Vania bertanya dengan menatap Adam dengan sengit.


...🍃🍃🍃...


Sebelum Author update bab selanjutnya, Author punya rekomendasi bacaan yang seru. Yuk, segera kepoin dan baca karya temanku.