
Arga membungkam bibir Alena, berada dibawah pelukan Arga membuatnya terdiam. Namun Arga menindih bagian perut Alena sehingga perempuan itu mengaduh dan menghentikan kegiatan mereka.
"Aw.." Alena meringis merasa kesakitan perutnya ditindih oleh Arga. Arga yang melihat ringisan Alena sedikit panik.
"Ada apa? Mana yang sakit?" Arga memindahkan posisi tubuhnya, dia berguling ke samping Alena sambil menatap Alena. Pria tersebut memindai setiap jengkal tubuh Alena yang malah membuatnya tidak dapat menahan hasrat yang sedari tadi sudah timbul saat melihat Alena menggunakan lingerie yang sexy ini. Arga meneguk salivanya sendiri melihat tubuh indah di hadapannya.
"Sial. Aku sudah tidak tahan lagi, padahal Alene sedang sakit," batin Arga yang tidak dapat didengar oleh Alena.
"Perutku sedikit sakit. Sekarang sudah tidak apa-apa." Alena tersenyum menatap pria di sebelahnya. Arga hendak bangkit dari tempat tidur karena merasa tidak mungkin mereka melakukan hal tersebut saat ini, Alena masih sakit. Selain, Arga tidak tega dia juga tidak akan melakukan hubungan suami isteri bila Alena tidak menginginkannya.
Saat hendak bangkit dari tempat tidur, tangan Alena memegang Arga hendak menghentikannya untuk bangkit.
"Kamu mau kemana?" tanya Alena.
"Hmm, aku akan tidur di sofa saja malam ini. Aku takut menyakitimu lagi," jawab Arga yang sekeras mungkin mengendalikan dirinya.
"Tidakkah kamu menginginkanku?" Alena bertanya kepada Arga. Dalam pikirannya Arga benar-benar tidak menginginkan Alena. Dari awal pernikahan mereka, Arga selalu bersikap cuek bila mereka sudah berada di kamar.
"Pikiran dari mana itu?" Arga malah bertanya balik dan tidak menjawab pertanyaan Alena.
"Aku hanya..... " Lagi-lagi Arga membungkam bibir Alena dengan ciumannya yang memabukkan. Alena terbuai dengan kelihaian ciuman dari Arga. Arga melakukan hal tersebut dengan lembut dan perlahan takut melukai Alena.
"Bolehkah?" Arga meminta izin terlebih dahulu kepada Alena. Alena yang sudah terbuai dengan kecupan dari Arga mengangukkan kepalanya cepat. Terjadilah malam syahdu antara mereka sekaligus merupakan malam pertama bagi pasangan suami isteri ini.
Pagi ini telah duduk Kakek Danu dan Mommy Leona di meja makan, mereka masih menunggu Arga dan Alena yang sedari tadi belum turun dan datang ke ruang makan ini.
"Ke mana Alena dan Arga? Tumben mereka belum bangun," tanya Kakek Danu yang sedang menikmati kopi paginya.
"Hmm, aku tidak tahu yah. Coba aku minta pelayan memanggilkan mereka terlebih dahulu." Setelah mengatakan hal tersebut, pelayan segera menuju ke kamar Arga.
Pelayan tersebut mengetuk pintu kamar Arga dan Alena dengan pelan dan memanggil majikan mereka yang sepertinya masih berada di alam mimpi.
"Tuan Arga dan Nyonya Alena. Sudah ditunggu oleh Tuan Besar dan Nyonya Leona di bawah. Sarapan telah siap." Pelayan tersebut masih berada di depan daun pintu kamar Arga. Ingin mengetuk pintu yang berada di depannya, namun terdengar suara ******* dari dalam kamar Arga. Wajah pelayan tersebut mematung seketika dan kemudian memerah dan buru-buru pergi dari depan pintu kamar Arga.
Pelayan tersebut akhirnya melaporkan hal tersebut kepada Mommy Leona yang ditanggapi dengan santai oleh Mommy Leona.
"Baiklah kalau begitu. Biarkan saja dahulu. Nanti siang kalau belum keluar juga. Kamu ketuk kembali pintu kamar Arga dan bawa makanan ke kamar Arga," ujar Mommy Leona sambil tersenyum sendiri. Kakek Danu yang melihat Mommy Leona tersenyum sendiri heran, dia penasaran dengan hal yang membuat anaknya ini senyum-senyum tidak jelas.
"Ada apa Leona, Mengapa kau tersenyum terus dari tadi?" tanya Kakek Danu dengan wajah keheranan.
"Ayah, sebentar lagi mungkin kita akan mendengar suara tangisan bayi. Ayah akan menjadi kakek buyut," ucapan tersebut ditanggapi dengan senyuman di wajah Kakek Danu.
"Ya Tuhan. Jadi, hal tersebut yang membuat mereka belum datang untuk sarapan pagi? Dasar anak itu. Alena baru saja sembuh dia malah membuat cucu menantu kesayanganku lelah." Mendengar Omelan Kakek Danu, Mommy Leona hanya tertawa dan membayangkan akan menimang cucunya di masa depan.